Enjoy Your Life 2

Pada hari kedua puasa ini lagi-lagi bacaannya nyangkut-nyangkut soal makanan. Ceritanya sih orang-orang Yahudi meminta tanda kepada Guru dari Nazareth supaya mereka percaya bahwa dia benar-benar utusan Allah. Referensi mereka ialah bahwa pada zaman Musa dulu nenek moyang mereka makan roti yang datang dari surga, sehingga mereka percaya bahwa Musa itu memang nabi dari Allah.

Akan tetapi, Yesus ini mengingatkan mereka bahwa bukan Musa yang memberikan manna (roti dari langit) itu, melainkan Allah, yang dia sebut sebagai Bapa. Manusia malang, mereka meminta roti surga yang memberi kehidupan itu dan Yesus menjawab,”Akulah roti hidup.” Wacana ini mirip dengan dialog Guru dari Nazareth dengan wanita Samaria yang meminta air kehidupan dan dijawab seperti itu,”Akulah air kehidupan.” Akan tetapi, manusia malang tetap juga menangkap pernyataan itu dengan pola pikir materialistik tanpa insight kebangkitan. 

Sudah jelas bahwa Guru dari Nazareth sama sekali tidak mengajarkan kanibalisme. Itu juga berarti bahwa meskipun Kristus yang bangkit itu tersambung dengan fisik Guru dari Nazareth, roti dan air kehidupan tak bisa dizonasi pada fisik Guru dari Nazareth itu. Ini memang tidak mudah dimengerti, apalagi oleh orang-orang yang beragama secara fanatik dengan modal ‘pokoknya’. Bagi orang-orang seperti ini, sulitlah membedakan antara Yesus sebelum agama Kristen (Yesus historis) dan sesudahnya (Yesus yang disebut Kristus).

Seandainya mau membedakannya saja (meskipun memang tak berarti memisahkan juga), orang bisa mengerti bahwa roti dan air kehidupan yang ditawarkan Guru dari Nazareth itu bukan Yesus historisnya. Kalau itu yang dipegang, wajarlah terjadi kontroversi. Akan tetapi, kalau orang memahami roti dan air hidup itu adalah Yesus yang disebut Kristus, orang tak akan bisa sembarangan mengklaim bahwa roti hidup itu eksklusif milik agama tertentu karena roti itu bukan lagi sesuatu yang material. Memang ini tidak gampang: bagaimana orang bisa menyeberang dari yang material ke yang nonmaterial, dari fisika ke metafisika. Kebanyakan yang mengklaim berhasil menyeberang adalah mereka yang percaya pada setan gundul #eh.

Maafkan darah Jerman saya, lagi-lagi saya terpukau oleh manajer Jürgen Klopp karena menurut saya ia memberi contoh tindakan ‘menyeberang’ tadi. Dari wawancara dengannya bisa diketahui paradigmanya mengenai kehidupan yang selalu move on, geraknya ke depan, dalam kesadaran bahwa iman orang itu tidak sekali jadi untuk selamanya: setiap momen, setiap latihan, setiap pertandingan adalah jawaban orang terhadap panggilan hidupnya. Maka, orang tak bisa mengukur kegagalan atau keberhasilan hidupnya hanya dari satu momen tertentu: juara premier league atau champions league, misalnya.

Tapi apa mau dikata, tentu lebih banyak orang yang menginginkan label juara, dan ini bisa memengaruhi pemilik klub, manajer, pemain, atau bahkan penonton. Jürgen Klopp mengingatkan saya akan air dan roti hidup: saya mengikuti pertandingan untuk menikmati permainannya, bukan untuk mengetahui skor akhir yang pada momen tertentu akan dilabeli kalah atau menang. By the way, hidup bukan soal kalah menang, melainkan soal menikmati azas dan dasar dari momen ke momen, bagaimanapun label atau price tag mau dicantolkan.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami mampu hidup dari roti kehidupan-Mu. Amin.


SELASA PASKA III
7 Mei 2019

Kis 7,51-8,1a
Yoh 6,30-35

Posting 2018: Makan Tuh Iman
Posting 2017: Bakar Bunga

Posting 2016: Roti Surga, Selai Neraka

Posting 2015: Tanda Tangan Allah

Posting 2014: Weak But Strong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s