Daripada Galau

Seorang teman mengirim video amatir di Whatsapp Group saya dan setelah menontonnya saya jadi merasa miris. Ini berkenaan dengan tahun politik yang jadi sebuah medan proxy war. Kalau ini cuma soal 01 vs 02, saya tak merasakan kemirisan itu, tetapi kalau melihat video amatir itu, ini bukan problem 01 vs 02, melainkan problem kesehatan mental dan kewarasan berpikir. Videonya hanyalah dokumentasi seorang ibu yang bertanya kepada penceramahnya. Mungkin kejadiannya di Medan dan barangkali penceramah ini dianggap si ibu itu menjelek-jelekkan pemerintah. Sayang saya tak tahu isi ceramahnya, tetapi menurut penuturan ibu penanya itu, tema ceramahnya itu-itu terus dan memojokkan pemerintah. Kegaduhan yang timbul karena pertanyaan itu memuat komentar yang terekam dalam video itu bahwa si ibu itu adalah ‘kiriman’ alias penyusup.

Kepada teman-teman saya sampaikan bahwa saya tidak risau dengan 01 vs 02. Mereka baik-baik saja. Akan tetapi, seperti kemarin sudah saya sampaikan, siapa di belakang mereka itulah yang pantas membuat orang risau dan waspada. Baiklah saya ingatkan lagi falsafah orang Irlandia di sini:

Dalam hidup ini hanya ada dua hal yang pantas membuat Anda risau: Anda baik-baik saja atau Anda sakit.
Kalau Anda baik-baik saja, Anda tidak risau.
Tapi jika Anda sakit, hanya ada dua hal yang pantas membuat Anda risau: Anda sembuh atau Anda mati.
Kalau sembuh, Anda tidak risau.
Tapi jika Anda mati, hanya ada dua hal yang pantas membuat Anda risau: Anda masuk surga atau neraka.
Kalau masuk surga, Anda tidak risau.
Tapi jika Anda masuk neraka, Anda akan sedemikian sibuk bersilaturahmi dengan semua kerabat dan teman dari bumi sehingga Anda tak punya waktu untuk risau.

Jadi, kenapa mesti risau dengan proxy war tadi ya? Daripada risau, mending nonton video yang musiknya booming pada tahun lalu.
Memang risau bukan istilah yang tepat untuk menggambarkan disposisi batin saya.

Teks bacaan hari ini menawarkan kata lain: melihat dan melihat. Eh, Romo sehat?
Sudah pernah saya ketik pada posting Bumi Datar Ya Ampun tentang dua kata melihat itu: βλέπω (blepo) dan ὁράω (horao). Keduanya berarti melihat tetapi matranya berbeda. Yang satu melihat objek indra, yang lain melihat objek yang baru bisa ditangkap dengan mata batin. Dua kata itu dipakai Guru dari Nazareth dalam teks bacaan hari ini untuk mengingatkan para muridnya supaya berjaga-jaga dan waspada terhadap ragi orang Farisi dan Herodes. Farisi itu representasi agama dan Herodes adalah representasi kekuasaan politik. Orang mesti waspada, tak perlu risau, apalagi ketika dua entitas tadi berkolusi alias berkelindan.

Kalau begitu, dengan modal βλέπω, pembaca blog ini mengerti bagaimana 01 dan 02 memanfaatkan kelindan politik dan agama. Dengan modal ὁράω, orang mengkaji lebih jauh apakah kelindan politik dan agama itu mengabdi kemanusiaan, atau malah membuat manusia jadi kampret dan cebong. Dengan kata lain, ajakan Guru dari Nazareth itu berbunyi supaya orang beriman, alih-alih risau, mengasah kemampuannya untuk reading between the lines (yang mengandaikan pengetahuan akan yang tersurat) untuk membuat pertimbangan dan mengambil keputusan.

Tuhan, kami mohon rahmat kebijaksanaan-Mu. Amin.


SELASA BIASA VI C/1
19 Februari 2019

Kej 6,5-8; 7,1.5-10
Mrk 8,14-21

Posting Tahun B/2 2018: Jogja, Kamu Bisa!
Posting Tahun A/1 2017: Tuhan Saja Bertobat
Posting Tahun B/1 2015: Hatinya Mana?
Posting Tahun A/2 2014: You Miss The Point, Bro’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s