Kebangkitan Adat

Ada seribu satu alasan untuk bersedih: kekalahan quick count maupun real count, bom Paska di beberapa gereja Srilanka, gempa hebat di Manila, meninggalnya petugas pemilu, tetangga kecelakaan, dan seterusnya. Dengan rasa itu pula orang bisa pulang kampung, kembali ke masa lalu dengan rutinitas hidup yang monoton sepanjang masa.

Ndelalahnya, kemarin saya mendengarkan presentasi adik angkatan mengenai masyarakat adat Boti di Nusa Tenggara Timur. Silakan klik tautannya kalau berminat menyimak. Durasinya sekitar 43 menit. Seluruh reportase visual itu dilakukan di Boti Luar karena di Boti Dalam orang tak diperkenankan memakai teknologi canggih. Boti Dalam adalah simbol reservasi adat Boti dalam bentuk primitifnya [N.B. kata primitif merujuk pada bentuk awal, bukan soal positif negatifnya bentuk awal itu]. Komunitas Boti ini memercayai Uis Pah dan Uis Neno, suatu paham Allah yang merujuk kualitas ibu dan ayah dalam semesta.

Menariknya, meskipun komunitas Boti Dalam ini tak menerima teknologi canggih, mereka tetap membagi tugas supaya masyarakatnya tetap mendapat pendidikan modern. Beberapa anak Boti Dalam ditugasi belajar di luar. Bahkan ada juga anggota komunitas Boti Dalam yang mengajar di universitas. Pokoknya, kalau mereka kembali ke Boti Dalam, mereka hidup sepenuhnya seturut adat tradisi Boti Dalam: dengan kepercayaan Uis Pah ma Uis Neno, tanpa kendaraan, tanpa televisi, tanpa hape, tanpa listrik, dan sebagainya. 

Agama, saya kira, dulunya juga seperti itu. Hanya saja, agama memiliki keterbukaan yang lebih luas daripada masyarakat adat. Nota bene, lebih luas tidak identik dengan lebih baik karena itu juga bisa jadi kontroversi: lebih baik menurut siapa.
Narasi teks hari ini mengingatkan saya pada dinamika hidup masyarakat adat itu. Dua murid yang galau itu hendak kembali ke adatnya, tetapi kemudian pergi lagi ke luar untuk mewartakan misteri kebangkitan dalam hidup mereka. Lalu muncullah pertanyaan di benak saya. Mungkinkah orang mewartakan kebangkitan dengan kembali ke tradisi adat primitifnya?

Sepintas lalu, jawabannya negatif karena pada kenyataannya, agama mayoritas di dunia ini adalah Kristen, Islam, dan Hindu, bukan agama adat tertentu. Artinya, agama-agama ‘besar’ itu telah jadi pacman (ya ampun mainan 80-an) bagi agama-agama adat. Artinya, kebangkitan tidak compatible dengan adat kebiasaan primitif. Seakan-akan itulah insight yang bisa dipetik dari teks bacaan hari ini.

Akan tetapi, sesederhana itukah kebangkitan? Kebangkitan adalah soal roh, semangat, daya hidup yang menjiwai orang, terlepas dari bagaimana cara penataannya.
Mengapa orang Boti Dalam menolak teknologi canggih? Karena itu membuat orang malas! Teknologi, konon dicipta untuk mempermudah, bukan mempermalas.
Tebersitlah di kepala saya bagaimana orang modern naik-turun eskalator bermentalkan naik-turun lift dan bisa jadi karena malas, dan itulah mengapa orang tidak bisa menghakimi bahwa modernisme lebih baik daripada tradisi primitif.

Yang sekarang ini mengancam hidup bersama akibat modernisme sudah diantisipasi tradisi adat primitif. Obat yang disodorkan agama-agama ‘besar’ sudah sejak dulu dihidupi komunitas adat semacam Boti ini. Ini klip video Chris Botti #loh:

Barangkali, misteri kebangkitan tak terpahami tanpa pengakuan hidup manusia yang fragile.
Semoga megalomania tak bertumbuh subur di bumi ini. Amin
.


RABU DALAM OKTAF PASKA
24 April 2019

Kis 3,1-10
Luk 24,13-35

Posting 2018: Karyawisata Kebangkitan
Posting 2017: Jumpa Allah Langsung? Gombal!

Posting 2016: Target Mengalahkan Ahong

Posting 2015: Misa Itu Penting Gak Sih?

Posting 2014: What You Leave In Others

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s