Gelap Lagi

Published by

on

Semoga Anda tidak mudah terdistraksi oleh isu-isu macam ijazah aspal atau jutaan orang yang sudah menikmati wussss atau hal lain yang menggelembungkan kehebatan (pejabat) negara ini di tengah badai global. Ini bukan perkara suka atau tidak suka pada (pejabat) negara, melainkan soal ngerinya distraksi bin galfok atas data yang bisa dipermainkan status quoMari kita lihat data jumlah orang miskin saja, yang sangat bergantung pada definisi aktual orang miskin dan siapa yang mendefinisikannya.

Taruhlah Bank Dunia menentukan garis kemiskinan pada spending 6,85 USD per hari alias sekitar 115 ribu rupiah per kepala. Biro statistik lokal bisa saja mematok angka 20 ribu per hari. Menurut akal sehat, semakin tinggi garis kemiskinan, semakin besar populasi orang miskin, dan sebaliknya, bukan? Jika menurut Bank Dunia orang miskin negeri ini berjumlah 172 juta, menurut biro statistik lokal, angka itu bisa jadi dipotong dan menghasilkan 24 juta saja warga miskin.  

Data manakah yang disukai status quo? Lagi, secara akal sehat, status quo akan memakai data lokal dong supaya khalayak tidak merasa miris terhadap adanya kemiskinan struktural. Kemiskinan struktural terjadi karena sistem yang tak adil dan ramah terhadap mentalitas korup. Menurut akal sehat, kemiskinan struktural bisa dirumuskan secara matematis 1/3 populasi menguasai 2/3 sumber daya sehingga 2/3 populasi hanya mendapat 1/3 sumber daya. Kalau begitu, data Bank Dunia (60% populasi) lebih dekat dengan kenyataan adanya kemiskinan struktural.

Mengakui data Bank Dunia berarti mengakui adanya kemiskinan struktural. Tak mengherankan, status quo lebih suka data lokal. Anehnya, status quo tahu bahwa pemerintah mesti menanggung 132 juta orang miskin untuk iuran BPJS (tautan ini untuk berita empat tahun lalu). Nah, untuk pengumuman yang menguntungkan status quo, angka 24 juta orang miskin dipakai, tapi untuk kepentingan klaim pencairan dana yang digelontorkan status quo, yang dipakai angka 132 juta.

Begitulah data dimainkan, dan supaya permainan itu tak kelihatan, orang yang mudah terdistraksi akan disodori aneka berita sandiwara mengenai ijazah, proyek strategis nasional, dll, dan perhatian publik tak lagi tertuju pada siapa dalang sesungguhnya pagar laut, berapa hutang proyek wusss, dan ke mana rencana perampasan aset koruptor. Yang penting, orang miskin cuma 24 juta.

Teks bacaan utama hari ini tidak menyinggung angka, tetapi menegaskan betapa berbahayanya permainan angka yang tak mengindahkan hidup kekal. Sekali lagi, hidup kekal bukan durasi, melainkan presensi prinsip keadilan ilahi dalam tata kelola ekonomi, misalnya. Bayangkan, jika data lokal digembar-gemborkan dan orang banyak secara lugunya percaya dan jika data global semacam Bank Dunia disodorkan dan lembaga investor asing memercayainya, siapa pula yang menanggung derita? Tentu, rakyat negeri ini sendiri, karena investor asing kehilangan kepercayaan terhadap negeri dengan kemiskinan struktural.

Kepercayaan kepada hidup kekal memang tak bisa dipaksakan sampai waktunya tiba segalanya jadi gelap dan serba terlambat karena banyak yang terlelap oleh kegelapan yang terus menerus hendak melawan terang. Jangan buru-buru menerjemahkan terang itu sebagai doktrin agama: itu juga perkara akal sehat yang hanya bisa dihidupi dengan ketulusan.
Semoga Anda dan saya diberi karunia untuk melihat terang itu. Amin.


HARI KAMIS PASKA II
1 Mei 2025

Kis 5,27-33
Yoh 3,31-36

Posting 2020: Anomali Kopat-Kapit
Posting 2019: Sintesis Tak Kunjung Usai
Posting 2018: Kitab Fiksi Suci

Posting 2017: Hati Berbunga Tabur

Posting 2016: IGD Ini Genitnya Dewan

Posting 2015: Taat kepada Allah Mah Gampang

Previous Post
Next Post