Kekerasan Cinta?

Salah satu bahaya hirarki ialah bahwa jalur perhatian dan pelayanan tertuju pada kepentingan mereka yang berposisi tinggi, alih-alih kepada mereka yang berposisi rendah. Hal ini berpotensi menghambat perwujudan kepentingan bersama, untuk tidak bawa-bawa istilah Kerajaan Allah, apalagi jika mentalitas “silence and secrecy” (begitu kata superior saya) terpelihara baik-baik. Yang sekarang ini sedang menghantam Gereja Katolik, yang jadi makanan empuk media untuk meningkatkan rating, ialah soal kekerasan (seksual) terhadap anak, sosok yang dalam teks bacaan hari ini justru jadi sentral.

Saya teringat pada cerita teman saya ketika mengajar di wilayah Indonesia timur ketika Orde Baru masih berjaya. Dia galau karena rupanya di sana budaya kekerasan sudah sedemikian lumrah. Kalau tak ditempiling atau ditampar, anak didiknya tak akan patuh untuk masuk dalam dinamika pembelajaran. Padahal, dia tak pernah hidup dalam kultur kekerasan seperti itu. Jalan keluarnya apa, itu yang saya tak ingat ceritanya dulu, karena poin yang saya ingat hanya bahwa di sana budaya kekerasan itu begitu populer. Agak ke barat sedikit, menyeberang pulau, hal serupa juga umum terjadi: anak dalam posisi terlemahnya dan bisa jadi korban kesewenang-wenangan orang tua. Ayah yang hobi mabuk dan judi, dan anak yang harus tunduk pada orang tua, dan kekerasan adalah santapan harian.

Saya tidak hendak mengatakan bahwa semakin ke barat kultur kekerasan itu absen, karena sebagaimana cinta itu universal, kekuatan yang melawannya juga universal. Salah satu yang menarik dari ajaran Guru dari Nazareth ialah bahwa beliau membuat aneka macam penjungkirbalikan, inside-out atau upside-down. Ia melakukannya bukan supaya anarki berjaya, melainkan supaya struktur kehidupan ini dapat berkelanjutan secara lebih manusiawi. Dengan kultur kekerasan terhadap anak tadi ya dunia ini berjalan terus sampai kiamat, tetapi jalannya terlalu kejam untuk mereka yang kecil dan lemah.

Lha memangnya kenapa toh kalau hidup ini mengikuti prinsip survival of the fittest? Bukankah memang alam ini punya mekanisme untuk melakukan seleksinya sendiri? Betul, tetapi bahkan konon Charles Darwin sendiri mengatakan bahwa yang lolos seleksi alam bukanlah dia yang paling kuat atau paling intelek, melainkan dia yang paling responsif terhadap perubahan. Dalam dunia bisnis pun nama besar akan bertahan lama sejauh kemampuan adaptasi terhadap perubahannya tinggi. Bukankah itu juga yang sebetulnya dimaksudkan dengan Kerajaan Allah? Yang terbesar di dalamnya justru adalah mereka yang mendisposisikan diri seperti anak, yang sangat potensial menjadi gugatan bagi orang-orang besar.

Memang kalau perhatian orang sungguh tertuju pada kenyataan anak-anak yang begitu lemah, ia sungguh tergugat, kecuali jika ia tak pernah makan Kitab Suci seperti diinsinuasikan dalam bacaan pertama. Bagi orang yang ndhèrèk Gusti, bayi yang dibuang, aborsi, kekerasan terhadap anak, baik seksual maupun nonseksual, bisa jadi tamparan keras untuk koreksi diri: apakah pilihan-pilihan hidupnya didasarkan pada pelayanan bagi yang lemah atau aktualisasi prestasi untuk menguasai mereka yang lemah. Pelayanan terhadap kaum lemah, yang justru bisa meningkatkan keberlanjutan hidup manusiawi, tak pernah mengambil wujud kekerasan. Semakin tinggi unsur kekerasan, semakin enggan cinta menampakkan diri.

Tuhan, semoga cinta-Mu semakin dapat kami hidupi dengan gembira. Amin.


SELASA BIASA XIX A/2
Pw S. Klara dari Assisi
11 Agustus 2020

Yeh 2,8-10;3,1-4
Mat 18,1-5.10.12-14

Selasa Biasa XIX B/2 2018: Ti Voglio Bene
Selasa Biasa XIX C/2 2016: Jagoan Kalah Dulu
Selasa Biasa XIX A/2 2014: Jangan Mentang-mentang Ya

1 reply

  1. kasian ya, kekerasan (yang meng-atasnamakan) cinta (atau kebaikan komunal, atau nama baik, atau Tuhan), padanan katanya mmg sudah kontradiksi.
    itu bukan cinta, rm, karena melahirkan tindak yang lack of gratitude dan appreciation. kepentingan diri lah yang akhirnya mendominasi, yang menganggap orang lain sebagai sumber masalah.
    padahal runutnya, dari keteladanan cinta vertikal kpd mns, (Cinta yang memberi panas matahari dan udara pada semua, secara gratis), yang menurunkan cinta horisontal, jd actually you don’t fall in love, you give love (an action).

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s