Jagoan Siap Kalah

Musim kampanye hampir tiba kesudahannya. Mari belajar logika selayang pandang dengan memperhatikan isu yang dihembuskan sekelompok orang yang berdasarkan survei internal kelompoknya, paslonnya menang. Kalau kalah, berarti dicurangi. Silakan tebak: di manakah lucunya silogisme atau logikanya?

Lucunya ialah gak ada premis mayornya. Kalau adanya cuma premis minor ya gak bisa menyimpulkan apa-apa. Premis mayornya apa toh? Semua yang kalah, pasti karena dicurangi. 

Akan tetapi, gimana bisa dapat premis mayor kèk gitu kalau tak membuktikan dulu bahwa yang kalah-kalah itu dicurangi? Jangan-jangan 2014 kemarin dicurangi ya?😝 [Padahal yang curang survei internalnya, malah menuding-nuding KPU yang tidak netral, piye jal.]

Tapi sudahlah, tak usah belajar logika lagi, saya juga sudah puyeng! Lebih baik menyiapkan diri untuk kalah saja, karena jagoan siap kalah. Ini aneh memang, jagoan kok siap kalah; tetapi memang begitulah jagoan. Kalau tak siap kalah, namanya bukan jagoan, melainkan sok jago.

Saya menyimak penuturan dosen saya, yang setelah saya timbang-timbang, betul juga penerawangannya: orang-orang yang rebutan kekuasaan itu lupa bahwa bangsa Indonesia ini dulunya dibangun dengan kompromi dan kompromi itu berarti masing-masing pihak mengorbankan sebagian identitasnya. Artinya, punya ‘kekalahan’-nya masing-masing, tetapi hasil komprominya jauh lebih menguntungkan.

Misalnya, kelompok Islam tertentu mesti mengalah untuk mencabut ‘tujuh kata’, kelompok Hindu mesti menyesuaikan diri dengan Ketuhanan YME, begitu juga Buddha, yang sebenarnya tak punya konsep ketuhanan. Kompromi itu yang kemudian membuat NKRI ini terwujud. Jadi, yang penting urusan kebangsaan dulu, yang lainnya menyesuaikan. Sayangnya, kompromi itu tak terus dipelihara dan sebagian orang cenderung mau ngotot untuk mendapatkan kembali bagian yang dulu merupakan kekalahannya. Orang-orang begini inilah yang tadi disebut sok jago, bukan jagoan yang siap kalah.

Orang-orang begini juga yang tak mengerti sosok Guru dari Nazareth, yang rupanya menempuh jalur menang tanpa mengalahkan. Ya memang susah: menang tanpa mengalahkan. Itu mengapa orang ini susah dimengerti, sebagaimana orang juga susah mengerti dirinya sendiri, yang tak bisa mengalah demi kepentingan yang lebih besar. 

Saya kira, kemampuan orang melihat paradoks akan membantunya untuk menguak misteri kehidupan. Sebagaimana dalam teks bacaan hari ini dinarasikan adanya sosok yang menunjukkan kematian tetapi di baliknya ada kehidupan, kalah tapi menang. Tak banyak orang beriman bisa melihat dua aspek ini. Jadinya sok jago; memandangnya hitam putih, menilainya juga black and white, tak ada kompromi.

Loh, bukannya Romo dulu yang ngajari supaya kalau berurusan dengan yang jahat jangan berkompromi?
Lha iya, kalau halnya sudah jelas identik dengan kejahatan ya memang jangan kompromi. Makanya kemarin saya singgung 1998; harusnya tak ada kompromi kalau sudah bersangkutan dengan kejahatan: mesti ditolak. Sekali diberi kesempatan berkuasa, dia bisa jadi megaloman on fire.

Tuhan, mohon kejernihan hati untuk semakin mengenal kehendak-Mu yang tampak lemah di hadapan manusia, tetapi kuat dalam terang-Mu. Amin.


HARI SELASA PRAPASKA V
20 Maret 2018

Bil 21,4-9
Yoh 8,21-30

Posting 2018: Proxy War
Posting 2017: Situ Waras?

Posting 2016: Nonton Salib
Posting 2015: Smart Life, Dumb People

Posting 2014: Tak Tahu Diuntung, Tak Bersyukur

3 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s