Malu Beragama?

Menurut Tertulianus, kata tetangga saya, teks hari ini adalah sintesis seluruh kabar gembira. Jadi, janjané, orang gak perlu susah-susah beli Kitab Suci tebal dan mahal ya [lagipula ujung-ujungnya cuma ditaruh di lemari, hayo ngaku, mosok ditaruh di magic jar], cukup punya atau hafal teks hari ini saja yang isinya doa Bapa Kami. Ciyus… 

Tentu saja, pemahaman terhadap teks singkat ini butuh aneka macam pengetahuan yang sebetulnya bisa juga diperoleh dari diskusi dengan orang-orang yang ahli Kitab Suci, sejarah, arkeologi, filologi, antropologi, sosiologi, biologi, ekonomi, filsafat, teologi, agama-agama, dan ilmu apa ajalah yang bisa diciptakan orang. Lha piye maning, memang kabar gembira itu untuk orang-orang yang hidup di dunia ini kok, maka ya apa aja yang bisa dipelajari di dunia ini bisa dipakai untuk menguak makna doa Bapa Kami itu.

Contoh. Dalam diskusi di kelas mengenai proses privatisasi agama (agama mah cuma urusan gua sama Tuhan gua, kagak ada urusan ama elu orang!), didapat keterangan bahwa gejala ini juga marak lewat media yang menyediakan tuntunan sekaligus tontonan. Silakan ditilik siaran-siaran agama yang cukup intensif di televisi tertentu yang berisi khotbah atau dakwah atau bahkan penyembuhan dengan sentuh layar, Saudara-saudara! Tumbuh subur juga bisnis religius untuk pakaian atau perlengkapan doa. Konon beberapa pengamat menyebut ini sebagai bagian dari conservative turn. Saya tidak sejauh itu melihatnya karena bukan berarti kalau saya pakai mantila [jangan sembarangan ya pakai mantila], misalnya, saya adalah konservatif. Tentu tidak begitu, cuma sableng, hahaha.

Saya hanya waspada jangan-jangan tren itu mengindikasikan privatisasi agama, alias proyek kesalehan pribadi atau kesucian narcisistik. Pada saat diskusi itulah saya mendapat pencerahan dari kata maslahah dan ‘adalah. Dua kata itu langsung menunjuk pokok persoalan yang juga bisa dipakai untuk mengerti doa yang diajarkan guru dari Nazareth pada hari ini. Maslahah bolehlah diidentikkan dengan bonum commune, kebaikan bersama; sedangkan ‘adalah tentu akar katanya klop dengan arti adil, keadilan. Tak mungkin sang guru mengajarkan doa Bapa Kami kalau perspektif maslahah dan ‘adalah itu tak menjiwai hidup keagamaannya.

Maka, tak usahlah percaya orang mengklaim berdoa Bapa Kami tetapi dia mengorupsi makna maslahah dan ‘adalah tadi. Kalau hidup orang dijiwai kedua prinsip itu, doa Bapa Kami menjorokkannya untuk melakukan deprivatisasi agama (ternyata agama bukan cuma urusan gua ama Tuhan gua, tapi juga urusan gua ama elu-elu padè). Di sini, agama tak disembunyikan, orang tak malu mengaku diri beragama, tetapi bukan demi politik identitas atau show off, melainkan demi perwujudan maslahah nan adil itu. Orang beragama macam ini takkan menindas orang lain lalu setelahnya minta keadilan; ia takkan mempermainkan hak azasi orang lain lalu setelahnya minta perlindungan HAM, dan seterusnya.

Ya Tuhan, bantulah kami supaya senantiasa berusaha bertindak adil dan memperjuangkan kepentingan bersama. Amin.


HARI SELASA PRAPASKA I
20 Februari 2018

Yes 55,10-11
Mat 6,7-15

Posting Tahun 2017: Doa Nonsense
Posting Tahun 2016: Sumur Resapan Doa

Posting
 Tahun 2015: The Power of Prayer

Posting Tahun 2014: Lord’s Prayer: Principle and Foundation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s