Ilusi Cinta

Kalau mau lucu-lucuan silakan buka link Youtube di bawah ini, kalau mau skip, sumonggo.

Jadi lucu-lucuan aja kalau nada yang keluar dari mulut tak sinkron dengan melodi aslinya. Akan tetapi, kalau agama dan kehidupan gak sinkron, ini bukan lucu-lucuan lagi. Pada dinding medsos saya muncul beberapa foto dan meme mengenai anak-anak berseragam ninja di kompleks sekolah, tangga berkelamin, dan lain-lain yang menunjukkan sebaran praktik politik identitas di negeri ini. Ini memprihatinkan dan menyedihkan karena saya tak mampu berbuat sesuatu selain berkata-kata.

Orang-orang yang terus menerus berkata-kata atau bahkan berkoar-koar mengenai bela agama atau bela Allah bisa jadi justru mereka yang tak bisa menerjemahkan relasi autentik mereka dengan Allah atau agama dalam hidup konkret. Dengan kata lain, mereka menggunakan agama tanpa mengerti substansi agamanya itu sehingga memelihara ilusi cinta dan kerja bagi Allah tetapi pada momen perjumpaan dengan Allah, baru tahu bahwa ternyata mereka tak mengenal-Nya.

Dua perumpamaan mengenai rumah di atas padas dan rumah di atas pasir mengilustrasikan kontradiksi kehidupan itu. Penulis teks bacaan hari ini rupanya hendak mengoreksi keterpisahan iman dan hidup, omongan dan tindakan, ajaran dan praktik.
Menariknya, mereka yang berkoar-koar bela agama dan bela Allah itu justru berpikir sedang menyambungkan iman dan hidup, omongan dan tindakan, ajaran dan praktik! Njuk di mana kelirunya je? Apa salah saya kalau bikin aturan sesuai dengan ajaran agama?

Mari lihat teksnya baik-baik. Teks ini senantiasa mengingatkan saya pada cerpen A.A. Navis Robohnya Surau Kami itu. Dikatakan begini: Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku “Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga?”. Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata,”Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

Mengenai terjemahan ἀνομίαν (Mat 7,23) jadi kejahatan, saya embohlah, tetapi dalam bahasa Inggrisnya berbunyi iniquity yang dekat sekali dengan inequity yang bisa dipahami sebagai ketidaksesuaian dengan hukum, yang tentunya mengusahakan keadilan. Kalau orang mengabaikan hukum, ia mengabaikan ikhtiar untuk berbuat adil. Kalau hukumnya tak adil? Ya dikoreksi dong!
Nah, begitulah, Bang. Orang beragama boleh saja berkoar-koar bela agama atau bahkan bela Allah, tetapi itu hanya make sense kalau perbuatannya klop dengan ikhtiar keadilan. Nah, kalo Abang memaksakan seragam yang identik dengan sekelompok agama tertentu di sekolah umum, itu namanya Abang melanggar prinsip keadilan sosial. Mana mungkin agama, apalagi Allah, mau melanggar prinsip keadilan sosial?

Gak selesai di situ. Abang bisa aja bikin partai Penggerak Keadilan Sosial. Terus terang saja, Bang, daripada nanti terlambat omongnya setelah Abang ketemu Allah di zaman akhir, mending sekarang saya bilang: yang penting bukan klaim atau atribut atau label partai, melainkan apakah Abang jadi pelaksana Sabda Keadilan Sosial, gituloh. Jangan omong keadilan sosial kalau praktik Abang itu diskriminatif. Begitu juga omong cinta (kasih) tanpa keadilan sosial: ilusi.

Tuhan, ajarilah kami jadi pelaksana keadilan-Mu. Amin.


KAMIS MASA BIASA XII C/1
27 Juni 2019

Kej 16,1-12.15-16
Mat 7,21-29

Kamis Biasa XII B/2 2018: Orang Pintar Minum Apa
Kamis Biasa XII C/2 2016: Rahmat Murahan
Kamis Biasa XII B/1 2015: Beriman Ada Ujiannya
Kamis Biasa XII A/2 2014: Doa Ritual Saja tak Cukup…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s