Scio qui credidi

Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk atau bahkan mrutu kamu singkirkan dari dalam minumanmu, tapi unta yang di dalamnya kamu telan!

Kadang-kadang saya itu memang geleng-geleng terhadap Guru dari Nazareth itu dan itu mengapa muncul tulisan Orang Gila dari Nazaret. Kalau dia bikin metafora itu loh, bikin saya geleng-geleng, lebay. Tadi saya pikir jangan-jangan dia memang pernah menelan unta! Ini orang apa ular ya? Ular saja pasti tak akan menapiskan nyamuk dari minumannya, sekalian aja ditelan toh?

Siapa ya pemimpin-pemimpin buta itu?
Teks itu masih jadi bagian kecaman yang dibacakan kemarin sih, dan sasarannya ya para pemuka agama itu. Akan tetapi, kalau memang Kitab Suci itu ditujukan untuk semua, kalau agama itu memang menjadi rahmat Allah bagi semua, berarti entah sanjungan, pujian, kecaman, berlaku untuk semua, bukan? Alhasil, Anda dan saya termasuk pemimpin-pemimpin buta tadi, cuma bedanya saya belum pernah menelan unta. Menelan unta itu berat….

Kok ya ndelalahnya teks kecaman ini berbarengan dengan peringatan seorang ibu dari anak yang ora mbêjaji alias hidupnya amburadul. Mosok ibu yang sabarnya setengah mati ini tergolong pada kategori pemimpin-pemimpin buta tadi?
Hahaha, sekarang Romo bingung sendiri kan, apa iya pemimpin-pemimpin buta itu menunjuk kepada semua pendengar pembacanya? Pemimpin buta ya pemimpin buta, gak semua orang tergolong sebagai pemimpin buta itu.
Saya gak bingung sih, karena semua orang punya potensi sebagai pemimpin buta: yang dangkal, yang membolak-balik sarana dan tujuan, yang culas, tak adil. Saya ingat betul pesan seorang biarawan yang mendeklarasikan dirinya sebagai pendosa: dalam dirinya, semua potensi kedosaan itu eksis.

Jadi, gak ada ceritanya bahwa pendengar dan pembaca teks itu bukan pemimpin-pemimpin buta. Dengan kata lain, Anda dan saya termasuk pemimpin-pemimpin buta, sekurang-kurangnya secara potensial.
Ya, tapi kan Guru dari Nazareth itu tidak mengecam orang karena punya potensi sebagai pemimpin buta, Rom? Kecamannya kan jelas: celakalah kamu para pemimpin buta yang bla bla bla!
Oh iya ya. Berarti kecaman itu untuk mereka yang sudah mengaktualkan yang potensial tadi ya?
Nah, gitu, Romo ternyata printer juga ya, kirain belum pernah menelan unta, ternyata…😂😂😂

Setiap orang punya kadar kemunafikannya masing-masing, dan sayangnya hanya orang yang bersangkutanlah yang tahu kadarnya dan pengetahuan itu sendiri kadang-kadang tertutup oleh kemunafikannya. [Bingung gak?] Orang bisa jadi berlagak tahu mengenai sesuatu yang sebetulnya ia tidak tahu. Bukankah itu munafik? Wong kêminter, orang berlagak pandai, berlagak mampu, berlagak benar sendiri, berlagak apa lagi, kiranya termasuk dalam kategori pemimpin buta itu.

Monika, bisa jadi dalam hidupnya berlagak, tetapi berlagaknya itu cuma secuil saja dari keseluruhan hidupnya yang mencerminkan moto seorang uskup: scio qui credidi (bacanya syio kui kredidi). Artinya, aku tahu kepada siapa aku percaya. Begitulah, dalam masa sulitnya untuk menghadapi suami dan anak yang ora mbêjaji itu, Monika senantiasa berteriak-teriak kepada Allahnya tetapi senantiasa menaruh kepercayaan pada-Nya. Hidupnya happy ending.

Tuhan, tambahkanlah iman kami supaya tak berlagak pintar juga di hadapan-Mu. Amin.


SELASA BIASA XXI C/1
Peringatan Wajib S. Monika
27 Agustus 2019

1Tes 2,1-8
Mat 23,23-26

Selasa Biasa XXI B/2 2018: Diraih Bintang
Selasa Biasa XXI C/2 2016: Tampilanisme
Selasa Biasa XXI B/1 2015: Cuma Bensin Yang Bisa Murni?
Selasa Biasa XXI A/2 2014: Mobil Keren Mental Kere

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s