Belum Legawa Juga?

Berita pemilu mengingatkan seorang senior pada permainan anak tradisional semacam main gundu, gobak sodor, petak umpet. Berita pemilu mana? Itu, soal menolak hasil kerja KPU. Kerja mati-matian untuk pemilu dengan banyak korban itu hendak ditolak, dituduh memuat banyak kecurangan. Padahal, kecurangan bisa jadi (lebih banyak) dilakukan penuduh dan penolak hasil kerja KPU itu sendiri loh!
Ingatan senior saya itu satir, seakan membandingkan bahwa anak-anak saja bisa menerima kekalahan (karena mereka bermain demi hakikat permainan), ini yang bangkot malah mutungan bin ngambekan dan ujung-ujungnya menolak hasil permainan.

Dari perspektif teori permainan bisa saja dijelaskan bahwa sikap itu terjadi karena taruhannya terlalu besar: tak ada yang mau kalah kalau hidupnya jadi terancam bahaya besar. Bukankah itu juga yang ada di benak pemilih yang landasan memilihnya ‘jangan sampai yang jahat berkuasa’? Ndelalahnya, menurut quick count dan real count KPU sejauh ini, pemilih bermodalkan ‘jangan sampai yang lebih buruk berkuasa’ itulah yang menang. Saya ada di dalamnya. Jadi, sebetulnya sikap tak mau kalah itu ada juga dalam diri saya.

Ya, sikap itu memang diperlukan juga dalam permainan politik. Gak seru kan kalau pertandingan terjadi sangat timpang atau salah satu partisipannya terlihat ogah-ogahan untuk menyerang atau bertahan? Sikap tak mau kalah diperlukan supaya atmosfir permainan terjaga. Akan tetapi, sikap tak mau kalah ini semestinya tutup usia setelah permainan berakhir. Lha wong fungsinya untuk menghidupkan permainan kok dipelihara setelah permainan berakhir. Apa ya malah tidak bikin chaos [ada loh fan yang berduel dengan pemain klub kesayangannya karena kecewa kalah]?

Saya jadi ingat suara filsuf Yunani bernama Plato. Kita bisa maklum dan memaafkan seorang anak yang takut kegelapan. Akan tetapi, tragedi nyata kehidupan ini terjadi ketika seorang dewasa takut pada terang!

Saya bisa mentransfer ungkapan Plato itu dalam dunia agama juga. Bayangkanlah bagaimana seorang anak diajari oleh orang dewasa mengenai agama tertentu. Tentu saja, di dunia ini agama tidak cuma satu dua, tetapi ribuan jumlahnya. Akibatnya, seorang anak hanya bisa memandang agama lain sebagai sesuatu yang gelap, lha wong tak tahu menahu. Celakanya, takutnya anak kecil terhadap kegelapan itu diperparah oleh takutnya orang dewasa terhadap terang!
Maksudmu apa sih, Rom? Romo ini pasti pastor, karena kata-katanya benar tapi tak berguna.😂

Mari berkaca pada diri sendiri kalau-kalau pernah mengajarkan agama kepada anak-anak dengan sisipan eksklusivisme: agama lain sesat, penganutnya laknat, sengsara pula di akhirat. Sisipan ini hanya menunjukkan ketakutan orang dewasa terhadap terang: bahwa terang itu sendiri teraktualisasi ketika orang mau belajar dari agama lain, dari yang berbeda.
Dalam kerangka itulah saya membaca teks bacaan hari ini: Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang. Ini bukan doktrin agama, melainkan pernyataan reflektif orang beriman bahwa terang dari Allah datang juga lewat pribadi atau hal yang berbeda dari agama yang dikenal pada masa kanak-kanak, ketika masih takut pada kegelapan. Hanya orang bangkot yang takut teranglah yang tetap tinggal seperti anak-anak, yang memandang kekalahan sebagai kegelapan. Tak bisa legawa.

Tuhan, mohon rahmat untuk melihat terang-Mu juga dalam kegagalan atau kekalahan kami. Amin.


RABU PASKA IV
15 Mei 2019

Kis 12,24-13,5a
Yoh 12,44-50

Posting 2017: Menghakimi Hakim
Posting 2016:
 Asal [Bukan] Ahok

Posting 2015: Mau Jadi Eksekutor?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s