Menikmati Kefanaan

Kalau Anda berjumpa dengan jin lampu Aladin dan diberi kesempatan untuk menyampaikan tiga permohonan yang pasti dikabulkan, barangkali hal-hal ini yang akan Anda sodorkan: kesehatan, kesembuhan dari penyakit, kemakmuran, kekayaan, kesuksesan, jodoh, rumah mewah, dan sejenisnya. Meskipun sebetulnya Anda mengejar kebahagiaan, herannya, hal-hal itulah yang Anda inginkan seakan-akan kebahagiaan bergantung pada elemen-elemen hidup biologis tadi.

Seorang ahli Kitab Suci mencobai Guru dari Nazareth dengan pertanyaan kira-kira begini. “Apa yang harus kuperbuat untuk mewarisi hidup kekal?” Ini sudah selangkah lebih ‘maju’ daripada permintaan Anda tadi. Kenapa? Karena dia sudah tahu bahwa mengenai yang biologis itu orang cuma bisa terima aja; bahkan kalau rekayasa genetik bisa mengubah aneka macam keadaan biologis tadi, tetaplah poinnya orang tinggal terima saja keadaan yang membangun eksistensinya. [Bukankah dokter perekayasa genetik tak pernah minta izin pada bakal calon makhluk hidup mengenai gen apa yang bisa direkayasanya?]

Ahli Kitab Suci ini tahu benar bahwa hidup kekal (zōē aiōnios, Yunani) beda level dari hidup biologis (bios). Hanya saja, ahli Kitab Suci dalam narasi itu salah jalur dengan kata kerjanya: mewarisi. Kenapa? Lha apa yang harus saya buat supaya dapat warisan orang tua saya? [Adanya juga saya mesti mengurus untuk tidak dapat warisan dari mereka, padahal juga gak ada yang bisa diwariskan😁]. Tinggal terima saja, bukan?

Hidup kekal tidak diwariskan. Ada partisipasi dari pihak manusia, dan kisah orang Samaria itu memberi pelajaran sekurang-kurangnya tiga hal. Pertama, orang beriman tidak menunggu teriakan mereka yang butuh bantuan. Sebelum orang lain menunjukkan kenistaan hidupnya, orang beriman mengantisipasinya. Ini bukan pertama-tama perkara sentimental untuk mencari-cari siapa saja yang kondisinya di bawah garis kemiskinan ekonomis, melainkan perkara menangkap kondisi-kondisi tidak adil yang potensial membuat orang terpuruk dalam kehidupan biologis ini. Jadi, orang beriman semestinya antisipatif dan solutip.

Kedua, kepekaan orang beriman seperti itu hanya dimungkinkan oleh ikhtiarnya untuk melihat hidup biologis ini sebagaimana Allah memandang hidup fana. Lah, dari mana tahu cara pandang Allah, Rom, wong kita ini ya cuma rakyat jelata yang matanya juga mata biologis?
Sekurang-kurangnya dengan mengajukan pertanyaan yang tepat, yang clear and distinct mengenai mana yang fana dan mana yang kekal dan mengambil keputusan sesuai dengan pembedaan itu. Kalau sungguh menginginkan kebahagiaan abadi, sudah selayaknya orang beriman tidak berkutat pada apa saja yang tertambat pada yang fana. Jadi, orang beriman enjoy aja kefanaan sebagai sesuatu yang fana, tak perlu terlekat padanya.

Ketiga, sinkronisasi cara pandang manusia dengan cara pandang Allah itu bisa juga ditempuh dengan sikap inklusif. Orang Samaria tidak membawa korban sekarat itu ke sebuah losmen penginapan, tetapi sebuah tempat di mana semua orang mendapat hospitalitas, keramahtamahan sebagaimana ditunjukkan Allah. Kegagalan orang beriman dalam hal ini kerap dipicu oleh cara pandang yang tidak clear: merasa berbela rasa seperti Allah yang compassionate, tetapi tersisipkan di situ pencarian diri, pengakuan diri, dan lain-lain yang sebetulnya masuk ranah all is vanity.

Tuhan, mohon rahmat kepekaan dan kemurnian hati supaya perilaku kami boleh jadi manifestasi belas kasih-Mu. Amin.


SENIN BIASA XXVII A/2
5 Oktober 2020

Gal 1,6-12
Luk 10,25-37

Senin Biasa XXVII C/2 2018: Cinta Kampret 
Senin Biasa XXVII A/1 2016: Being Humane
Senin Biasa XXVII A/2 2014: Orang Samarinda yang Baik Hati

1 reply

  1. Rm, sharing sdkt. Ada sdt pandang lain dr parable org Samaria yg baik hati, bhw Yesus lah yg dialegorikan sbg org Samaria (Yoh 8:48) yg baik hati, alegori kejatuhan dn penebusan umat mns. Pria yg turun adh Adam. Yerusalem adh surga, Yerikho adh dunia (kota terendah di dunia). Para perampok adh kekuatan yg bermusuhan. Imam adh hukum. Org lewi adh nabi. Org Samaria adh Kristus. Dan Dia akn datang lagi yg kedua kali. Kepada siapa korban dititipkan? Penginapan, yi Gereja 🤭just intermezo. Itu mnrt St.Irenaeus dn Clement.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s