Paus Fransiskus pernah bertutur mengenai seorang ibu dengan tiga anaknya yang didatangi pengemis dan sang anak yang sudah siap menyantap irisan daging untuk main course mereka, usul supaya ibu mereka memberi makan buat pengemis itu. Sang ibu setuju dan bersiap-siap dengan pisau garpunya mengiris daging dari piring anak-anaknya. Pada saat itulah anak-anak protes,”Bukan begitu konsepnya, Mama! Ambil daging dari kulkas dan berikan kepada yang minta makan itu!” Wkwkwkwk… memberi tanpa berkorban memang sepertinya konsep yang tak sulit diusulkan dan dijalankan.
Pada posting Hero dua minggu lalu, saya sudah mengulasnya, tetapi hari ini saya singgung kembali untuk menunjukkan perbedaan konteks dari narasi yang disodorkan Paus dan narasi dalam Injil. Yang pertama konteksnya adalah relasi antarmanusia. Yang kedua adalah relasi antara manusia dan ideologi (persembahan). Pada relasi pertama, berlaku kaidah nemo dat quod non habet (tak ada ikan eh orang memberikan sesuatu yang tidak ia miliki). Semakin banyak yang diberikan kepada orang lain yang membutuhkan, semakin bermaknalah pemberiannya. Tidak mengherankan, tanpa pengorbanan, pemberian Anda tak banyak maknanya bagi Anda sendiri.
Pada relasi kedua, berlaku kaidah instrumental atau strategis. Semakin strategis pemberian Anda, semakin dekatlah Anda dengan ideologi yang Anda agung-agungkan. Anda bisa menghalalkan segala cara demi memenuhi apa yang Anda janjikan dalam kampanye atau apa yang Anda yakini ada dalam sosok pujaan Anda. Dengan begitu, semakin klop dengan keyakinan Anda, semakin berartilah pemberian Anda.
Kisah yang dituturkan Paus lebih cocok diletakkan dalam konteks pertama. Kisah dalam Injil lebih tepat dilihat dalam konteks kedua. Baik konteks pertama maupun kedua bisa saja rentan terhadap penipuan, tetapi konteks kedua daya tipunya lebih mengerikan karena orang yang bersangkutan tidak sadar bahwa dirinya ngapusi (membohongi) atau kapusan (tertipu) karena ideologi.
Membaca teks Injil dengan konteks keliru akan menjerumuskan orang pada eisegese, bukan lagi eksegese. Di situ, ia tidak lagi berdialog dengan teks untuk memahaminya, melainkan seutuhnya berdialog dengan keyakinan, asumsi/prasangka, pengalamannya sendiri. Teks cuma dipakai untuk menyodorkan atau memperkuat keyakinannya sendiri. Kiranya posting saya empat tahun lalu adalah contoh eisegese ini: saya menyodorkan ide tentang totalitas, dan jelaslah saya mengabaikan konteks narasi Injil yang jadi acuan saya. Mea culpa, mea maxima culpa. Semoga Anda mengampuni saya.
Tuhan, mohon rahmat ketulusan hati untuk mencintai-Mu dengan segenap hati dan budi. Amin.
SENIN BIASA XXXIV B/2
25 November 2024
Posting 2020: Totalitas
Posting 2019: Gosip Staf Khusus
Posting 2018: A Man Called Ahong
Posting 2017: Mencari Wajah Allah
Posting 2016: Perut Penuh, Hati Kosong
Posting 2015: Cowok Matre’
Posting 2014: Totality Makes A Difference
