Love is in the air

Love is in motion. If the heart does not progress, it regresses. If it does not open to welcome, it comes into closure and eventually spiritual death.

Itu bukan kata-kata saya karena kata-kata saya pada umumnya berbahasa Indonesia. Akan tetapi, kalimat itu bisa dipakai untuk mengerti teks bacaan hari ini tentang welcoming (lah, kok bukan bahasa Indonesia?). Welcoming tentu bukan sekadar pasang kèsèt bertuliskan welcome, lebih dari sekadar menerima kiriman paket.

Barangkali bisa diumpamakan seperti tanah yang, kalau subur, menerima benih untuk menumbuhkannya dan menghasilkan bunga atau buah. Bisa juga diumpamakan seperti rahim perempuan yang menerima benih kehidupan yang diletakkan padanya. Macam begitulah dikatakan bahwa cinta itu eksis dalam proses yang senantiasa bergerak ‘menjadi’. Dalam proses itu, kalau hati tak welcoming, ya jadinya regresi, ngambegmêjên. Sama-sama proses ‘menjadi’, tetapi geraknya mengkerut dan lama-lama kukut (tutup warung), mati juga secara spiritual.

Orang beriman dipanggil untuk welcoming: karena sudah terlebih dahulu diterima dengan sambutan penuh cinta Tuhan, ia menyambut semesta juga dengan cinta Tuhan itu. Seperti apa menyambut semesta dengan cinta Tuhan?
Seperti petani yang tekun merawat tanah pertaniannya.
Seperti dokter yang penuh kasih menangani pasien.
Seperti doktor yang mendedikasikan hidupnya untuk pengembangan ilmu dan masyarakat.
Seperti ibu muda yang memanusiakan bayinya.
Seperti pedagang yang mencari untung secara wajar.
Seperti sales yang fair dalam menjelaskan produk demi kepentingan konsumen.
Seperti pegawai negeri yang bekerja dengan semangat pelayanan bagi masyarakat.
Seperti polisi yang memang mengayomi masyarakat.
Seperti pemuka agama yang memang teladannya ada di muka.

Tentu masih ada banyak ‘seperti’ yang bisa ditambahkan. Yang menjadi ciri dari ‘seperti-seperti’ itu tadi ialah orang tidak mengeksklusikan liyan dari hidup bersama. Tak ada yang dikucilkan, tak ada yang dipandang rendah sedemikian rupa sehingga kekerasan dipandang lumrah. Betapa indahnya kalau orang beriman bisa welcoming semesta karena dengan itu ia welcoming Tuhan sendiri. 

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami mampu membuka hati untuk menyambut-Mu juga dalam kerasnya hidup yang kami jalani. Amin.


KAMIS PASKA IV
26 April 2018

Kis 13,13-25
Yoh 13,16-20

Posting 2017: Move On, Please!
Posting 2016: Kartini Kok Pasif

Posting 2015: Simbol Cinta

Posting 2014: Menolak Lupa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s