20 Ngibulin 30

Setelah angka cantik 212, belakangan ini nongol angka 2030, dan Anda pasti tahu saya tak akan membahas asal muasal 2030 sembari nyeruput (seragam) ko(r)p(r)i di mobil. Itu bumbu-bumbu kehidupan, dinikmati saja tapi tak usah dipikir susah. Wis sakkarepmulah Mbah arep omong opo…

Yang menarik saya dari berita hari-hari ini justru adalah wejangan dari mantan presiden RI ke simbah: Kita sudah sama-sama tua, hati-hati bicara. Sik sik sik, apa maksudnya kalau sama-sama muda njuk gak usah hati-hati bicara ya? Wis sakkarepmulah Mbah arep omong opo…

Menghadapi simbah macam begitu, bisa-bisa menang ora kajèn, kalah ngisin-isini [menang gak dapat kehormatan, kalah malu-maluin]. Maka, lebih baik tak usah ngotot melawannya, dan biarkan waktu menelan atau menguburnya. Ini yang saya dapat dari bacaan hari ini yang melanjutkan perseteruan antara si guru dari Nazareth dan orang-orang keturunan Abraham yang mestinya memegang janji kepada Allah, satu-satunya Allah mereka.

Akan tetapi, estafet pegang janji 80 generasi itu bukan juga perkara mudah loh. Bisa jadi ada hal yang terselewengkan dan kiranya generasi yang dihadapi guru dari Nazareth itu tidak juga ngeh dengan janji Abraham dengan Allah yang hidup. Menurut tuduhan si guru ini, mereka tak kenal sosok pribadi yang membuat perjanjian dengan Abraham, meskipun mereka mengklaim bahwa Tuhan yang dimaksud Abraham adalah Allah mereka juga. Kiranya karena tuduhan itu benar dan tak bisa lagi berwacana, gak nyandhak, yang ada cuma darah mendidih dan mereka mulai mengambil batu untuk merajam guru itu.

Akan tetapi, ketika mereka mengambil batu, si guru sudah lebih cepat menyelinap, hilang dari pandangan orang-orang kalap itu. Apakah si guru takut dirajam? Takut mati? Tentu bukan itu persoalannya. Lebih klop melihatnya dengan teropong kepada simbah tadi: menang ora kajen, kalah ngisin-isini. Loh, kalau si guru itu menang ya terhormat dong, Mo! Orang mesti berdecak kagum dia bisa mengalahkan orang-orang kalap itu. 

Baiglah, andaikan si guru itu berdiam diri di situ, lalu orang-orang kalap itu merajamnya tapi semua batu terpental kembali ke perajam dan mereka lari terbirit-birit. Si guru menang, hore! Njuk ngopo? Banyak musuhnya berubah jadi pengikutnya! Njuk ngopo? Ya terus melawan kolonial kekaisaran Romawi! Halahgak ada ceritanya si guru melawan penjajah Roma, tapi wis sakkarepmulah Mbah arep omong opo… Taruhlah si guru mengusir penjajah. Njuk ngopo? Jadi raja? Oke, njuk? Lama-lama mati sendiri.

Yang kayak begituan mah banyak banget. Daud juga begitu, raja-raja lainnya juga begitu. Akhirnya cuma jadi survival of the fittest. Nilai apa yang mau dipetik dari situ selain okol-okolan?
Kenyataannya tidak begitu, sekurang-kurangnya menurut catatan sejarawan bangsa Romawi-Yahudi Flavius Josephus. Si guru dari Nazareth tak terhitung sebagai penentang kekaisaran Roma. Ia menyelinap pergi bukan karena takut mati, melainkan karena tahu benar nilai yang hendak diperjuangkannya. Menang ora kajen, kalah ngisin-isini. Maka ya wis sakkarepmulah Mbah arep omong opo, soale sing mbok omongke ora penting.

Ya Allah, mohon rahmat kebijaksanaan untuk mengerti hal penting apa dalam hidup yang pantas kami perjuangkan. Amin.


KAMIS PRAPASKA V
22 Maret 2018

Kej 17,3-9
Yoh 8,51-59

Posting Tahun 2017: Agama Kok Kompetitif
Posting Tahun 2016: Gosip Aja

Posting Tahun 
2015: Batu Mulia
Posting Tahun 2014: Ikut Dia, Kagak Ada Matinye

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s