• Monumen Emas

    Monumen Emas

    Konon, satu talenta itu senilai emas Tugu Monas. Jadi ceritanya ada tiga hamba yang dikasih masing-masing lima pucuk Tugu Monas, dua pucuk, dan sepucuk. Total yang diserahkan tuan para hamba itu ada 400 milyar rupiah, atau katakanlah 240 milyar rupiah sajalah, toh cuma mengatakan. Hamba pertama dapat 150 milyar, kedua 60 milyar, dan ketiga 30… Read more

  • Anyang-anyangěn

    Anyang-anyangěn

    Menunggu adalah ciri khas pencari Allah, tetapi bukan menunggu seperti menantikan kabin MRT tiba. Pencari Allah mesti hidup dalam penantian, tetapi bukan seperti menanti giliran periksa dokter. Kenapa? Karena MRT dan dokter, dan entah apa lagi, pilihannya cuma ya atau tidak, cuma sudah atau belum. Semuanya ada dalam kronos, dalam waktu yang bisa dikuantifikasi dan… Read more

  • Free Rein Style

    Free Rein Style

    Kemarin diperingati seorang filsuf dan teolog abad ke-4 dari Aljazair yang bernama Augustinus. Salah satu frase yang dipakainya untuk menggambarkan masa lalunya adalah: he’s left to his own devices. Maksudnya itu seperti kalau Anda naik delman berkuda tanpa kusir dan Anda tak punya tali kendalinya. Kalau ada pun, belum tentu Anda bisa mengendalikannya, kecuali Anda… Read more

  • Determinasi

    Determinasi

    Kalimat penutup ulasan olah raga di salah satu media nasional kemarin sangat mengejutkan saya. Bahwa juara dunia ganda putra 2019 adalah pasangan Ahsan/Setiawan tidaklah mengejutkan saya karena melihat kematangan mereka (sok matêng lu Mo). Akan tetapi, bahwa atlet badminton sekarang hanya berlatih kalau ada pelatih alias tak menempa diri tanpa pelatih sungguh-sungguh mengejutkan saya. Ini… Read more

  • Scio qui credidi

    Scio qui credidi

    Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk atau bahkan mrutu kamu singkirkan dari dalam minumanmu, tapi unta yang di dalamnya kamu telan! Kadang-kadang saya itu memang geleng-geleng terhadap Guru dari Nazareth itu dan itu mengapa muncul tulisan Orang Gila dari Nazaret. Kalau dia bikin metafora itu loh, bikin saya geleng-geleng, lebay. Tadi saya pikir jangan-jangan dia memang… Read more

  • Skeptis terhadap Agama

    Skeptis terhadap Agama

    Kemarin keponakan saya menyinggung soal paradoks toleransi dan hari ini bolehlah saya bocorkan singgungannya. Paradoks ini membantu orang untuk mengerti bahwa di kolong langit ini memang tak ada yang mutlak. Kalaupun yang mutlak itu bekerja di kolong langit, orang tak bisa menguasainya. Paradoks bekerja seperti bayangan: menjauh ketika dikejar, mengejar ketika dijauhi [wis, sakkarêpmulah Mo].… Read more