Hukuman Cinta

Saya tak tahu kata ‘cebok’ di benak Anda terasosiasikan dengan pengalaman apa. Saya kira, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, kata itu menjadi ‘cawik’ atau ‘wawik’. Dalam bahasa Inggris jadi ‘wipe’, tapi aneh juga kalau wipernya berbentuk bilah karet yang biasa dipasang di kaca mobil, terlalu lebar.🤭 Biasanya wipernya adalah selampai kertas, dan dengan begitu, tak cocok disebut ‘cebok’, kan? 

Kalau Anda merasa jijik, apalagi kalau membacanya sambil makan, barangkali malah jadi momen bagus untuk meninjau ulang falsafah kehidupan Anda. Jangan-jangan Anda punya tradisi kebarat-baratan. Saya sendiri tidak yakin soal pembagian Timur-Barat, tetapi gak apalah sebagai permulaan obrolan. Katanya, peradaban Barat itu dibangun di atas gagasan mengenai kemakmuran, yang dipahami sebagai akumulasi alias banyaknya harta benda, dan pembangunan, yang dipahami sebagai pertumbuhan ekonomi.

Lha, kalau prinsip banyak-banyakan materi itu dipasangkan dengan keyakinan kuno bahwa kesempurnaan ada di atas dan ketidaksempurnaan di bawah; yang najis terhubung dengan bumi dan pekerjaan tangan kotor, yang suci berhubungan dengan langit di atas; habis sudah kaum ambyar. Kenapa? Karena keberhasilan, kesuksesan diidentikkan pertumbuhan ke atas, kenaikan, menggapai langit, naik ke surga, dan sejenisnya. Ini lebih runyam lagi kalau dicarikan pembenarannya dari agama! Sayangnya, begitulah yang terjadi. Contohnya adalah teks yang dibacakan hari ini mengenai kenajisan. Ceritanya sederhana sekali. Guru dari Nazareth ditegur oleh pemuka agama karena makan dengan tangan najis, yaitu tak cuci tangan dulu dan tak bermasker #eh.

Saya tak melihat kejadiannya secara langsung, tetapi saya duga penolakan Guru dari Nazareth bukanlah sikap antipatinya terhadap tindakan cuci tangannya sendiri, melainkan kritiknya terhadap kaum Farisi yang menilai sesuatu semata dari sudut hukum, seakan-akan hidup ini adalah suatu hukuman yang harus dijalani manusia.
Saya lebih suka memaknai hidup ini dengan tolok ukur tauhid yang dihidupi umat Islam: semua-muanya mengarah pada Allah yang Maha Esa itu. Esa bukan dalam arti kuantitas, melainkan dalam arti integritas: semua semestinya terintegrasi dengan Allah ini, dan tidak mencoba-coba memisahkan diri dari-Nya (yang sebetulnya gak bisa juga sih dari perspektif iman).

Karena itu, hukum juga perlu diletakkan dalam konteks tauhid itu. Dalam bahasa Kristiani, ini ditunjukkan oleh Paulus dalam teks bacaan pertama: hukum agama tidak punya relevansi sejauh orang terhubung dengan Kristus. Kalau hukum ditujukan supaya orang terhubung dengan Kristus, kalau orangnya sudah terhubung dengan Kristus, ya ngapain lagi hukumnya dipakai? Apa gunanya pelontar satelit ke ruang orbit kalau satelitnya sudah berada di orbit? 

Memang, dalam hidup beriman, orang perlu jujur juga: orang macam mana yang bisa memastikan bahwa hidupnya dibangun di atas prinsip tauhid atau relasi intim dengan Kristus? Kepastian itu adanya pada ranah luar, pinggiran, dan fana. Jiwa manusia memang hidup di situ, tetapi tak bisa direduksi pada hal-hal itu. Bisa sih, tapi dalam arti tadi: orang menghayati hidup ini sebagai hukuman yang harus dihidupi dengan presisi tinggi sampai masa hukumannya selesai. Karena kalau tidak begitu, hukumannya diperpanjang. Mesakké, bukan?

Ya Tuhan, ajarilah kami bahasa cinta-Mu. Amin.


SELASA BIASA XXVIII A/2
13 Oktober 2020

Gal 4,31b-5,6
Luk 11,37-41

Selasa Biasa XXVIII B/2 2018: Larung Agama ke Laut 
Selasa Biasa XXVIII C/2 2016: Maafkan Ayat Suci
Selasa Biasa XXVIII A/2 2014: Legislator Oke, Legalistik No

1 reply

  1. Cinta, saya menyebutnya kata dalam tataran dunia atas, daya magisnya mampu merubah tatanan biasa menjadi indah dan nyaman. Bagaimana cinta menjadi hukuman? Menurut sebuah lagu Korea, Love Is Punishment, cinta yang tidak bisa diungkapkan, menjadi hukuman. Mungkin itu yang dimaksudkan, Love Where You Live, mencinta selagi hidup. Alih2 terus gelisah hendak berada di tempat lain (yang belum jelas), baiknya mencintanya mulai dari sini, dimana tinggal.
    So betul juga, cebok hukumannya, tinggal cintanya, tapi lucu juga. Tapi membayangkan kehidupan dipenuhi wajah2 ramah sopan penuh cinta wow…aku akan wow terus pokoknya

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s