Pemain Pengganti

Saya minta maaf lagi atas darah Jerman saya (tak perlu terlalu siries mengartikannya). Anda tahu bahwa saya pendukung Jürgen Klopp di liga sepak bola Inggris, meskipun juara musim ini adalah Manchester City. Ketika pasukan Jürgen Klopp melawan Manchester City, nafsu menonton saya berkurang karena dalam starting eleven skuad Manchester City ada Leroy Sané dan kemudian masuk Ilkay Gündogan. Keduanya dari Jerman. Jadi dua lawan satu, dan skornya 2-1, dan itulah satu-satunya kekalahan Liverpool di liga Inggris musim ini. Leroy Sané sendiri kerap jadi pemain pengganti tetapi kalau dia mulai masuk, saya yang semula menjagokan lawan Manchester City njuk klêpêk-klêpêk pasrah.

Akan tetapi, dari situ saya belajar bahwa pemain pengganti tidak bisa diidentikkan sebagai pemain kawé dua. Pemain pengganti adalah pemain pengganti pemain yang digantikannya #loh. Artinya, bahkan kalau dia duduk di bangku cadangan, itu tidak menunjukkan bahwa dia lebih buruk daripada pemain yang digantikannya. Siapa bermain lebih dulu dan apakah pemain pengganti tetap di bangku cadangan atau menggantikan pemain lain lebih berkaitan dengan strategi dan taktik manajer daripada soal pemain yang satu lebih berkualitas daripada pemain pengganti.

Gereja Katolik hari ini merayakan pesta Matias yang menggantikan rasul keduabelas yang telah menghabisi nyawanya sendiri. Angka dua belas rupanya ‘keramat’ bagi para rasul. Menariknya, cara mereka memilih pengganti Yudas Iskariot itu pada akhirnya ditempuh bukan lewat pemilu. Lha wong pilihannya tinggal dua. Baik 01 maupun 02 ya diterima sama baiknya sebagai pemain pengganti. Alhasil, pilihan itu dilakukan dengan undian, dan yang mendapat undian itu bernama Matias. Deal, dialah pemain pengganti itu.

Dalam doktrin Gereja Katolik, kematian dua belas rasul itu menandai berakhirnya wahyu publik sehingga tak ada lagi rasul dalam arti dua belas rasul itu. Akan tetapi, pemain pengganti itu tidak berhenti pada Matias. Bahkan, bisa juga orang beriman mendaftarkan diri sebagai rasul ke-13/14/15 dst. Lebih daripada itu bisa juga: menjadi alter Christus! Nah, kalau gitu, mengapa sih orang mesti ribut dengan gelar nabi (palsu)? Wong jadi alter Christus saja dianjurkan, mosok menjalankan fungsi kenabian, jadi pemain pengganti bagi Kristus, mesti dicap sebagai nabi palsu?
Lha kan memang doktrin agama bunyinya begitu, Rom?
Itulah paradoks doktrin agama jika diterima mentah-mentah tanpa melihat konteks hidup manusia.

Kemarin saya diingatkan tetangga kamar saya mengenai anekdot Uskup Suharyo sewaktu khotbah tahbisan para imam di kota tinggal saya ini.
Seorang penerjun payung nyangkut di sebuah pohon dan seorang pastor lewat di bawahnya. Sang penerjun payung berteriak menanyakan posisinya. “Pak, maaf, ini saya ada di mana ya?”
Sang pastor menjawab,”Di pohon kelapa.”
“Bapak ini pastor ya?”
“Loh, kok Anda tahu saya pastor?”
“Soalnya jawaban Bapak benar, tapi tidak berguna.”😝

Doktrin agama tentu baik maksudnya, tetapi kalau tidak dimengerti secara kontekstual dalam masyarakat yang semakin plural ini, doktrin itu tak berguna. Orang beriman, di mana pun, adalah pemain pengganti yang tugasnya mendayagunakan Sabda Allah. Tolok ukurnya: kasihilah seorang akan yang lain. Tentu, mandat ini juga butuh penafsirkan kontekstual terus menerus.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami dapat menjadi pemain pengganti-Mu. Amin.


PESTA S. MATIAS RASUL
(Selasa Paska IV)
14 Mei 2019

Kis 1,15-17.20-26
Yoh 15,9-17

Posting 2018: Bayu Riyanto
Posting 2016: Wanita Hebat

Posting 2014: Berjudi dengan Kehidupan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s