Terlambat Mencinta?

Terlambat biasanya dihubungkan dengan waktu, dan dengan demikian, juga dengan ruang. Kalau Anda terlambat mengikuti pertemuan virtual, yang bisa diikuti dari tempat mana pun, itu berarti Anda terlambat bergabung di ruang virtual. Begitu pula halnya dengan aneka macam deadline yang dibikin orang, pasti berisiko pada suatu keterlambatan. Yang bikin deadline memang biasanya malah manusia. Pencipta manusia, sejauh saya tahu, tak pernah bikin deadline. Sudah saya singgung kemarin kan bahwa deadline kiamat itu yang bikin manusia sendiri. Maka, kategori terlambat juga hanya ada di kepala manusia.

Tokoh yang diperingati Gereja Katolik hari ini, Santo Augustinus, pernah mengungkapkan kegalauan hatinya dengan kategori keterlambatan ini: terlambat aku mencintai-Mu. Ya, beliau ini memang pada masa mudanya ancur, relasi dengan bapak ibunya diwarnai pemberontakan, moralitasnya gak karuan, termasuk dalam dimensi seksualitasnya. Baru pada usia tiga puluhan tahun, Augustinus memalingkan hidupnya kepada Allah, setelah aneka kecemerlangan hidup dan kekacauan yang dibuatnya. Dalam refleksinya itulah Augustinus menilai diri terlambat mencintai Allahnya.

Saya tak hendak bersilat lidah dengan Santo Augustinus mengenai refleksinya dengan kategori keterlambatannya. Sudah jelaslah bahwa keterangan ‘terlambat’ dalam benaknya dihubungkan dengan deadline yang menurutnya semestinya diletakkan pada tahun-tahun kehidupannya sebelum 386. Artinya, dalam benak beliau, seharusnya ia sudah sejak awal mencintai Allahnya, tetapi karena pertobatan itu baru terjadi tahun 386, ia melihatnya sebagai suatu keterlambatan untuk mencintai Allahnya. Apakah mencintai Allah itu punya deadline? Apakah ada kata ‘terlambat’ untuk mencintai Allah?

Mari lihat teks bacaan hari ini mengenai lima gadis bijaksana dan lima gadis bodoh. Yang bijaksana punya persediaan minyak untuk pelitanya, yang bodoh tak punya. Kedatangan mempelai rupanya lebih lama daripada yang seharusnya dijadwalkan sehingga pelita lima gadis bodoh itu sudah tak punya dukungan bahan bakar. Ketika mereka meminta cadangan kepada lima gadis bijaksana, mereka diminta membeli minyak. Persis pada saat mereka membeli minyak itulah mempelainya datang. Ruang pesta ditutup, dan lima gadis bodoh itu tiba.

Dalam kategori berpikir kita, manusia, lima gadis bodoh itu terlambat. Akan tetapi, betulkah mereka terlambat? Saya lupa apakah pernah saya bagikan di sini pengalaman melihat bokong kereta api dari Roma ke Venezia. Tidak ada ampun lagi: tiket hangus, dan saya tak bisa bernegosiasi dengan kereta cepat itu, yang tak akan peduli alasan kemanusiaan yang saya sodorkan. Terlambat ya terlambat saja, tak usah banyak cingcong!
Narasi teks bacaan hari ini tidak bicara mengenai keterlambatan. Lima gadis bodoh itu masih bisa mengetuk pintu dan memohon supaya pintu dibukakan. Tuan yang bikin pesta di situ menjawab,”Lu siapa? Gua gak kenal!” dan saya kira, pintu itu tak dibukakan.

Tidak dibukakannya pintu perjamuan itu bukan karena lima gadis bodoh terlambat, melainkan karena tuan yang empunya pesta tak mengenal lima gadis bodoh itu. Kalau begitu, pengenalan Allah bukan pertama-tama perkara kategori ruang-waktu. Ini adalah perkara kairos, perkara momen berahmat, yang bisa hadir dalam ruang-waktu mana pun: hic et nunc, di sini dan sekarang. Maka dari itu, bukan hendak menyalahkan refleksi Santo Augustinus, melainkan untuk menyodorkan kategori lagi: dalam terang kairos, tak ada kata terlambat untuk mencintai Allah. Tak hanya itu, tak ada kata terlambat juga untuk mencinta. Poinnya ialah orang menemukan kairos dari saat ke saat; menyambungkan keilahian yang diimaninya dengan ruang waktu yang dihidupinya; mengenali Allah dalam setiap peristiwa hidupnya.

Tuhan, mohon rahmat cinta-Mu. Cukup sudah itu bagi kami. Amin.


JUMAT BIASA XXI A/2
Pw S. Augustinus
28 Agustus 2020

1Kor 1,17-25
Mat 25,1-13

Jumat Biasa XXI C/2 2018: Separuh Orang 
Jumat Biasa XXI C/2 2016: Faith Bank

4 replies

  1. Br ngeh kalau judulnya terlambat mencinta. Berarti tdk ada kata terlambat untuk dicinta ya rm, krn sbnrnya kt selalu dicinta Tuhan. Kt aja yg terlambat mencinta. Naaaaah, tp itu jg mendatangkan pertanyaan. Bgm cara menggembleng diri biar lebih ngeh kt dicinta Tuhan? Selain jawaban bhw kt udh dikasih nafas dll. 😇 Mksh ya rm

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s