Menanam Jagung ’98

Mendekati berakhirnya masa kampanye, saya masih mau mengenang peristiwa seputar tahun 1998. Salah satu teman sekelas saya memang hilang, dan saya kira dia hilang bersama nyawanya (RIP). Sejujurnya, saya tak tahu latar belakang teman sekelas ini sehingga ia jadi korban penculikan. Malah saya berpikir teman sekelas yang lainnyalah yang seharusnya jadi target karena dia termasuk dedengkot jaringan mahasiswa di Jakarta sejak 1995.

Gara-gara dia juga saya jadi tahu ada kampus yang cuma terdiri dari tiga kelas dengan nama yang asalnya dari tokoh kerajaan sekitar Majapahit dulu. Tentu juga karena saya ditugasi ketua senat mahasiswa untuk ikut rapat gerakan mahasiswa yang berpindah-pindah dari satu kampus ke kampus lainnya. Zaman itu, bahkan pager pun saya tak punya, dan itu berarti ketemu orang sangatlah penting, sehingga memang mau tak mau saya mesti ikut rapat gerakan ini supaya tak ketinggalan info. Paragraf ini tak penting [lah… terlanjur baca, Rom!]

Yang mau saya kisahkan adalah kawan yang seharusnya jadi target penculikan itu. Sampai sekarang dia masih gentayangan, entah di dunia maya atau di dunia kakaknya maya [Loh kan maya ini anak sulung? Ya kan masih ada kakak sepupu #halah]. Dulu sewaktu pasca penembakan di Trisakti, kami mahasiswa makin solid dan pada bulan November kami berkumpul di Atma Jaya Jakarta. Peristiwanya dikenal sebagai Tragedi Semanggi. Teman saya ini jadi salah satu orang yang memberikan orasi, tetapi menariknya, ia mengajak kami bernyanyi.

Melodinya adalah lagu Menanam Jagung ciptaan Ibu Sud. Refrennya saja yang dipakai: cangkul, cangkul, cangkul yang dalam, tanah yang longgar jagung kutanam.
Teman saya ini tentu mengganti liriknya. Lha ngapain coba demo malah nyanyi jagung kutanam? Liriknya jadi begini: gantung, gantung, gantung Soeharto, gantung Soeharto di tugu Monas.

Seluruh mahasiswa di halaman kampus Atma Jaya itu bersemangat menyanyikannya. Belum banyak aparat militer yang berada di Semanggi. Hanya ada pasukan marinir, yang waktu itu di mata mahasiswa lebih bersahabat daripada kesatuan TNI lainnya. Setelah lagu itu selesai dinyanyikan beberapa kali, orasi dilanjutkan oleh orang lain, tetapi untuk beberapa saat kemudian terjadi kekosongan dan kalau suasana jadi cair, kiranya riskan juga.

Maka, teman saya tadi kembali naik ke podium dan mengajak bernyanyi, lagu yang sama, tetapi liriknya dia ganti lagi.
“Gantung, gantung, gantung Habibie, gantung Habibie [kami semua, saya kira, berpikir bahwa frase berikutnya ialah ‘di tugu Monas’, tetapi ternyata] di samping Harto”
Dan pecahlah tawa seluruh mahasiswa di situ. Saya pun mengetik ini dengan senyum-senyum sendiri [lha teman kos saya sudah pada pergi semua].

Bukan hanya senyum karena kelucuan dan kecerdikan teman saya ini, melainkan juga senyum bangga dan syukur atas seorang teman yang memberikan kesaksian di depan mata saya akan sosok yang dikisahkan dalam teks hari ini, sosok yang tak takut kehilangan bahkan nyawanya sendiri. Bisnisnya adalah menguak kebenaran, dan ia berani menghadapi mereka yang dengan segala cara mau mengatakan pokoknya #2019gantipresiden eeeeeh…… maaf sengaja.

Beberapa saat setelah itu memang terjadi penembakan dengan korban tewas dan luka. Teman kos saya juga ikut tertembak. Saya yang sejak 96 berdoa supaya kena tembak, tak kena tembak juga (mungkin kebanyakan main game PUBG #halah], tetapi sejujurnya, suasana sore malam hari itu mengerikan. Bukan cuma gas air mata lagi, tetapi juga peluru tajam dengan dentuman bom suara yang membuat suasana sungguh seperti perang dan mahasiswa kocar kacir. Malam itu, dari Semanggi saya berjalan kaki pulang sampai ke Kampung Ambon, melelahkan, tetapi juga perasaan dan pikiran campur aduk, tak mengerti skenario besar yang membuat anak bangsa mesti meregang nyawa.

Salah seorang yang terlibat dalam rangkaian tragedi berdarah itu sekarang mengusung dirinya untuk jadi pemimpin bangsa. Piye jal, kok bisa lolos seleksi? Ora dong aku, tetapi yang bikin kepala saya lebih bergeleng-geleng lagi ialah bahwa masih ada sekelompok orang yang fanatik mendukung orang seperti ini #hadeeeeeuh.

Saya mendoakan orang-orang seperti teman saya itu tadi, yang tidak takut bukan karena hasrat untuk berkuasa. Dia bahkan tak ikut berpolitik lewat lembaga seperti teman-teman pergerakan 1998 lainnya, tetapi dalam kebebasannya terus berjuang memberantas kebodohan dan memerangi kemiskinan! [Loh kok jadi lagu Wajib Belajar.] Begitulah kebenaran membebaskan mereka. Semoga rahmat Allah sendirilah yang memberanikan diri mereka berjuang sampai kesudahannya.

Marilah berdoa, dan membuat doa itu jadi konkret, supaya presiden berikutnya tetaplah RI Nomor Satu, sesuai plat nomor mobilnya. Amin.


HARI RABU PRAPASKA V
10 April 2019

Dan 3,14-20.24-25.28
Yoh 8,31-42

Posting 2018: To tell you the truth
Posting 2017: Manakah Agama Allah?

Posting 2016: Keliatannya Aja Bebas
 
Posting 2014
: Kebebasan Macam Apa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s