Agama Post-Truth

Keadaan post-truth yang merupakan entry baru dalam perbedaharaan kamus bahasa Inggris bukanlah fenomena baru. Meskipun istilah itu belum lama populernya dalam ranah politik, juga dalam hidup beragama sudah lama orang menghayati keadaan post-truth itu. Tentu bacaan hari ini tidak menyinggung hal itu, tetapi terhubung dengan fenomena itu, entah jauh atau dekat. Orang-orang Farisi dan ahli hukum Taurat yang dikecam habis-habisan oleh Yesus itu mencari-cari peluang supaya punya alasan untuk menghancurkan pengecamnya tanpa mereka melakukannya sendiri: nabok nyilih tangan, menampar dengan meminjam tangan orang lain. Bagaimana bisa meminjam tangan orang lain, memobilisasi massa, mengerahkan tujuh jutaan relawan kode buntut? Tak ada cara yang lebih joss selain nguplek-uplek, mengaduk-aduk sentimen rasis yang mesti menarik emosi dan keyakinan pribadi atas dasar pengalaman traumatis atau pengalaman negatif pada umumnya.

Itulah post-truth, tak perlu omong soal kemanusiaan, tak perlu berwacana soal compassion, tak usah bersusah payah melihat faktanya entah ada kemajuan atau tidak, tak usah mengingat sejarah baik-baik, tak usah ideal-ideal; pokoknya mana yang secara emosional lebih cocok diikuti dan keyakinan apa yang menjanjikan masa depan cerah, ikuti saja bagaimanapun caranya! Ini mengerikan. Tak heran Yesus mengecam habis-habisan itu.

Loh, tapi apa hubungannya dengan soal hidup beragama tadi, Mo? Apa ada kondisi post-truth dalam hidup keagamaan?

Haiya jelas pating tlecek (vokal seperti e pada krecek teman gudheg nJogja), begitu banyak contohnya dalam agama. Bahkan, jangan-jangan yang menghidupi post-truth itu malah justru orang-orang beragama, yaitu orang-orang beragama yang kebablasen sampai rasionya tak bisa dipakai lagi. Ayo kasih contoh, Mo!

Wah… agak sensitif ah, bisa disambit sandal saya. Mending disambit sambal saya tadahi dengan nasi teri. Halah, gak usah mengelak, Mo. Kasih contoh dong, biar paham nih!
Oga’ ah. Cari contoh sendiri ya: ketika orang beragama latah ikut-ikutan gerakan rohani yang menyayat hati dengan visualisasi yang tampak seperti seni atau ketika orang beragama larut dalam acara massal berbalut kerohanian yang membuat hati bergetar dengan musik menggelegar, tetapi tak kunjung jua mengenal diri dalam relasi pribadi dengan Tuhannya. pada saat itu bisa jadi orang sudah terseret post-truth.

Tuhan, bantulah kami untuk setia pada setiap upaya untuk mencari kebenaran yang tertuju kepada-Mu, juga dalam dialog bersama yang lain. Amin.


HARI KAMIS BIASA XXVIII A/1
19 Oktober 2017

Rm 3,21-30
Luk 11,47-54

Kamis Biasa XXVIII C/2 2016: Pemimpin Kafir
Kamis Biasa XXVIII B/1 2015: Is Conscience Dead? 
Kamis Biasa XXVIII A/2 2014: Bisnis Edan Kerajaan Allah

2 replies

  1. halo romo

    ucapan Yesus dalam bacaan kemarin memang mantap jiwahh.. bagi sya (memang semua ucapan yesus mantap sih..)

    sory mo…adanya link relasi Tuhan memberi kesempatan bagi sya utk brtanya.. apakah dengan konsolasi membuka relasi pribadi dgn Tuhan?? bagaimana mencapai konsolasi itu?? trimakasih bila romo bersedia menanggapi…

    Like

    • Konsolasi bukan target atau tujuan, itu adalah kondisi saat orang dalam proses dinamis mendekat kepada Tuhan; jadi pertanyaannya bukan bagaimana mencapai konsolasi, melainkan bagaimana dari waktu ke waktu orang mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Proses itu akan membawa orang pada konsolasi; keterbukaan orang kepada relasi pribadi dng Tuhan akan memungkinkannya punya pengalaman konsolasi (dan dalam arti tertentu desolasi juga)

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s