Perjumpaan

Selagi negeri Paman Sam mengalami kontradiksi demokrasi, kami menonton seri Avengers yang pada prinsipnya hendak mengatakan bahwa jagoan pasti menang dan jagoan ini pasti adalah pihak yang baik. Betapa menyenangkan jika hidup sesederhana itu. Pada kenyataannya, kefanaan hidup membuat definisi kebaikan jadi tak sederhana dan mengumpulkan Avengers sebagai jagoan orang baik mungkin hanya ada dalam komik Marvell.

Teks bacaan hari ini menceritakan awal penampilan publik Guru dari Nazareth. Beliau mengumpulkan jagoan-jagoan kehidupan, tetapi benar-benar bukan jagoan komik Marvell. Mereka ini adalah orang-orang biasa yang diajak mewujudkan visi Kerajaan Allah. Hanya empat nama yang disodorkan teks hari ini tetapi Anda tahu jumlah jagoan yang dikumpulkan Guru dari Nazareth seluruhnya dua belas; simbol dua belas suku Israel, tetapi juga sekaligus simbol keseluruhan manusia dengan segala jenis, sifat, watak, perangai, komplet dengan kerapuhan mereka.

Itu artinya, Guru dari Nazareth tidak berpretensi mewujudkan Kerajaan Allah sendirian; Kerajaan Allah dibangun dalam kebersamaan. Itulah maksud kabar gembira yang diwartakannya: membangun komunitas umat beriman. Begitu pula pemahaman saya terhadap saudara-saudari muslim di Indonesia yang menerjemahkan panggilan universal untuk membangun persaudaraan islami. Ukhuwwah Islamiyyah bisa jadi bingkai pemahaman panggilan para murid dalam teks bacaan hari ini. Mereka dikumpulkan untuk menjalani hidup seturut nilai-nilai Kerajaan Allah.

Nilai-nilai Kerajaan Allah itu sendiri dalam dinamika perjalanan komunitas yang dibangun Guru dari Nazareth sinkron dengan nilai-nilai persaudaraan islami. Awalnya tampak eksklusif karena dibangun dalam lingkup persaudaraan terbatas, tetapi dalam perkembangannya jelas lingkupnya melampaui batas kefanaan. Kisah hari ini menunjukkan bagaimana perjumpaan dengan Guru dari Nazareth itu membongkar ikatan biologis dan kultural. Di kemudian hari kelihatan bagaimana bahkan Guru dari Nazareth sendiri memperluas perspektif persaudaraannya karena perjumpaan dengan kaum marjinal, juga mereka yang dianggap kafir.

Perjumpaan menjadi elemen penting pembangunan komunitas beriman. Markus memang menampilkan panggilan murid seakan-akan terjadi seperti cinta pada pandangan pertama. Akan tetapi, saya kira sebelumnya sudah ada perjumpaan terlebih dulu (bdk. Luk 5:1-11, Yoh 1:39). Lha kenapa kok kisah perjumpaan sebelumnya tak disinggung Markus? Mungkin karena Markus memikirkan idealnya: perjumpaan dengan Guru dari Nazareth itu semestinyalah memprovokasi perubahan radikal dalam hidup orang biasa.

Sayangnya, orang bisa cenderung mereduksi perjumpaan pada pikirannya sendiri. Alih-alih membiarkan diri berjumpa dengan pribadi lain, ia menjumpai pikirannya sendiri mengenai pribadi lain. Kualitas perjumpaan seperti ini menutup peluang transformasi hidup karena orang terkungkung oleh ikatan biologis atau kulturalnya sendiri.

Tuhan, mohon rahmat untuk mengenali panggilan-Mu dalam perjumpaan dengan mereka, khususnya yang terabaikan. Amin.


SENIN BIASA I B/1
Senin, 11 Januari 2021

Ibr 1,1-6
Mrk 1,14-20

Posting 2019: Hi, how asu today?
Posting 2015: We Are Instruments

1 reply

  1. Dalam ‘Soul’ ada 22 yang apatis dengan hidup, dia tidak menemukan percikan untuk dihidupi, sampai ‘terpaksa’ mengalaminya, walau hidup orang lain (Joe). Dia kembali hidup, terpesona oleh hal2 receh, eg. sepotong pizza yang sudah digondol kucing, dalam daun yang jatuh, dalam musik jalanan, dalam sosok peminta2 di pinggir jalan. Joe dengan keegoannya atau ketidaktauannya, mematahkan api 22, mengecilkan pemaknaan hidupnya, dan mengatakan yang dihidupi 22 adalah kehidupan Joe, yang keren itu hidup Joe, bukan 22. Joe sadar, memperbaiki kesalahannya. 22 mendapatkan hidupnya kembali berkat kebaikan Joe. Joe pun mendapat kesempatan kembali memaknai hidupnya. Kita bisa apatis dengan hidup, saking banyak ego berseliweran seperti pandemi. Diana dalam Wonder Woman 1984 (2020), menyadarkan Max Lord yang frustasi dan apatis dengan hidup, bahwa dunia ini tempat yang indah, tapi kita tidak dapat memiliki semuanya. Itulah kebenarannya. Masing2 kita bisa merangkul kebenaran itu, dan menjadi pahlawan untuk menjadikan dunia ini lebih ramah untuk orang lain, dan tidak apatis lagi untuk dihidupi.

    Like