Pencinta Seragam

Hari ini saya terima dua kabar yang bertolak belakang: yang satu surat edaran kepala sekolah mengenai seragam wajib keagamaan di sekolah negeri (konon surat edaran itu sudah diminta DPRD untuk ditarik), yang lainnya sharing orang yang melepaskan dirinya dari seragam keagamaan itu. Maka saya memodifikasi teks bacaan hari ini: BUKAN DARI SERAGAMnyalah kamu akan mengenal mereka. 

Tak usahlah Anda jadi anggota dinas intelijen untuk memahaminya. Cukup dengan membiasakan diri menonton film semacam Mission Impossible, Anda akan tahu bahwa seragam itu ambigu, kalau bukan ambivalen. Ambigu bikin ragu. Ambivalen bikin lalèn (mudah lupa), lupa bahwa hidup orang bisa memuat kontradiksi dalam dirinya sendiri. Maunya hidup saleh, ternyata gerak-gerik ritualnya saja yang kalem. Maunya hidup suci, jebulnya pakaiannya doang yang suci. Maunya gagah perkasa, ternyata pakaiannya saja yang tampak pothok alias kekar.

Dulu saya tidak suka pernyataan bahwa agama itu agêman (bahasa Jawa: pakaian) karena tidak srêg dengan kutu loncat: bisa gonta-ganti bergantung pada mangsanya ada di agama mana! Meskipun lantang mengatakan pindah agama bukan karena cari mangsa (kemudahan, kelancaran, pasangan), sifat ambivalen dalam hati kecilnya belum tentu absen dari perkataannya. ‘Agama adalah agêman‘ rupanya bisa dimengerti secara lain: tempat orang bersembunyi atau menutupi ‘aurat’. Artinya, dari agama orang cuma bisa mengenal ritualnya, teks sucinya, ajarannya, pemuka agamanya, dan seterusnya, tetapi tidak dalêmannya. Dalam arti itu saya sepakat bahwa memang agama adalah agêman.

Tak mengherankan Guru dari Nazareth itu mengatakan ‘dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka’. Apapun agêmannya, kalau dalamnya kecut ya tetaplah kecut. Apapun agamanya, kalau orangnya busuk ya buahnya busuk.
Loh, Rom, agama justru dibutuhkan untuk membuat orangnya gak busuk sehingga buahnya juga gak busuk!
Nah, itulah salah satu contoh pikiran busuk.😂😂😂
Tidak ada agama yang menjamin bahwa orang busuk jadi gak busuk! Agama itu hanya memberi conditionings, dan, supaya saya tidak terkesan kasar, saya kenakan pakaian santunnya: agama hanya memberi necessary conditions, syarat-syarat yang dibutuhkan, supaya buahnya tidak busuk. 
Nah, perkara orangnya memanfaatkan necessary conditions itu atau tidak, itu ada di luar jangkauan agama. Hanya hidayah yang bisa menjangkaunya.
Loh, bukannya konsep hidayah itu adanya dalam agama, Rom?
Iya betul, konsepnya, agêmannya, tetapi isinya ada dalam relasi personal orang dengan Allahnya sendiri.

Setiap orang punya kadar potensi kenabian dalam dirinya, tetapi sedikit saja orang yang mengaktualkannya: karena kebanyakan orang lebih mementingkan seragam. Semakin banyak yang pakai seragam anu, semakin joss! Lalu media memblow up ‘ini artis yang dulunya pakai seragam anu sekarang pakai seragam ini’, dan berita itu (tidak) menyenangkan hati para pencinta seragam.😂😂😂 Manusia oh manusia!
Nabi tak punya seragam sebagai penanda identitas keagamaan tertentu. Satu-satunya seragam yang dimiliki Nabi adalah kesederhanaan hidup, kalau bukan zuhud alias hidup asketis menjauhi sifat-sifat keduniawian. Maka, sewajarnya orang beriman meneladan para Nabi yang demikian itu, bukan malah mengaktualkan kenabian dengan seragam-seragam palsu dalam dirinya.

Tuhan, bukalah hati kami untuk semakin mencintai-Mu dalam kesederhanaan hidup tanpa memaksakannya kepada umat-Mu yang lain. Amin.


RABU BIASA XII C/1
26 Juni 2019

Kej 15,1-12.17-18
Mat 7,15-20

Rabu Biasa XII B/2 2018: Siapa Menang?
Rabu Biasa XII A/1 2017: Walk Out
Rabu Biasa XII C/2 2016: Mau Jus Valak?

Rabu Biasa XII A/2 2014: Cara Bongkar Topeng Hipokrit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s