Kerohanian Sportif

Nothing finite, not even the whole world, can satisfy human soul that feels the need of the eternal. (Søren Kierkegaard)
Tanya kenapa!
Hidup kekal adalah hidup Allah sendiri yang dilimpahkannya dalam dunia terbatas ini. Yang Muslim menerimanya sebagai Sabda dalam Alquran. Yang Kristen menerimanya sebagai pribadi Yesus Kristus. Yang lainnya, silakan cari sendiri ya; pokoknya hidup ilahi itu tidak dimakan sendiri oleh Allah, tetapi dibagikan-Nya ke dalam dunia terbatas ini.

Karena masih berhubungan dengan roti hidup, jadinya saya kembali lagi ke Jürgen Klopp yang kemarin saya ceritakan itu. Tadi saat sahur, timnya Jürgen Klopp mesti menaklukkan gawang Ter Stegen setelah defisit tiga gol pada pertandingan pertama untuk melaju ke final Champions League. Saya baru menontonnya setelah babak kedua berjalan setengah jam sehingga masih bisa menikmat pertandingan, termasuk rancangan brilian gol penentu Liverpool. Sayang Ter Stegen kebobolan lagi, tetapi apa mau dikata memang pilihannya tinggal menang atau kalah? The mission accomplished untuk Liverpool dan Jürgen Klopp mungkin tak mengira bahwa anak-anak asuhannya bisa membalikkan keadaan, bahkan pada saat Salah dan Firmino tidak bermain.

Begitulah permainan. Begitulah finite world. Yang penting, orang menghidupi setiap momennya dalam konteks mengaktualisasikan potensi dirinya, bukan untuk mengalahkan yang lain, melainkan untuk menampilkan permainan terbaik. Kekalahan pihak lain bukan tujuan kemenangan, melainkan konsekuensi finite world. Kalau mau melihat kemenangan yang tidak memuat konsekuensi finite world, silakan lihat target bulan suci Ramadhan, misalnya. Kemenangan diperoleh ketika orang menyucikan hidupnya dengan puasa dan pantang, tanpa mengalahkan pihak lain (yang tidak berpuasa, misalnya).   

Sayangnya, dalam dunia terbatas ini, sebagian orang hanya memasang target mengalahkan yang lain sehingga bukan permainan terbaik yang diwujudkannya, melainkan cara-cara pengecut untuk menang. Sebagian orang menghayati hidup beragamanya bukan dengan mengendalikan diri sendiri, melainkan malah mengendalikan orang lain. Untuk soal ini, saya tak perlu memberikan contohnya, tetapi itu benar-benar memprihatinkan: mengambil jiwa sportivitas olah raga tidak bisa, mengambil insight kemenangan dari kerohanian agama juga tidak bisa. Ha njuk politiknya ya jadi kotor meskipun dibalut jubah putih bersih!

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami semakin menghayati hidup sebagai percikan keilahian-Mu. Amin.


RABU PASKA III
8 Mei 2019

Kis 8,1b-8
Yoh 6,35-40

Posting 2018: Sirene dan Strobo
Posting 2016: Roti Hidup vs Hati Korup

Posting 2015: Broken, Bright Life

Posting 2014: Awas Kekuatan Gelap!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s