Jago Kandang

Teks bacaan hari ini mengingatkan saya pada kisah seorang kepala kepolisian di tanah Papua. Suatu kali ia ditelpon oleh warga yang minta segera dikirim personil karena di pekarangannya ada pencuri ayam. Si penelpon adalah pendatang yang memiliki usaha peternakan ayam. Seorang warga, penduduk ‘asli Papua’, rupanya melompat pagar dan menangkap beberapa ayam di kandang.

Sang polisi dengan sigap datang ke TKP bersama asistennya dan memang didapatinya seorang warga, penduduk ‘asli Papua’ di pekarangan rumah pendatang yang menelponnya.
“Ini Pak, orangnya! Ia mencuri ayam saya.”
Warga Papua yang memegang ayam dengan kedua tangannya itu terbelalak,”Siapa pencuri?”
Pendatang itu berteriak,”Ya ko itu sudah!”
Warga Papua menatap warga pendatang itu tajam-tajam,”Aiii, ko fitnah ya. Ini ayam sa pegang. Ayam sa lepas. Saya bukan pencuri!”
Sang polisi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa.

Tentu saja, warga Papua ini tak melihat bahwa sesuatu disebut kejahatan bukan hanya dilihat dari jenis perbuatan dan akibat dari perbuatan itu, melainkan juga dari motivasi atau niat jahat yang melatarbelakangi perbuatan itu. Akan tetapi, kisah itu tidak saya sodorkan di sini untuk menyampaikan wacana moral. Lagipula, saya juga tidak ingat apakah sang kepala kepolisian itu akhirnya menahan warga Papua itu atau hanya tertawa dan membiarkan warga Papua itu pergi melalui pintu pagar.

Saya malah tertarik pada bagaimana setelah tertangkap basah itu si warga Papua melepaskan ayam-ayam yang sudah dipegangnya untuk menyatakan dirinya bukan pencuri. Tentu ia akhirnya tidak mencuri, wong tidak membawa apa-apa. Saya andaikan saja warga Papua ini tidak ditahan oleh sang kepala kepolisian itu. Ia dibebaskan, sebagaimana ia telah membebaskan ayam-ayam dari genggamannya.

Kerap kali orang terkurung oleh kandang kehidupannya sendiri, tersudut oleh masalah yang sebetulnya dia bikin sendiri, dan ia tak bisa keluar dari situ. Orang tak bisa bergerak bebas, persis karena ia jadi korban conditionings, dan upayanya untuk keluar dari kungkungan conditionings tidak lain adalah conditionings juga yang diperoleh dari orang-orang yang disenanginya. Ia mencoba membebaskan diri dari conditioning satu dengan melarikan diri pada conditioning lainnya. Ya sama saja padha bae’.

Teks bacaan hari ini masih omong soal gembala seperti bacaan kemarin, tetapi digambarkan sebagai pintu. Melalui pintu ini orang bisa keluar dari kungkungan kandang dalam nuansa kebebasan, bukan keluar sebagai maling. Dalam konteks hidup umat beriman, Tuhan adalah pintu itu dan hanya relasi autentik dengan-Nyalah yang membebaskan orang dari segala kungkungan.

Bukannya orang ber-Tuhan itu malah terkungkung oleh konsep Tuhan itu ya, Mo? Barangkali bagi sebagian besar orang memang begitu, saya tak tahu, tetapi memang bangsa manusia itu punya tendensi untuk mereduksi apa saja sehingga Tuhan pun bisa jadi cuma konsep agama, bukan sosok pribadi yang bisa bergaul dengan siapa saja dan jadi inspirasi bagi orang untuk secara kreatif menemukan jalan kebebasan yang sesungguhnya. Orang yang demikian ini biasanya malah hendak lari dari agama, tetapi membangun ‘agama’ baru (ideologi) yang sebetulnya sama saja, menjadi kandang pengungkung kebebasannya, bukan pintu sesungguhnya.

Ya Allah, bantulah kami untuk menemukan pintu kebebasan yang Kau anugerahkan kepada kami. Amin.


SENIN PASKA IV
23 April 2018

Kis 11,1-18
Yoh 10,1-10

Posting 2017: Minta Dihargai Berapa?
Posting 2016: Hati Tanpa Pintu
Posting 2015: Dengar Suara Bos Besar!
Posting
2014: Keselamatan Itu Inklusif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s