Sumur Buaya

Tahukah Anda di mana ada sumur buaya? Harusnya ya tahu karena hari-hari ini sedang jadi pergunjingan capres yang heran karena, mentang-mentang ini tahun politik, candanya dipersoalkan. Memang, candanya tak perlu dipersoalkan. Yang jadi persoalan kan capresnya itu, haaaahahaha (#Puasss???). Nah, sekarang jelas kan di mana sumur buaya itu? Iya betul, Boyolali. Di sana ada banyak sumur buaya, persisnya buaya yang lupa: susu murni buaya lupa alias Boyolali. Ada patung susu yang dituang dari botolnya loh, dan gak tumpah (tapi namanya monumen susu tumpah)! Ciamik tenan kok kota tetangga coklat (cowok klaten) ini, produksi susunya kimplah-kimplah.

Njuk apa hubungannya dengan teks bacaan hari ini je Mo kok bawa-bawa susu segala. Maaf, sebetulnya bukan susunya sih yang mau saya cocokkan, melainkan murninya. Relasi yang murni mestinya dibangun bukan atas dasar hukum resiprositas (timbal balik), melainkan atas dasar gratuitousness, cinta sepihak, sebagaimana cinta Allah yang merengkuh semua, termasuk mereka yang bertampang Boyolali [#upsss plis jangan adukan saya karena saya bukan capres dan saya sungguhan bangga dengan Boyolali bahkan saya sering makan soto segernya]. Nah, runyam kan kalau kemurnian diukur atas dasar cinta sepihak Allah? Pasti susahnya. Lagipula, bukankah sudah umum dikatakan bahwa relasi cinta itu senantiasa dua arah? Bukankah kalau cinta satu arah namanya bertepuk sebelah tangan?

Itu betul skale’ dan sekaligus menyatakan bahwa memang cinta Allah itu sering bertepuk sebelah tangan. Bukankah Dia juga kerap dikhianati bahkan oleh orang beragama yang sesumbar mencintai-Nya? Akan tetapi, memang itulah landasan relasi murni: bukan kesalingan, melainkan keikhlasan. Kalau orang tak ikhlas berelasi, ia mengharapkan imbalan dan jika imbalan itu tak kunjung datang, ia mengalami imbalance yang membuatnya tidak bahagia.

Lha kalau pasutri gimana Mo? Bukankah cinta mereka itu timbal balik: saling setia, saling terbuka, saling memberi dan menerima, dan saling-saling lainnya?

Yang timbal balik adalah komunikasinya. Cintanya mah tetap searah, kalau dua arah malah ada bahaya cinta diri karena akhirnya berujung pada kepentingan diri semata [mengenai ini saya sudah berpanjang lebar di buku Cara Menguji Ketulusan Cinta]. Trust me, ujung seperti itu tak membahagiakan. Kebahagiaan, berlawanan dengan pemahaman umum, terletak persis dalam cinta searah yang semakin merangkul pesta kehidupan tanpa menuntut ganjaran. Itu mengapa Paulus memberi nasihat supaya orang tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Bagaimana itu kepentingan sendiri yang sia-sia? Yang tidak memperhatikan kepentingan orang lain. Teks bacaan kedua lebih heboh lagi: berbuatlah baik kepada mereka yang tak punya apa-apa untuk membalas kebaikan itu.

Tentu saja, nasihat itu tak perlu ditelan mentah-mentah. Orang mesti mempertimbangkan nasihat lain untuk cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati supaya kebaikan tidak disalahgunakan untuk kejahatan. Lha, di situ perlu komunikasi timbal balik, tetapi tetap dalam ketulusan dan keikhlasan supaya tidak terus menerus memproduksi hoaks.

Tuhan, mohon rahmat kebesaran jiwa dan kerelaan berkorban supaya cinta-Mu semakin meluas dan mendalam. Amin.


SENIN BIASA XXXI B/2
5 November 2018

Flp 2,1-4
Luk 14,12-14

Senin Biasa XXXI A/1 2017: Makan Berapa Piring?
Senin Biasa XXXI C/2 2016: Ada Rahmat Malu?
Senin Biasa XXXI A/2 2014: Pilih Kinerja DPR Apa Menteri?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s