(Kota) Hantu

Published by

on

Juga meskipun di siang hari Anda dan saya tak melihat matahari, kita masih menaruh kepercayaan bahwa dia ada. Sama seperti terhadap bulan yang tak muncul di malam hari, kita percaya ia tetap ada. Lain perkara dengan misteri hidup dan kebangkitan. Ada begitu banyak alasan untuk tidak memercayainya dan tak pernah cukup bukti bagi orang untuk memercayainya. Gagasan mengenai kebangkitan bukan barang baru bagi Anda dan saya, tetapi pada zaman Yesus hidup, itu terbilang baru. Tidak mengherankan juga bahwa orang-orang yang ada dalam lingkaran kekuasaan religius-politik-ekonomi pada masa Yesus hidup itu adalah sekelompok orang yang tidak percaya pada kebangkitan orang mati.

Bagi mereka, hidup ini ya cuma sekali dan karena itu harus diperjuangkan mati-matian, Jika tidak dalam hidup ini bisa jadi presiden, jangan harap sesudah mati jadi presiden. Jika tidak dalam hidup ini bisa memanfaatkan ordal untuk meraup cuan berlimpah ruah, jangan bermimpi kelak setelah mati akan menikmati kelimpahruahan itu. Jika tidak dalam hidup ini bisa membangun monumen megah yang dikenang dunia, jangan berpikir setelah mati bisa melakukannya. Pengenangan arwah umat beriman hari ini tidak sejalan dengan cara berpikir seperti itu.

Saya mengenang tetangga kamar saya yang beberapa tahun lalu meninggal dunia. Beberapa tahun sebelumnya, di tempat saya berdiri memimpin misa, beliau dipukul dengan pedang oleh seorang pemuda, yang konon disinyalir adalah anggota kelompok teroris. Pertanyaan saya ialah: apakah tetangga kamar saya ini happy di surga?
Anda mungkin tanpa ragu menjawabnya: ya, dia happy di surga.
Pertanyaan saya selanjutnya ialah: apakah pemuda yang memedang kepala tetangga saya ini, yang juga akhirnya meninggal, happy di surga?
Hmmm…. saya tak tahu jawaban Anda, tetapi saya punya concern tentang peringatan semua arwah umat beriman ini. Adilkah Allah jika Ia hanya menerima orang yang diberi label ‘baik’ oleh manusia sekelilingnya (yang mungkin belum tentu juga tepat) dan orang yang dilabeli ‘jahat’ ditolaknya?

Ya, begitulah keadilan Allah, Rom, tidak sama dengan konsep keadilan kita, manusia.
Betul, tetapi apakah keadilan Allah itu bersifat hitam putih seperti oposisi biner baik-jahat, benar-salah, dan sebagainya?

Peringatan arwah umat beriman mengetuk batin saya dan bahkan meskipun saya tak melihat, saya percaya bahwa mereka yang sudah mendahului Anda dan saya, secara teknis memiliki pergumulan yang dibawanya sejak hidup biologis mereka. Bagaimana mereka bergumul setelah hidup biologis itu habis, itu adalah dimensi yang tak bisa saya pikirkan dengan level memikirkan lokasi matahari dan bulan. Lokasi mungkin menentukan prestasi, tetapi tidak menentukan dimensi eksistensi yang mengatasi biologi. Singkatnya, mereka, Anda, dan saya, ada dalam perjalanan, ziarah pengharapan untuk berjumpa dengan sang hidup dan kebangkitan. Mereka mungkin lebih mudah memahaminya. Anda dan saya lebih sulit membuktikannya: bagaimana dalam kultur kematian di segala lini kita masih memelihara kepercayaan kepada Tuhan jauh lebih kuat daripada (kota) hantu.
Semoga Tuhan memberkati usaha Anda dan saya. Amin
.


PENGENANGAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN
(Minggu Biasa XXXI C/1)
2 November 2025

2Mak 12,43-46
1Kor 15,12-34

Yoh 6,37-40

Posting 2019: Urip Kang Urup
Posting 2018: Don’t Run Away

Posting 2017: Arwah Orang Hidup

Posting 2016: Doa Arwah, hiii…

Posting 2015: Cuci Jiwa Gratis

Posting 2014: Di Mana Arwah Umat Beriman Itu?

Previous Post
Next Post