Maafkan Hoaks

Konon ada mantan jendral yang sedang berkampanye dan dari atas mobilnya ia memukul tangan seseorang, yang konon adalah petugas keamanan. Belakangan petugas keamanan ini membuat siaran permintaan maaf. Lha wong sudah dipukul mantan jendral yang dikawalnya kok malah minta maaf!
Oh, jebulnya petugas ini menjalankan tugas secara kurang humanis, maka dia langsung dimarahi di TKP oleh mantan jendral itu. Berarti, mantan jendral itu menginginkan pengamanan yang humanis (kayak siapa sih?). Imaji apa yang tertampilkan dari permintaan maaf itu?

Pertama, tentu saja calon jendral itu #eh… calon presiden maksud saya, punya ide pendekatan humanis. Kedua, petugas kepolisian itu, kalau tidak dimarahi, bawaannya kurang humanis. Ciamik tenan nih capresnya!
Akan tetapi, dengan segala hormat terhadap hoaks, perkenankanlah saya menyodorkan imaji yang lebih lengkap daripada dua imaji tersebut. Saya tidak mengatakan bahwa dua imaji itu hoaks. Saya cuma mau mengingatkan Anda pada imaji lain yang berguna untuk memberi penilaian.

Andaikan saja mantan jendral itu menghentikan mobilnya, lalu ia menarik baik-baik petugasnya ke dalam mobil dan di dalam mobil dia memarahinya tanpa terlihat dan terdengar orang di luar, barangkali imajinya sebagai capres yang humanis akan melejit. Kalau yang ditampilkan malah sosok yang marah-marah, njuk apa bedanya dengan pendekatan yang kurang humanis yang dilakukan petugasnya? Jangan-jangan memang bawaannya ya marah-marah seperti itu. Untung tak ada hape nganggur di dekat situ.

Lalu, kalau saja petugas kepolisian itu membuat siaran permintaan maaf dengan latar belakang kantor kepolisian, tentulah permintaan maaf itu sangat meyakinkan sebagai pengakuan publik bahwa kepolisian telah lalai menjalankan tugas secara humanis. Kalau latar belakangnya malah poster paslon, aih aih, apakah maksudnya kepolisian tunduk pada paslon, begitu? Atau kepolisian dibayar paslon? Atau gimana?
Ternyata gak gampang juga ya ja’im alias bikin pencitraaan😂, harus memperhatikan detail ruang dan waktu, tetapi celakanya, kalau karakternya tak sesuai dengan citra yang diinginkan, akhirnya karakter aslinya juga yang akan terkuak. 

Teks bacaan pertama hari ini menampilkan sosok nabi yang gagal menunjukkan citra Allah, yang maharahim lagi penyayang. Dialah Yunus, yang alih-alih mengharapkan pertobatan para pendosa, malah marah-marah karena pendosanya bertobat sehingga mendapat kemurahhatian Allah. Apakah itu gerutu dan kemarahan itu eksklusif milik Yunus? Tentu tidak. Teks bacaan kedua hari ini adalah wacana yang objeknya adalah angkatan yang degil hatinya, yang meminta tanda tetapi tetap keukeuh sebagai pihak yang bener sendiri. 

Apakah itu eksklusif milik angkatan yang disinggung Guru dari Nazareth? Tentu tidak. Angkatan jahat itu juga menemukan manifestasinya pada orang zaman now yang cuma bisa menghakimi pihak lain sebagai penebar hoaks, tetapi tak berbuat apa-apa supaya penebaran hoaks itu tak merajalela. Gregetan gak sih kalau perekayasa dan penebar hoaks ini mendapat kekuasaan? Rasanya ingin membuat mereka jadi perkedel, tapi apalah gunanya memelihara gregetan itu. Lebih baik dikonversi sebagai tawa prihatin.
Kalau tak kuasa menahan gempuran hoaks itu, sekurang-kurangnya orang bisa mendoakan supaya perekayasa dan penebar hoaks itu bertobat sebelum NKRI punah.

Ya Tuhan, mohon rahmat untuk mewujudkan kerahiman-Mu. Amin.


HARI RABU PRAPASKA I
13 Maret 2019

Yun 3,1-10
Luk 11,29-32

Posting 2018: Jalan (Gagal) Pulang
Posting 2017: The Power of Emak

Posting 2016: Apa Guna Posesif?

Posting
2015: Belajar Tobat dari Orang Lain

Posting 2014: Repentance: Fusion of Horizons

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s