Surprise

Saya lupa apakah pernah saya ceritakan bagaimana orang terpingkal-pingkal melihat ibu saya yang kaget setengah mati sampai melompat dan hampir menyundul papan reklame (sudah terlalu lebay belum ya?) karena di belakangnya ada mobil yang suaranya memang nyaris tak terdengar dan tiba-tiba begitu tepat di belakang kami klaksonnya berbunyi. Saya tak terkejut karena saya sudah tahu di belakang ada sedan mendekat dari belakang. Syukurlah, ibu saya tertawa setelah itu. Kalau dia sampai marah, bisa-bisa saya berubah jadi Gundala.

Perubahan dalam hidup rupanya bisa juga terjadi atau bahkan mempersyaratkan adanya keterkejutan itu. Kalau beberapa hari lalu saya singgung keterperangahan, maksudnya ya itu. Kurang lebih begitulah: orang perlu terperangah, terkejut, kaget, shock sebelum terjadi perubahan dalam hidupnya. Tentu ini bukan jenis keterkejutan yang menyentuh detak jantung, meskipun bisa jadi melibatkan jantung juga.

Kisah teks bacaan hari ini menunjukkan dinamika itu. Sebelum pada akhir dikatakan Simon Petrus dan kawan-kawannya meninggalkan segala-galanya dan mengikuti Guru dari Nazareth, ada proses yang mendahuluinya. Pertama-tama Petrus mendengarkan wacana Guru dari Nazareth kepada orang banyak. Tidak dikisahkan di situ apa yang diajarkan Guru dari Nazareth. Pastinya hal-hal yang baiklah ya. Akan tetapi, omongan yang baik-baik saja tak cukup jadi alasan bagi orang untuk mengikuti orang yang omong itu. Lha kalo’ gitu aja bangsa Indonesia ini sudah maju sejak tahun ’45 dulu!

Pada kenyataannya, yang meninggalkan segala-galanya dan mengikuti Guru dari Nazareth memang tidak banyak. Salah satunya ya Petrus ini, yang dalam teks hari ini dikisahkan mengalami keterkejutan. Apa yang mengejutkannya? Apalagi kalau bukan hasil tangkapan ikan yang tidak masuk di akal? Sudah semalam-malaman dia dan kawan-kawannya, para ahli ikan itu, bekerja menjaring ikan seperti biasanya dan mereka tak mendapat apa-apa, tetapi setelah Guru dari Nazareth ini menyuruh mereka menebarkan jala lagi, perahu mereka malah hampir tenggelam karena kelebihan muatan tangkapan ikan itu. Keterkejutan itu, dalam salah satu kontemplasi saya, membongkar arogansi Petrus dan menggerakkannya untuk lebih jauh menghidupi dunia yang disodorkan Guru dari Nazareth itu.

Barangkali memang orang beragama tanpa surprise hanya akan tinggal sebagai umat mediocre. Imannya tak maju-maju atau dalam-dalam atau tinggi-tinggi atau apalah istilahnya. Beberapa hari lalu saya baca kumpulan tulisan Kuntowijoyo yang diberi judul Muslim tanpa Masjid. Menurut saya, judul itu menarik perhatian, mengundang tanya, dan bahkan untuk sebagian kalangan bisa membuat terkejut. Bagaimana mungkin umat Muslim hidup tanpa masjid? Di mana kemuslimannya?

Dengan pertanyaan itu saja, orang yang terkejut tadi malah terdorong untuk melakukan eksplorasi sampai akhirnya menemukan hal-hal yang hakiki bagi kemusliman. Hal yang sama berlaku untuk agama lain. Tanpa hal yang mengejutkan, orang beriman tak bergerak dari kognisi ke dimensi afektif dan volutif. Maka, hidup beragamanya ya cuma sebatas pengetahuan, yang bisa jadi dangkal, tak mendalam, mediocre tadi.

Tuhan, ajarilah kami untuk boleh mengalami surprise yang mendorong kami untuk meninggalkan segalanya dan mengikuti sabda-Mu dalam kesibukan hidup kami sehari-hari. Amin.


KAMIS BIASA XXII C/1
5 September 2019

Kol 1,9-14
Luk 5,1-11

Kamis Biasa XXII B/2 2018: Hati Yang Luka Akademis
Kamis Biasa XXII A/1 2017: Panggilan Berbasis Inkompetensi
Kamis Biasa XXII C/2 2016: Hati-hati Otak-otak

Kamis Biasa XXII B/1 2015: Baca Kitab Suci? Ngapain?
Kamis Biasa XXII A/2 2014: Jangan Takabur, Bray!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s