Korupsi Ziarah

Kemarin saya singgung judul buku Muslim Tanpa Masjid, yang mungkin cukup mengejutkan. Hari ini saya teringat pada teks diskursus mendalam antara Guru dari Nazareth dan seorang perempuan Samaria di sumur Yakub (Yoh 4,5-43). Sang Guru bilang bahwa tiba saatnya orang beribadah menyembah Allah bukan di sini atau di sana, melainkan dalam Roh dan Kebenaran (Yoh 4,23). Dua kata depan itu menunjukkan dua hal yang berbeda. Yang pertama merujuk pada lokasi eksternal, sedangkan yang kedua pada lokasi internal.
Tapi kata ‘di’ juga bisa dipakai untuk menujuk pada lokasi internal toh, Rom?
Maksudnya?
Ya ‘di hatimu’ contohnya.

Okelah, tapi poinnya tentu bukan kata depannya, melainkan kenyataan eksternal dan internalnya.

Baik Muslim Tanpa Masjid maupun “menyembah Allah dalam Roh dan Kebenaran” itu sama-sama menunjuk pada kebaruan cara beragama, yang, sayangnya, bisa jadi tak menyukakan banyak orang beragama. Lha iyalah, Rom, dengan begitu njuk orang beragama bisa mengklaim berdoa bisa di mana saja gitu, kan? Alhasil, ngapain orang ke gereja, ke masjid, ke candi, dan seterusnya. Lama-lama, gak ada lagi kolekte, duit persembahan, dan tak ada duit untuk maintenance bangunan megah tempat ibadat…

Begitulah cara berpikir dengan patokan kenyataan eksternal, dan itu mungkin dipakai kebanyakan pemangku kepentingan agama. Mari pikir deh, berapa duit yang diperoleh negara tempat ziarah itu. Gak cuma sejuta dua juta loh.😂😂😂 Lha kenapa kok isa-isanya cuma gara-gara tempat hidup Guru dari Nazareth njuk orang seluruh dunia terdorong atau didorong ke sana? Seandainya dua ratus juta orang saja yang ke sana, dan dari per capita diperoleh sejuta saja, berapa nol di belakang angka dua? Powerful, bukan? Iya, dan power tends to corrupt, dan power tidak pandang agama. Ziarah pun bisa dikorupsi karena orang beragama telanjur lekat pada kenyataan eksternal.

Yang membuat power tidak jadi korup ialah ketika orang mengindahkan kenyataan internal, dan itu tidak lagi bicara soal lokasi eksternal. Lokasi eksternal jadi relatif. Saya sama sekali tidak melarang ziarah atau orang beribadat di tempat ibadat. Lha iyalah, wong berdoa di luar tempat ibadat aja gak dilarang kok mosok berdoa di tempat ibadat malah dilarang! Wong berziarah di luar tempat ziarah aja bisa kok mosok malah berziarah ke tempat-tempat ziarah dilarang!

Kepentingan saya cuma menunjukkan bahwa dari teks bacaan hari ini saya bersepakat dengan cara berpikir baru seperti disodorkan Kuntowijoyo dalam kumpulan esai Muslim Tanpa Masjid itu. Ini bukan soal menolak lokasi eksternal, melainkan soal senantiasa éling lokasi internal. Tidak ada artinya orang ribut dengan lokasi eksternal jika landasannya sama-sama eksternal: kuantitas, duit, mayoritas, power. Kalau orang sungguh mau beragama, ia justru pertama-tama menggumuli lokasi internalnya: kualitas otoritas dalam hatinya. Semakin otoritas hatinya berkualitas, semakin ia mengerti relevansi lokasi eksternal sebagai pilihan jalan, dan orang beriman tak akan berhenti setengah jalan, bukan karena ia terlekat pada jalan itu, melainkan karena tertarik pada gravitasi ujung jalannya.

Ya Allah, bukalah hati kami supaya senantiasa tertarik pada cinta-Mu dalam suka duka hidup kami. Amin.


JUMAT BIASA XXII C/1
6 September 2019

Kol 1,15-20
Luk 5,33-39

Jumat Biasa XXII B/2 2018: Agama Usang?
Jumat Biasa XXII C/2 2016: Kangen
Jumat Biasa XXII B/1 2015: Iman Sadis
Jumat Biasa XXII A/2 2014: Tobat Tulus vs Akal Bulus

3 replies

  1. Hari ini tulisan Rm mengkritisi casing kita dlm menjalani iman vs isi dalam hati kita ya. Dan dr link ke baca2an lalu, ikutan baca lagi ttg pembedaan2 roh, discernment yg berguna banget utk kontemplasi pribadi. Sayang deh materi lengkapnya ternyata restricted ya Mo hny khusus utk retret. Pdhl ada bbrp buku Rm Paul Suparno yg kayaknya beredar bebas di toko buku rohani/Gramed (pernah beli). Tapi alinea akhir renungan Rm yg catchy, membuat hati mendadak melow, ujung jalan: end of the journey😓 Gak takut2 amat sih abis kl udah saatnya mana bisa nolak, paling berusaha siap2 menghadapi saatnya, kayak iklan coca cola: kapan saja dimana saja. Happy near end of Friday Mo Andre🙏

    Like

  2. Ada baca deh, itu ada di tulisan Rm ttg Pedoman Satu dan Dua, yg katanya buku hijau buat retret. Rangkuman (singkat) garis besar yg Pedoman Satu dan Dua tsb kelihatan menarik sekali utk membantu kehidupan kontemplatif kita. Didoain deh semoga suatu saat Rm sempat lengkapi 😊God Bless🙏

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s