Jika hidup Anda apolitis alias tidak bersifat politis, hidup rohani Anda hanyalah omong besar. Seperti politik, hidup rohani tidak netral. Entah Anda sedang bertumbuh sebagai pribadi rohani atau sedang mengalami masa krisis hidup beragama atau beriman, hidup spiritual Anda senantiasa mengandaikan pergumulan untuk memilih. Tidak ada pergumulan tanpa alternatif pilihan. Tidak ada pilihan tanpa konsekuensi. Bahkan, kalau pun hanya ada satu pilihan yang membuat Anda terpaksa memilihnya, Anda sesungguhnya masih punya alternatif: memilih untuk tidak memilih satu-satunya pilihan. Ini yang disebut dengan golput.
Akan tetapi, sebagaimana belakangan ini terjadi di Pangkalpinang, golput itu hanya bisa direalisasikan dengan tindakan politis: datang ke tempat pemilihan dan mencoblos kotak kosong. Jika tidak, percayalah pada Kitab Suci: Kerajaan Surga diserong, dan yang menyerongnya mencoba menguasainya.
Itu mengapa hukum spiritual tidak mengenal pemaksaan. Pemaksaan hanya dipakai oleh mereka yang ‘menyerong’ Kerajaan Surga.
Di situ, dengan mudah Anda bisa mengerti bagaimana pilkadal sangat rawan kecurangan dari semua pihak. Maklum, hasil binaan sejak Orde Baru, bukan? Persoalannya, bisa jadi ada pihak yang lebih leluasa melakukan kecurangan karena punya alat kekuasaan yang dipakai untuk menutup kecurangan pihak lain, bukan pihaknya sendiri.
Yohanes Pembaptis, yang dipuji Yesus dalam teks bacaan hari ini, meminta siapa saja untuk bertobat. Bagi Pembaptis ini, politik bukanlah ajang untuk melawan orang lain, melainkan medan perang terhadap apa yang tidak beres dalam diri setiap orang. Bukankah itu hakikat orang rohani: membereskan diri supaya hidupnya cocok dengan hati nurani? Jika hati nurani dituruti, orang rohani tidak risau dengan hasilnya dan tidak perlu merekayasa hasilnya juga. Maka, pilihan orang rohani selalu politis. Konsekuensinya, berpikir apolitis tidaklah beres, begitu juga keyakinan politik sebagai pertarungan kekuasaan.
Dengan demikian, orang rohani tidak akan ‘menyerong’ Kerajaan Surga karena kepentingan pilihan orang rohani selalu memenuhi tiga kriteria dasar: berpusat pada Allah, yang konkretnya menghargai martabat manusia bersama, dan menghindarkan penindaskan kaum lemah tanpa kuasa. Komitmen pada tiga kriteria dasar itu membuat orang ambil kontrol dan kuasa atas dirinya sendiri. Sebaliknya, melanggar salah satu kriteria itu saja sudah membuyarkan atribut rohani seseorang dan atribut ‘penyerong’ mendapatkan promosinya.
Tuhan, mohon rahmat keteguhan hati untuk memilih semata apa yang bernilai bagi kemuliaan-Mu dan sesama. Amin.
KAMIS ADVEN II
12 Desember 2024
Posting 2020: Mbok Jangan Keras2
Posting 2019: Takut Khilaf
Posting 2018: Butuh Piala Citra?
Posting 2017: Anda Sehat?
Posting 2015: Kejahatan Yang Mulia?
Posting 2014: Keras ke Dalam, Lembut ke Luar

One response to “Serong”
maunya kasi comment di tulisan “Rest” eh telat baca sibuk bikin evaluasi dan laporan akhir tahun… udah hampir seminggu lebih nih banyak sekali kerjaan ada distrak sana sini, jadi ketika berdoa mulai dengan tanda salib sampai bingung mau ngomong apa sama Tuhan akhirnya cuma hening aja ucap doa Bapa Kami dan Salam Maria lalu berkata Tuhan Yesus, Engkaulah andalanku…
LikeLike