Catatan di Langit

Saya tidak terpukau oleh lembaga pendidikan yang mendapatkan murid-murid pandai dengan seleksi ketat dan hasilnya baik. Kalau input baik outputnya baik kan ya lumrah. Malah itu jangan-jangan berarti lembaga pendidikannya tidak relevan di luar fungsi administratif pencatatannya. Yang membuat saya kagum justru adalah lembaga-lembaga pendidikan yang inputnya biasa-biasa saja, bahkan mungkin di bawah rata-rata, tetapi mencetak hasil yang baik. Bukan pertama-tama hasil baiknya yang memukau, melainkan kondisi yang memungkinkan hasil baiknya: mungkin pendampingan karakternya, mungkin suasana kekeluargaan atau pertemanannya, mungkin disiplinnya, dan sebagainya.

Teks bacaan hari ini menceritakan bagaimana para murid kembali dari tugas misi atau dakwah yang mereka terima dari Guru dari Nazareth. Mereka begitu gembira karena rupanya mereka bisa melakukan banyak hal yang membuat tugas mereka bisa dikatakan berhasil. Dikatakan dalam teks bahwa bahkan setan pun takluk pada mereka. Tampaknya, kabar gembira yang mereka wartakan membuat roh jahat mundur. Guru dari Nazareth sendiri memberi kesan itu dengan tanggapannya,”Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit.” Tak usah repot-repot membayangkan seperti apa Iblisnya dan menimpa siapa dan apa setelah jatuh. Ini adalah ungkapan simbolik untuk mengatakan bahwa di langit sana cuma ada Allah sejati, dan aneka ilah mesti tak bertahan di sana.

Akan tetapi, sang Guru melanjutkan catatannya supaya para murid itu bergembira bukan karena mereka bisa melakukan banyak hal dan hasilnya begitu berlimpah ruah, melainkan karena nama mereka “terdaftar di surga”. Dengan kata lain, kalau Iblis itu jatuh dari langit, nama para murid ini malah tercatat di langit. Tercatat doang loh ya. Artinya, mereka ya tetaplah makhluk ciptaan dengan segala tetek bengeknya, tak perlu berlagak seperti Iblis yang mencoba-coba menempatkan dirinya di langit, sejajar dengan Allah, untuk mengatur hidup manusia. Maka dari itu, para murid tetap mesti berpijak pada bumi, mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, sebaik-baiknya, tetapi tak bisa berlagak seperti Iblis tadi untuk menempatkan sains di langit, seakan-akan sains jadi Allah, jadi segala-galanya.

Wajarlah jika Guru dari Nazareth memberi nasihat tadi: bergembira bukan karena capaian sains yang memukau, melainkan karena capaian itu tetaplah mesti tinggal di tataran horisontal yang dipakai untuk membangun kemanusiaan yang bermartabat seperti tercatat di langit itu. Dengan demikian, jika kembali ke paragraf pertama, orang-orang beriman layak bergembira bukan karena capaiannya sendiri, melainkan karena capaian itu diperoleh dari aneka proses yang mendapat insight, inspirasi, atau ditag catatan di langit: hati Allah, Sabda Allah, yang menjadi kabar gembira bagi siapa saja yang mau mendengarkannya.

Yang mau mendengarkan kabar gembira tadi memang rupanya justru bukan orang bijak pandai, melainkan orang kecil. Orang disebut kecil bukan karena dimensi biologisnya, melainkan karena kesadaran dirinya sebagai makhluk ciptaan yang butuh memperluas cakrawala pandangnya dengan catatan di langit tadi. Orang bijak pandai tidak bisa masuk ke bilangan orang kecil karena mereka semata mengandalkan pengetahuannya sendiri yang bersifat fana dan mengabaikan dimensi langit.

Tuhan, mohon rahmat keterbukaan hati supaya pergumulan horisontal kami senantiasa diterangi oleh kabar gembira-Mu. Amin.


SABTU BIASA XXVI A/2
Pw S. Francis Borgia (SJ)
3 Oktober 2020

Ayb 42,1-3.5-6.12-17
Luk 10,17-24

Sabtu Biasa XXVI B/2 2018: Agama Sableng 
Sabtu Biasa XXVI C/2 2016: Wanted: Sparring Partner
Sabtu Biasa XXVI A/2 2014: Papa(ku) Miskin

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s