Beneran Cinta?

Sebelum subuh tadi saya bersantap sahur bersama ratusan jemaat lintas agama atas undangan acara Sahur Keliling bersama istri almarhum presiden ke-4 RI. Saya harap Anda tahu namanya. Dalam ceramah beliau sempat disinggung sebuah hadis yang bunyinya kira-kira begini: memang banyak yang berpuasa tetapi yang didapatkannya hanya lapar dan dahaga. Setelah saya lihat di internet, rumusannya bisa bermacam-macam tetapi pokoknya nuansanya kira-kira berbunyi ‘berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja’.

Hadis itulah yang nemplok di kepala saya untuk mengerti teks bacaan hari ini: Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku, dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.
Loh kok bisa toh, Rom, sepertinya yang satu soal puasa dan yang lainnya soal cinta-cintaan?
Bisa aja, namanya juga romo, apa aja bisa, kecuali yang dia gak bisa. Bu Shinta menekankan bagaimana orang yang berpuasa cuma dapat pahala lapar dan haus jika menjalankannya semata sebagai kewajiban untuk menahan lapar dan haus, alih-alih mendalami amanat puasa dalam Surat Al Baqarah 183 sebagai sarana untuk menggapai iman dan takwa.

Tak mengherankan, kalau orang berpuasa fokusnya ada pada lapar dan hausnya, pun kalau dia sanggup menahannya sampai waktu berbuka, yang diperolehnya dalam puasa tadi hanyalah lapar dan haus. Lha wong yang diperhatikannya cuma lapar dan hausnya; nggarap kerjaan juga jadi tak fokus, nilai-nilai ketulusan, kejujuran keihklasan, keadilan, kesabaran pun pupus.
Begitulah juga kiranya maksud teks Yohanes menyebutkan bahwa yang mengasihi Allah ialah mereka yang memegang perintah-Nya dan melakukannya. Ini pasti bukan soal memenuhi kewajiban belaka, bahkan meskipun pada kenyataannya itu memang suatu kewajiban.

Lha piyé to Mo kalau memang kenyataannya kewajiban mosok menjalankannya bukan sebagai pemenuhan kewajiban?
Ya gak piyé-piyé, karena cinta bukan indoktrinasi, bukan juga ideologi. Kalau orang hanya menjalankan perintah agama sebagai kewajiban, ia sedang menghidupi dirinya sebagai korban indoktrinasi. Ini seperti serombongan orang yang diberi mandat dengan fasilitas untuk ke ibu kota demi acara 22 Mei, ketika ditanyai alasan ke Jakarta, bingunglah menjawabnya dan jawabannya gak jelas binti géjé banget. Yang disampaikan Bu Shinta mengingatkan orang beriman supaya tidak jadi korban konyol indoktrinasi.

Contohlah saya, berpuasa bukan karena menjalankan kewajiban, melainkan karena terpaksa mesti menurunkan bobot saya😂🤣🤣🤣. Padha baè terpaksanya, Rom!
Ya sudah kalau begitu jangan mencontoh saya, tetapi silakan camkan kata-kata Gregorius Agung nan suci itu (yang sebetulnya ya mirip dengan teks bacaan hari ini): orang yang sungguh-sungguh mencintai Allah, menaati perintah-perintah-Nya dan Allah masuk ke dalam hatinya dan tinggal di sana; karena cinta Allah itu memenuhi hatinya, pada saat godaan tiba pun ia bergeming. Begitulah orang yang sungguh mencintai Allah, kesenangan sesaat tak membuatnya berubah pikiran.

Karena itu, barangkali Anda bisa menghibur Tuhan, kalau Dia butuh hiburan: It’s not hard to find someone who tells you they love you, it’s hard to find someone who actually means it.

Ya Allah, tambahkanlah semata cinta kami kepada-Mu. Amin.


SENIN PASKA V
Hari Kebangkitan Nasional
20 Mei 2019

Kis 14,5-18
Yoh 14,21-26

Posting 2018: Best way to find love
Posting 2017: Sendiri, Siapa Takut?

Posting 2015: Listening to The Spirit

Posting 2014: Yesus Jadi Berhala

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s