Self-glorification

Setiap jalan orang adalah lurus, menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati. Begitu kata sebuah teks kuno, dan betul banget, menurut pandangan saya sendiri.🤭 Syukur kalau Anda juga mengamininya. Sebagian orang mengatakan dirinya tahu bahwa jalannya tidak lurus dan dia mau pasrah menjalaninya. Padahal, kalau dia tahu jalannya itu tidak lurus dan mau menjalaninya, ya berarti mestinya belok dong (wong gak lurus) tapi kok gak belok-belok; lha berarti jalannya lurus dong!😂 Bingung gak?

Karena setiap orang berpandangan bahwa jalannya lurus dan tak membiarkan hatinya diuji Allah itulah terjadi aneka macam konflik kepentingan dengan segala kontroversinya. Saya tak usah masuk ke ranah politik deh. Di keluarga atau di lingkup komunitas kecil saja, membiarkan hati diuji Allah itu mengandaikan orang jadi “ibu dan saudara-saudarinya” Guru dari Nazareth: yaitu mendengarkan dan melakukan kehendak Allah. Piyé mau melakukan kehendak Allah kalau tak bisa mendengarkan?

Saya percaya bahwa Anda tahu hambatan orang untuk mendengarkan. Pertama, alih-alih pikiran difokuskan untuk mendengarkan kata-kata orang lain secara verbatim untuk menangkap poin pentingnya, pikiran orang sibuk sendiri menyiapkan jawaban, sanggahan, argumentasi, dan sejenisnya. Kedua, alih-alih fokus mendengarkan orang lain yang sedang mengungkapkan dirinya, orang sibuk memperkokoh asumsi dan kesimpulannya tanpa data yang jelas. Cerita belum selesai, orang sudah memutuskan perasaan dan motivasi orang lain (yang tentu saja nonsense karena menurut jendela Johari, dua hal ini adalah ranah gelap bagi orang lain). Ketiga, tendensi orang yang lebih ingin didengarkan daripada mendengarkan, itu mempersulit pemahaman akan pihak lain karena pikiran orang akan berkutat pada dirinya sendiri yang hendak digaungkan ke seluruh bumi. Ujung-ujungnya, tanggapannya hanya berupa self-revelation, kalau bukan self-glorification.

Barangkali yang mendasari hambatan-hambatan untuk mendengarkan pihak lain itu berlaku juga pada relasi manusia beragama dan Allahnya. Alih-alih mendengarkan suara Allah, orang membuka lapak keinginan dan kebutuhannya di hadapan-Nya supaya diisi satu per satu. Alih-alih mendengarkan kehendak-Nya, orang berteriak-teriak menyampaikan protes sana-sini karena keinginannya tak terpenuhi.
Lha, tur ya gimana toh Rom mendengarkan suara Allah? Memangnya kita hidup di zaman Nabi Musa gitu?

Ujung teks bacaan pertama memberi petunyuknya: Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru.
Lha ini kok jadi muběng-muběng kayak #segamubeng aja, Rom?🤭
Ya memang, untuk mendengarkan Allah, orang perlu mendengarkan kaum lemah, dan selama orang tak bisa mendengarkan kaum lemah, ia tak bisa mendengarkan suara Allah.
Apa kaum lemah itu Allah?
Ya jelas bukan, tetapi begitulah Allah mengambil jalannya, lewat kaum lemah.

Jalan itu akan menggelitik kepentingan orang dan katakanlah membuatnya melakukan bargaining mana hal yang paling tepat untuk dilakukan demi kemuliaan dan kesejahteraan bersama, yang tolok ukurnya ada di hati setiap pribadi yang terlibat di dalamnya.

Tuhan, mohon rahmat supaya hati kami terbuka pada Sabda-Mu melalui kaum lemah yang tertindas oleh arogansi manusia. Amin.


SELASA BIASA XXV A/2
22 September 2020

Ams 21,1-6.10-13
Luk 8,19-21

Selasa Biasa XXV B/2 2018: Susahnya Hidup 
Selasa Biasa XXV C/2 2016: Lingkaran Syaiton
Selasa Biasa XXV A/2 2014: Otak dalam Cinta?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s