Mukjizat Biasa

Dulu saya mengira kejadian yang menimpa keluarga Zakharia-Elisabet adalah mukjizat dari Allah. Sekarang ya masih sih, tapi pengertiannya berbeda. Konon, Elisabet akhirnya hamil di usia tuanya. Ini mukjizat, tetapi bukan extraordinaria alias luar biasa sifatnya. Ini mukjizat sehari-hari seperti dilakukan Allah saat membiarkan oksigen masuk melalui hidung. Ini berbeda dari mukjizat pada Bunda Maria: tidak ada sexual intercourse tapi bisa hamil. Tentu saja, itu bisa jadi tidak lagi luar biasa, cuma limited edition, karena sudah ada teknik IVF.

Ceritanya Zakharia itu termasuk salah satu imam untuk pelayanan ritual di Bait Allah. Kalau saya tak salah dengar, ada dua puluh empat kelompok shift dalam setahun dan masing-masing imam itu akan terjatah seminggu dalam satu semester. Ha njuk puluhan minggu dalam setahun itu mereka ngapain ya? Ya bergantung bisnis mereka toh, mungkin ada yang ngarit, ada yang jadi tukang bangunan, petani, usaha transportasi, dan sebagainya. Pokoknya, Zakharia ini ya mestinya lebih banyak menghabiskan waktunya untuk hidup biasa daripada hidup sebagai imam di Bait Allah. Nah, hidup biasa itulah yang mengantarnya pada mukjizat biasa tadi: istrinya, Elisabet, mengandung malah setelah tua.

Pada zaman jebot itu, orang married tak berketurunan dianggap terkutuk. Wajarlah Zakhari-Elisabet memohon-mohon kepada Allah supaya kutukannya dicabut. Nah, apakah mereka memohon-mohon doang? Tentu memohon-mohon itu juga diwujudkan dalam usaha dong! Puluhan minggu setahun hidup sebagai suami istri ya gak mungkin cuma pelotot-pelototan, kan?
Nah, justru di situlah mukjizat luar biasanya, Rom. Setelah ratusan bahkan mungkin ribuan minggu mereka usaha, tak kunjung juga punya momongan. Baru setelah Elisabet tua, malah dapat momongan. Bukankah ini mukjizat luar biasa?

Itulah yang tadi saya katakan di awal: sekarang saya menangkapnya sebagai mukjizat biasa. Kenapa? Karena dalam rangkaian teks bacaan hari ini tak dibahas soal ketidakmungkinan Elisabet untuk hamil. Cuma dikatakan usianya lanjut. Lha usia lanjut zaman itu apa sama dengan usia lanjut zaman now yang tingkat life expectancynya lebih tinggi? Saya kira sih beda. Artinya, yang dulu dianggap lanjut, bisa jadi sebetulnya ya cuma 40 tahun. Alhasil, Elisabet bolehlah usianya lanjut, tapi tetap masih mungkin mengandung lewat peristiwa biasa aja, tidak seperti yang dialami Bunda Maria. Tak mengherankan juga bahwa ketidakpercayaan Zakharia berakibat fatal: lha wong terhadap mukjizat biasa aja gak percaya! Tapi sudahlah, itu kan cuma buah doa saya.

Yang inspiratif menurut saya justru makna tiga nama dalam teks bacaan hari ini: Zakharia, Elisabet, dan Yohanes. Zakharia berarti semoga Allah senantiasa diingat. Elisabet bermakna Allah telah bersumpah (dan tentunya bukan sumpah paljing). Yohanes berarti Allah telah menunjukkan belas kasih-Nya. Dengan begitu, semoga hidup orang beriman menjadi reminder bagi janji Allah untuk melimpahkan belas kasih-Nya. Ini malah klop dengan inspirasi perayaan Tubuh dan Darah kemarin: semoga orang beriman senantiasa berikhtiar melumrahkan mukjizat extraordinaria, bukan dengan menunggu terjadinya mukjizat luar biasa nan spektakuler itu, melainkan dengan merealisasikan janji Allah untuk menyatakan belas kasih-Nya dalam hidup yang serba biasa saja. Amin.


HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS
(Senin Biasa XII C/1)
24 Juni 2019

Yes 49,1-6
Kis 13,22-26

Luk 1,57-66.80

Posting 2018: Memeluk Hening
Posting 2017: Apa Arti Namamu

Posting 2016: Hidupku Proyek-Mu, Hidup-Mu Proyekku
 
Posting 2015: Pintu Teater Telah Dibuka

Posting 2014: Bersyukur Itu Gak Gampang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s