Selamat

Published by

on

“Pendek dan menyedihkanlah hidup kita ini, dan pada akhir hidup manusia tidak ada obat mujarab; seseorang yang kembali dari dunia orang mati tidak dikenal. Serba kebetulan kita dijadikan, dan kelak kita ini seolah-olah tak pernah ada. Asap sajalah nafas di dalam hidung kita, dan pikiran hanya merupakan bunga api dari denyut jantung kita. Setelah padam, maka tubuh pun menjadi abu, dan rohnya akan disebar-sebarkan bagaikan udara yang halus. Maka, lambat laun nama kita pun terlupakan pula, dan pekerjaan kita tidak seorang pun ingat kepadanya. Laksana jejak awan hidup kita berlalu, bagaikan kabut menghilang, dan dienyahkan oleh sinar matahari terkena oleh panas teriknya. Umur hidup kita merupakan bayang-bayang yang berlalu, dan akhir hidup kita tak dapat ditunda, karena sudah dimeteraikan dan tak seorang pun dapat mengubahnya.”

Itu petikan dari sebuah Kitab Suci yang mungkin isinya membuat Anda manthuk-manthuk setuju karena disampaikan dalam Kitab Suci. Akan tetapi, jika Anda sungguh setuju dengan petikan dari Kitab Suci itu, barangkali Anda perlu berpikir ulang atau mawas diri karena kutipan itu justru menjabarkan bagaimana orang fasik berpikir.

Betul, dalam ungkapan-ungkapan yang saya sitir itu, terdapat nuansa cara berpikir yang sangat individualis: bukan bagaimana seluruh ciptaan ini ada karena orientasi tertentu, melainkan bagaimana setiap makhluk hanya secara kebetulan terlempar ke dalam hidup ini dan masing-masing menjalani tragedinya. Tak mengherankan, respek terhadap prinsip hidup bersama tak ada artinya. Agama tidak. Moral pun tidak. Apalagi etika!
Oh ada, Rom, etika individualis!
Oh iya ya, tapi ya poinnya sama: tak ada respek untuk kebersamaan. Semua direduksi jadi perkara tanggung jawab pribadi, kebebasan pribadi, kapitalisme, dan seterusnya. Yang menanggung akibatnya tentu rakyat jelantah seperti Anda dan saya, yang mungkin masih bernasib lebih baik dari rakyat jelantah lainnya.

Teks-teks bacaan seminggu ini memang kental dengan bahasa ‘kiamat’ begitu, tetapi tafsirannya justru meleset dari sasaran jika dihubungkan dengan kengerian hidup invididualis dan meredupnya harapan. Sebaliknya, ungkapan semacam “akhir zaman sudah dekat” kiranya lebih cocok diterima sebagai warta “keselamatan sudah dekat.”
Lha keselamatan sudah dekat gimana, Mo, wong di sana-sini ya berulang hukum rimba KKN?
Ya itu tadi: ketika di tengah-tengah hukum rimba itu Anda tetap dapat menghidupi pikiran-pikiran yang tidak fatalis seperti teks di awal posting ini, Anda mengalami keselamatan.
Keselamatan gimana sih, Mo, jagoan saya kalah je!
Nah nah nah, selamat, jagoan Anda kalah! Wkwkwkwk….

Tuhan, mohon rahmat ketekunan supaya harapan kami tak padam untuk mempersaksikan keadilan-Mu. Amin.


KAMIS BIASA XXXIV B/2
28 November 2024

Why 18,1-2.21-23;19,2-3.9a
Luk 21,20-28

Posting 2020: Angkat Muka Dong
Posting 2019: Saudara Agnez Mo
Posting 2018: Hening
Posting 2016: Pernah Di-PHP Tuhan?
Posting 2015: Berpikir Positif? Maksudnya?
Posting 2014: Tunggu Gak Pake Lama

Previous Post
Next Post