Mengalah?

Yang kerap jadi biang konflik adalah cara sesuatu dihadapi daripada halnya sendiri. Dua orang bisa sama-sama suka spaghetti carbonara [sepertinya saya lagi ngidam makanan pada tautan ini], tetapi keduanya bisa saja bertengkar karena yang satu menambahkan saus (sambal) ke dalamnya. Ini pengalaman saya sewaktu ditertawakan orang di Roma karena menambahkan saus ke sajian spaghetti carbonara itu. Semula saya tak mengerti mengapa ditertawakan. Bukankah de gustibus non disputandum alias soal selera tak bisa diperdebatkan? Lama-kelamaan saya berpikir bahwa itu ‘melukai’ cara orang sana mengapresiasi makanan.

Saya luput dengan praktik azas dan dasar. Kalau saya maunya pedas (tujuan), semestinya saya menambahkan bubuk cabe (sarana) ke spaghetti carbonara. Nah, kalau saya maunya saus tomat, jelaslah pilihannya spaghetti al pomodoro alias mi saus tomat! Kalau mau sensasi pedas ya tambahkan saja bubuk cabe ke spaghetti al pomodoro itu.
Lha, kalau maunya saus sambal, Rom?
Ya buka tutup botolnya, lalu tuangkan saja saus sambalnya langsung ke mulut😂😂😂.
Memberi tomat pedas ke dalam spaghetti carbonara merusak identitasnya!

Dalam ilmu filsafat dikenal objek material dan objek formal. Eh, eh, eh, maaf, gak jadi, ini bukan blog filsafat. Dalam keyakinan umat beragama, dikenal suatu instansi yang disebut Tuhan. Semuanya ya menyembah Tuhan, tetapi jebulnya caranya berbeda-beda; dan cara inilah yang bikin gontok-gontokan di sana sini. Teks bacaan hari ini memuat hukum yang sebenarnya di mana-mana ya begitu: golden rule. Akan tetapi, begitu sampai pada penerapannya, cara yang satu bisa bersinggungan dengan cara yang lain dan kalau pihak-pihak yang terlibat di situ ngotot dengan caranya ya bisa terjadi perang bubat. Hal yang sama terjadi pada pasangan suami istri. Dua-duanya (sekurang-kurangnya secara teoretis) mestilah sama-sama cinta. Akan tetapi, cara mencinta itu bisa beda-beda dan perang hidup-mati bisa terjadi kalau keduanya ngotot dengan cara masing-masing. Mesti ada yang mengalah supaya dua-duanya menemukan cara (baru) untuk merengkuh cinta (tujuan) sesungguhnya.

Sampai di situ, pokok persoalannya bukan lagi menang-kalah, sebagaimana saya tidak merasa kalah oleh cara orang Itali mengapresiasi spaghetti carbonara (dengan tidak menambahkan saus sambal), malah saya belajar menghargai proses membangun identitas spaghetti carbonara itu. Dalam teks bacaan pertama, meski Abraham dan Lot sama-sama mencintai Tuhan dengan seluruh kelimpahan harta, akhirnya mereka mesti memilih wilayah tinggal dan berpisah. Paralel dengan itu, meskipun semua agama mengklaim mengundang umatnya untuk mencintai Allah dan sesama, mesti ada cara yang berbeda.

Guru dari Nazareth menawarkan cara yang berbeda: sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya. Orang Kristen menyebutnya jalan salib, tetapi jalan salib juga tidak bisa direduksi dengan satu cara atau agama tertentu. Masing-masing orang akhirnya mesti merefleksikan apakah cara yang ditempuhnya itu memang suatu jalan salib (jangan-jangan cuma label dan ritual). Repotnya, tolok ukur penilaiannya akhirnya kembali pada kejujuran terhadap diri sendiri: apakah cara itu sungguh mengantarnya pada kultur kehidupan atau kematian.

Ya Allah, mohon rahmat kesetiaan untuk memanggul jalan salib yang memberi kehidupan. Amin.


Selasa Biasa XII C/1
25 Juni 2019

Kej 13,2.5-18
Mat 7,6.12-14

Selasa Biasa XII B/2 2018: Kejelekan Orang Baik
Selasa Biasa XII A/1 2017: Aku Yang Lain
Selasa Biasa XII C/2 2016: Puasa Maksimal

Selasa Biasa XII B/1 2015: Biarkan Babinya Tidur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s