Master atau Admin

Orang beriman sebaiknya intoleran dalam prinsip tetapi toleran dalam praktik. Kenapa? Karena jika orang toleran dalam prinsip, bisa jadi malah iman kepercayaannya gak jelas. Sebaliknya, kalau orang intoleran dalam praktik, bisa jadi ia tak punya cinta.

Kemarin pada dinding fesbuk kawan tertera narasi kecil berikut ini. Abu Yazid al-Busthami pernah suatu saat berjalan di gang sempit. Di tengah gang seekor anjing tiba-tiba mendekatinya. Ia pun mengangkat jubahnya, khawatir terkena najis anjing itu. Saat itulah Allah menurunkan ilham-Nya, sehingga Abu Yazid bisa mengerti ‘kata-kata’ anjing tersebut (atau ini hanya dialog imajiner saja, wallahu a’lam). Melihat sikap Abu Yazid, anjing itu menggerutu,”Andai mengenai bajumu, najisku ini akan hilang setelah kau membasuhnya dengan tujuh basuhan air dan tanah, tapi najis di hatimu yang muncul karena kesombongan (merasa lebih mulia dari seekor anjing) itu, wahai Abu Yazid, tak akan musnah meski kau basuh dengan air dari tujuh samudera.”

Anda tahu dengan sendirinya mana prinsip dan mana praktik yang tak perlu dibela sampai mati. Narasi itu bisa juga dikomentari dengan catatan: Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang (Mat 15,11 ITB). Uraiannya ada pada posting Emas Murni Ada. Hati Murni?

Teks hari ini tidak bicara soal kenajisan, tetapi berguna untuk menghindarkan kenajisan. Kata-kata Guru dari Nazareth keras: Jikalau seorang datang kepadaku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridku (Luk 14,26 ITB). Kata ‘membenci’  (μισέω – miseo) tidak bisa dipadankan dengan tindakan orang memberikan ujaran kebencian atau ketidaksukaan terhadap pribadi lain. Dalam bahasa Inggris, μισέω bisa dipadankan dengan to denounce dalam arti to love someone or something less than someone (something) else, i.e. to renounce one choice in favor of another.

Dalam bahasa Indonesia dikenal kata ‘menyangkal’. Kalau orang tak menyangkal miliknya, ia tak akan bisa sungguh beriman. Tampaknya kontradiktif (menyangkal kemilikan), tetapi beberapa kalimat setelah itu dapat memberi pencerahan mengenai penyangkalan. Digambarkan di situ bagaimana orang mesti merancang pembangunan rumah supaya tuntas dan raja yang mesti membuat perhitungan sebelum maju berperang. Perhatian dan materi yang dia punya mesti dicurahkan ke sana supaya niat atau tujuan tercapai.

Dengan begitu, sebenarnya orang jadi admin atas hal-hal yang dia punya. Bukankah tugas admin adalah mengelola hal, baik yang dia punya maupun tidak? Celakanya, orang susah beriman gampang kelimpungan karena menempatkan diri sebagai master atas hal-hal yang dimilikinya, bukan sebagai administrator. Bahkan kalau ia memang master chef, orang tetap perlu sadar diri bahwa dia ‘hanyalah’ administrator dari kemasterannya itu. Maka, orang beriman tak perlu berlagak sebagai master atas aneka hal yang sebetulnya dititipkan padanya untuk dikelola.

Dengan demikian, kalau Anda stress, silakan berefleksi diri: barangkali Anda sedang menempatkan diri sebagai master daripada administrator. Sebagai administrator, orang mesti berusaha sekuat tenaga mengelola, tetapi tak perlu merasa diri sebagai master.

Ya Allah, mohon rahmat kerendahhatian untuk menjadi administrator-Mu. Amin.


RABU BIASA XXXI B/2
7 November 2018

Flp 2,12-18
Luk 14,25-33

Rabu Biasa XXXI A/1 2017: Bencilah Cinta
Rabu Biasa XXXI B/1 2015: Agama Bebek
Rabu Biasa XXXI A/2 2014: Mengikuti Jejak Susi

2 replies

  1. Terima kasih Romo Andreas Setyawan,Mengenai Intoleran Toleran,MasterAdmin,PrinsipPraktek,mohon diluruskan kalau belum seperti ini

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s