Adakah kabar sukacita yang memuat konsekuensi dukacita? Adakah berkah yang membawa serta amarah? Mungkinkah kebajikan mencabik-cabik niat baik? Dengan modal prinsip yin dan yang, Anda bisa menjawabnya secara afirmatif: ada dan mungkin. Juga tanpa modal prinsip yin dan yang, Anda bisa mengerti bagaimana respon pasutri baru terhadap berita bahwa sang istri segera menjadi bumil: bahagia tetapi ngikut juga di dalamnya aneka rasa yang tidak selalu identik dengan kemudahan karena sang istri mesti menanggung kesulitan ekstra untuk membawa janinnya ke mana-mana; suaminya tetap enteng ke mana-mana, kecuali kalau perutnya seberat perut saya.
Hari yang dirayakan liturgi Gereja Katolik hari ini menunjuk paradoks kabar sukacita. Paradoks ini bisa mengoreksi atau menjadi kritik bukan hanya bagi orang zaman jebot, melainkan juga orang zaman now yang suka mereservasi kabar sukacita dalam kotak keberhasilan, kemenangan, atau kesuksesan yang diukur secara materialis. Anda tahu, sukacita seperti ini selalu manipulatif dan membuat orang tulalit dan tidak realistis, tetapi bisa juga kehilangan idealisme: ada teror kecil langsung kena mental dan minta maaf bahkan meskipun menyampaikan kebenaran; baru digertak sambal pete sudah auto bété; ada kritik langsung darahnya naik; dan seterusnya.
Sukacita dalam perspektif kisah Maria menerima kabar dari malaikat adalah disposisi batin yang membuatnya lebih aman berjalan dalam skema keselamatan Allah. Menurut mahasiswa yang presentasi hari ini, sukacita seperti dialami Maria ini tak mungkin dihidupi tanpa ketaatan dan kerendahhatian. Hanya saja, kalau diminta mendefinisikan kerendahhatian dan ketaatan dalam konteks mahasiswa, saya curiga, teman-teman muda akan membayangkan kesalehan individual sebagaimana Maria pun dipersepsikan sebagai individu yang saleh. Saya tidak hendak menyangkal kepercayaan bahwa Maria adalah sosok pribadi yang saleh, tetapi kesalehannya pun justru terletak dalam kerendahhatiannya sebagai pembelajar yang taat.
Meskipun Maria bukan mahasiswi di universitas tertutup, beliau punya epistemic humility yang diandaikan ada dalam diri mahasiswa: kerendahhatian untuk mencari kebenaran sedalam-dalamnya, mengapa begini dan mengapa begitu, bagaimana mengetahuinya, apa kekuatan dan kelemahannya, apa batasnya, dan seterusnya. Tak mengherankan, kabar sukacita pun tak terlepas dari pertanyaannya dan suka tanya jadi penanda kerendahhatiannya untuk mencari kebenaran tapi sampai batas tertentu, beliau tinggal tunduk tafakur pada pergumulan hidup. Suka tanya berhenti dalam laku hidup dengan harapan dan kepercayaan bahwa Allah senantiasa beserta kita. Sekarang dan selama-lamanya. Amin.
HARI RAYA KABAR SUKACITA
(Hari Selasa Prapaska III C/1)
25 Maret 2025
Yes 7,10-14; 8,10
Ibr 10,4-10
Luk 1,26-38
Posting 2020: Corona Hates Nyepi
Posting 2018: Bosan Difitnah?
Posting 2017: Pakai Saja Èsêmku
Posting 2015: Hati Selektif
Posting 2014: The Joy of Life-Giving Choice
