Ayo Hijrah, (ke) Jokowi

Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.

Ada istilah mata gelap, yang menunjukkan bahwa orang tak bisa berpikir terang lagi dan bisanya mengamuk, entah sendirian atau juga rame-rame dan berjilid-jilid. Pemicunya bisa bermacam-macam (editan video yang menghilangkan kata ‘pakai’, candaan bersentimen Boyolali), tapi kepentingan utamanya pasti berkenaan dengan kekuasaan lebih daripada kepentingan bersama.

Begitulah, power tends to corrupt dan hoaks bisa dipakai sebagai tameng standar ganda: dulu menggebu-gebu menyerang orang karena video (yang sudah diedit), sekarang berlagak heran video sendiri dijadikan konsumsi politik. Njuk karêpmu apa kalau bukan maunya menang sendiri dan kok ya masih berani-beraninya mengklaim membela kepentingan masyarakat yang belum sejahtera? Mbèlgèdhès ya mbèlgèdhès tapi mbok ya elegan gituloh. Lah, mbèlgèdhès kok elegan, bukankah mbèlgèdhès identik dengan hal yang tidak elegan: bohong, tak karuan, tak berkemampuan, dan sejenisnya?

Mbèlgèdhès yang elegan dilengkapi hijrah. Jelek-jelek gini saya pernah dengar kata hijrah yang identik dengan apa yang dialami Nabi Muhammad dan saya percaya hijrah itu bukan cuma soal Nabi Muhammad berpindah kota. Hijrah ini berkonteks penegakan Islam, mengundang orang untuk kembali kepada Allah yang sesungguhnya, bukan Allah yang dipolitisir yang berujung pada berhala. Hijrah juga bernuansa pertobatan.

Oh, jadi Romo itu mengatakan hijrahnya Jokowi mbèlgèdhès yang elegan, begitu? Enggak. Saya percaya Pak Jokowi memang sungguh mengundang orang untuk hijrah dari gelap menuju terang. Ini undangan pertobatan. Akan tetapi, sebagaimana digambarkan teks hari ini, undangan seperti itu bisa dilihat dengan mata gelap sehingga orang bisa mengutarakan aneka macam dalih, yang tidak selalu keliru, tetapi intinya ya menolak undangan. Bisa saja ajakan hijrah Jokowi itu dilihat sebagai ajakan untuk berbalik mendukungnya. Kalau Anda mau begitu ya silakan, toh memang dia most recommended capres karena kerjanya sebagai presiden juga terbukti oke!

Njuk mbèlgèdhès yang elegan tadi gimana Mo?
Contohnya sudah saya bahas pada posting Kaya Masuk Surga. Dia bilang quit Instagram dan Instagram itu dijualnya. Ini mbèlgèdhès wong dia masih memakai akunnya kok. Apakah itu bohong alias white lie? Bukan, karena poin yang mau dia jelaskan bukan quit Instagramnya, melainkan bagaimana ia jadi manusia ‘baru’ sehingga akun itu dijualnya kepada si manusia ‘baru’. Dia melakukan hijrah maknawi dan mengundang orang untuk melihat makna yang lebih dalam dari I quit Instagram. Ini bukanlah hoaks, setidak-tidaknya ia sempat setop menggunakan Instagram untuk kesia-siaan.

Sekarang bandingkanlah dengan ungkapan keprihatinan terhadap rendahnya kesejahteraan masyarakat dengan wacana ‘tampang Boyolali dan hotel berbintang’. Bisakah Anda menghubungkannya? Saya tidak. Kalau prihatin dan harus menggunakan frase tampang Boyolali, saya akan mengundang warga untuk melihat tampang-tampang Boyolali yang ‘sukses’ punya anak presiden atau kerja di mancanegara dan mengajak orang bertampang Boyolali lainnya membangun komunitas yang lebih akomodatif bagi semua. Kalau tidak, keprihatinan cuma mbèlgèdhès tak elegan.

Tuhan, mohon rahmat pertobatan supaya kami mampu melakukan hijrah kepada-Mu. Amin.


SELASA BIASA XXXI B/2
6 November 2018

Flp 2,5-11
Luk 14,15-24

Selasa Biasa XXXI A/1 2017: Selalu Ada Alasan
Selasa Biasa XXXI B/1 2015: R.S.V.P.: Bales Dong
Selasa Biasa XXXI A/2 2014: Merpati Tak Pernah Ingkar Janji

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s