Allah Salah Kaprah

Ada pembaca yang jeli mengikuti tulisan dalam blog ini [selain terampil melihat tulisan discount dalam mal-mal di calon bekas ibu kota] dan menyampaikan pertanyaan via inbox: mengapa belakangan ini, alih-alih menyebut Yesus (dari Nazareth), blog ini senantiasa menyebut Guru dari Nazareth?
Alasan saya sederhana: karena blog ini tidak saya maksudkan hanya untuk orang beragama Kristen. Nama ‘Yesus’ akan langsung bertendensi kekristenan, kalau bukan Yahudi.
Lho memangnya kenapa kalau bertendensi kekristenan, gak boleh? Apa jangan-jangan Romo takut menyebarkan kabar baik Kristus ya?😂

Memang saya takut: (1) takut bahwa yang Kristen buru-buru mempertuhankan Yesus dari Nazareth [dan emoh melihat kualitas kemanusiaannya] dan (2) takut bahwa yang non-Kristen menganggap tulisan-tulisan di sini jadi bagian kristenisasi. Keduanya absen di kepala saya. [Dengan mengatakan ini, ketakutan saya lari tunggang langgang]

Jalan tengah saya, saya merepresentasikannya sebagai guru, seperti kalau orang dulu suka berguru untuk menuntut ilmu kebijaksanaan hidup. Dengan begitu, siapa saja bisa berguru dari Guru dari Nazareth ini atau dari guru lainnya. Sebagian besar tulisan pada blog ini merujuk Guru dari Nazareth, dan itu sama sekali tidak menyangkal adanya guru-guru dari daerah atau tradisi lain.

Mulai hari ini, selama tiga minggu ke depan, kecuali hari Minggu, teks bacaan akan diambil dari perbincangan Guru dari Nazareth itu dengan para muridnya pada perjamuan terakhir, lima bab dalam Injil Yohanes. Seperti sudah disinggung dalam posting Humanity Needs Youtulisan Yohanes ini memuat pernyataan Guru dari Nazareth, pernyataan jemaat pengikutnya, dan juga refleksi penulis Yohanes sendiri. Saya bukan ahli yang mampu memilah-milah mana kata-kata si A, si B, dan si C, tetapi saya meyakini teks ini memuat sandi Sabda Allah yang baik dipecahkan untuk hidup kemanusiaan.

Ada dua pokok penting dalam bacaan hari ini: (1) pelayanan sebagai karakter utama Guru dari Nazareth dan (2) identitasnya sebagai pewahyuan Allah. Mengenai yang pertama, jelas. Wacana ini dibuat setelah Guru membasuh kaki para rasulnya. Mengenai yang kedua, itu sangat rawan. Memang sudah saya singgung dalam posting Ego Eimi, tetapi orang beragama bisa salah kaprah mengenai hal ini sehingga apa yang saya takutkan tadi sangat mungkin terjadi: orang mempertuhankan Yesus dan dengan demikian apa saja yang diomongkan mengenai dirinya adalah upaya kristenisasi.

Meskipun dalam keyakinan iman saya Guru dari Nazareth ini adalah pewahyuan Allah karena dia dan Allahnya (yang disebutnya Bapa itu) satu, kata ‘satu’ itu bisa menyesatkan karena orang cenderung memikirkannya sebagai kuantitas daripada kualitas. Padahal, ‘satu’ itu berarti bahwa Guru dari Nazareth mewahyukan Ego Eimi. Guru dari Nazareth ‘melayani’ Ego Eimi. Artinya, dia merealisasikan Yang Ada [lebih tepatnya mungkin Pengada] itu dalam pikiran, perkataan, dan perbuatannya. Itu sama sekali tidak berarti bahwa Guru dari Nazareth adalah Allah. Nanti ujung-ujungnya panteisme dong (karena mewahyukan Ego Eimi bukan cuma Guru dari Nazareth), dan puyenglah orang membayangkannya.

Ya Allah, mohon rahmat-Mu supaya pikiran, perkataan, dan perbuatan kami semata ditujukan untuk menguak cinta-Mu dalam keseharian hidup kami. Amin.


KAMIS PASKA IV
Peringatan S. Andreas Bobola (SJ)
16 Mei 2019

Kis 13,13-25
Yoh 13,16-20

Posting 2018: Love is in the air
Posting 2017: Move On, Please!

Posting 2016: Kartini Kok Pasif

Posting 2015: Simbol Cinta

Posting 2014: Menolak Lupa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s