Hold On for One More Day

Yang ini plagiat, meskipun bukan cuma satu orang yang mengatakannya, tetapi saya pakai justru supaya tulisan ini memang tidak dianggap sebagai tulisan saya: No one can snatch you out of your Father’s hand. Penulisnya dinamai Yohanes dan Father’s hand di situ maksudnya ialah tangan Tuhan, termasuk juga sebagaimana dimengerti oleh R.A. Kartini dalam upayanya menjaga harmoni agama yang plural di wilayahnya [Allah sebagai sosok loving and merciful Father bagi semua].

“Tak seorang pun dapat merebutmu dari tangan Tuhan.” Itu adalah doa, bisa jadi nasihat yang sebetulnya hendak saya sampaikan kepada mereka yang, untuk meringankan beban hidup yang melelahkan, datang kepada sosok imam dengan tangan rapuh seperti saya ini. Tangan saya tak bisa menyembuhkan penyakit, membangkitkan orang mati, menolak bala, dan sebagainya; dan justru karena itu saya berharap supaya siapa saja memelihara doa tadi: tak seorang pun dapat merebutmu dari tangan Tuhan. Orang bisa murtad karena perkawinan, bisa berkhianat karena siksaan, bisa laknat karena rayuan, tetapi tangan Tuhan sebenarnya tetap menggenggamnya.

Ada banyak situasi yang membuat orang tak bisa menjawab pertanyaan mesti ngapain lagi dengan hidup ini. Ini sudah dibahas pada posting Tangan Tuhan: perkawinan yang keliru (loh kawin kok keliru), anak yang tak bisa komunikasi dengan ortu, kanker tak tersembuhkan, kematian untimely, dan sebagainya. Itu momen bagi umat beriman untuk menguji dirinya sendiri, ke arah mana ia sedang menapaki hidupnya, sanggupkah ia setia, bertahan saat tragedi hidup menerpanya.

Kemarin saya menandatangani buku presensi orang dewasa yang sedang mengikuti pelajaran untuk baptis. Mungkin beliau terkejut atas pertanyaan saya, yang saya lontarkan sungguh-sungguh. Setelah saya tanya sebelum hendak baptis ini memangnya agama apa yang dipeluknya. Dia jawab agama Z, dan saya tanya kembali,”Lho mengapa sudah baik-baik dengan agama Z kok malah mau masuk agama A?” Beliau tak bisa menjawab [tentu saja, gimana mau jawab pertanyaan seperti itu?], semoga hatinya tenang, hahaha.

Romo ini kok malah memprovokasi orang yang sedang belajar untuk masuk agama Romo? Eaaaa… Untuk apa juga masuk agama saya kalau tak mengalami genggaman tangan Tuhan. Ngapain juga pindah ke agama lain kalau bukan karena genggaman Tuhan tadi? Tugas saya bukan meningkatkan angka statistik pemeluk agama saya. Saya cuma membantu, semampu saya, supaya orang bisa mengalami genggaman tangan Tuhan tadi dan meletakkan hidup di dalamnya. 

Itu susah, dan kerap kali tombok, hahaha. Sudah tombok pun belum tentu orang mau menerima tawaran itu. Jelas dongharé gini, banyak tawaran lain lebih memikat, karena tak perlu banyak mikir, tak perlu refleksi, tak perlu contact with reality, tak perlu susah-susah menyelisik apalagi mengoreksi diri.
Loh, ini curcol ya, Mo? Atau frustrasi? Hahaha….

Ya Allah, bantulah kami untuk dengan kelapangan hati dan jiwa besar meletakkan hidup kami dalam genggaman tangan-Mu. Amin.


SELASA PASKA IV
24 April 2018

Kis 11,19-26
Yoh 10,22-30

Posting 2017: Tangan Tuhan
Posting 2016: Bertindak Heroik

Posting 2015: Kristen atau Kriminal

Posting 2014: ID Card – ID Body

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s