Sapi Mengeluh

Sewaktu SD saya belajar mengenal kata tentang bunyi binatang dan tahulah saya bahwa ‘guk guk guk’ menggonggong dan ‘moooooh’ mengeluh.
Weh, sapi melenguh, Rom, bukannya mengeluh! 
Oh iya ding, sapi berbunyi ‘moooooh’ ketika dia tak bekerja, sedangkan manusia bilang ‘moooooh’ justru pada saat kerja.😂😂😂  Maka memang perlu dibedakan: untuk sapi namanya melenguh, untuk manusia namanya mengeluh. #halah

Teks bacaan pertama hari ini menarasikan proses awal bangsa Israel mengeluh. Setelah keluar dari penindasan di Mesir dan hidup mengembara di gurun, mereka takut bagaimana mereka bisa makan di gurun. Setelah ada manna sebagai ‘roti dari langit’ pun mereka mulai bosan. Minta daging. Allah murka, dan Musa melihat dirinya terbebani oleh tugasnya untuk menyediakan daging bagi mereka. Ia tak sanggup melakukannya, dan kelak Allah menurunkan begitu banyak burung puyuh yang bisa dipungut bangsa Israel untuk makanan mereka, tetapi sebagian dari mereka kena tulah karena kerakusan untuk menyimpan daging itu.

Lha wong menyimpan daging untuk persediaan aja kok ya malah diberi tulah sih, Rom? Kenapa juga Allah mesti murka?
Karena penyimpanannya lebay, seakan-akan mereka tak percaya bahwa ke depan Allah bisa bertindak.

Bacaan kedua punya kemiripan cerita. Para murid maunya menyuruh orang banyak yang mengikuti mereka itu pergi untuk membeli makan bagi mereka sendiri. Kenapa? Karena para murid sendiri tak merasa sanggup bisa menanggung beban untuk memberi makan sebegitu banyak orang hanya dengan modal lima roti dan dua ikan, padahal di sana ada lebih dari lima ribu mulut dan perut orang.
Para murid ini lebay juga karena menganggap seakan-akan Guru dari Nazareth meminta mereka menyihir lima roti dan dua ikan itu jadi berlipat ganda sejumlah mulut dan perut yang ada di hadapan mereka. Padahal, mandat Guru mereka kira-kira berbunyi: bukan mereka yang mesti pergi membeli makanan, melainkan kalian yang mesti memberikan sesuatu supaya mereka bisa makan.

Saya tidak tahu bagaimana lima roti dan dua ikan itu jadi berlipat ganda, dan tidak kepo juga, tetapi mandat Guru itu lebih mengiang di kepala saya: ini bukan soal apa yang mereka perbuat, melainkan soal apa yang kamu lakukan, apa yang kamu berikan sehingga kemungkinan orang banyak itu makan jadi kenyataan. Yang mereka lakukan ialah memberikan lima roti dan dua ikan itu kepada Guru mereka dan Sang Guru menengadah ke langit, tempat dari mana datangnya manna dalam teks bacaan pertama itu, mengucap berkat dan membagi-bagikannya kepada para murid, dan para murid membagikannya kepada orang banyak supaya bisa makan.

Dengan demikian, poinnya bukan bagaimana terjadi mukjizat penggandaan roti, melainkan bagaimana setiap orang beriman diundang untuk mengucap berkat, yang tak lain daripada bersyukur, supaya apa pun yang ada padanya sungguh jadi berkat bagi banyak orang. Barangkali disposisi ini malah dimiliki sapi yang melenguh manakala nganggur dan saat bekerja tak pernah mengeluh. Andai saja manusia begitu…

Tuhan, mohon rahmat kesadaran untuk senantiasa hidup di hadirat-Mu dalam suka dan duka, untung dan malang, sehat dan sakit. Amin.


SENIN BIASA XVIII C/1
5 Agustus 2019

Bil 11,4b-15
Mat 14,13-21

Senin Biasa XVIII A/1 2017: Warga Dunia Baru
Senin Biasa XVIII C/2 2016: Ayo Kabur

Senin Biasa XVIII B/1 2015: Bagi-bagi Dong
Senin Biasa XVIII A/2 2014: Bukan Soal Multitasking Brow

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s