Ich liebe euch

Ketika membaca teks bacaan hari ini, sosok yang muncul di benak saya adalah B.J. Habibie, yang kemarin dipanggil Tuhan. Requiescat in pace. Ingatan saya tidak mengerucut pada kisahnya dengan Ainun, gula jawa yang sudah jadi gula pasir, melainkan pada peristiwa 1998 ketika beliau meneruskan kepemimpinan Soeharto. Sedikit sudah saya singgung pada posting Menanam Jagung ’98. Betul, sebagai orang terdekat pemerintahan Soeharto, Habibie tentu lekat dengan tuduhan bahwa ia ikut membangun dan menikmati rezim korup negeri ini.

Tentu saja, pikiran mahasiswa berbeda dengan apa yang dipikirkan dan dihidupi Habibie sebagai pemegang mandat pemerintahan. Barangkali Habibie terhitung sebagai sosok yang ditolak mahasiswa pada saat itu. Secara pribadi tentu mahasiswa tidak punya problem dengannya, tetapi sebagai bagian dari rezim Orde Baru kiranya Habibie mesti membuktikan diri bahwa ia menjadi bagian perubahan lebih daripada penggerogotan terstruktur oleh rezim. Saya kira, beliau berhasil, antara lain dengan memutus tradisi monopoli dan persaingan tak sehat.

Sosok Habibie, dengan demikian, bisa jadi model untuk kepribadian yang ditunjuk oleh teks Lukas pada hari ini. Kalau orang berbuat baik hanya kepada mereka yang berbuat baik kepadanya, hanjuk apa bedanya dengan orang yang tak mengenal Allah? Ich liebe dich Habibie bisa dibalas ich liebe dich oleh Ainun, tetapi panggilan yang jauh lebih besar ditanggapi Habibie adalah panggilan universal baginya. We are called to aim much higher, to have God himself as a reference point and model

Tentu saja, menjadikan Allah sebagai model hidup dan titik acuan tidak berkenaan dengan kesalehan religius individual. Kesalehan yang ditunjukkan Habibie bukan kesalehan murah yang ditebus dengan aneka macam asesoris, melainkan kesalehan sosial yang terangkum dalam orientasinya untuk membangun bangsanya sampai titik darah penghabisan. Itulah kemurahan hatinya, itulah martabatnya, yang tak bisa disuap, disogok dengan aneka bentuk gratifikasi.

Barangkali film Habibie dan Ainun bisa memberi gambaran harga diri Habibie tersebut. Dalam aneka macam badai yang dilaluinya, Habibie menunjukkan kemurahan hati, kesabarannya dengan tetap fokus pada kepentingan bangsa. Sepintas terlihat bahwa ambisi pribadi begitu tinggi, tetapi entah ambisi itu pribadi atau kelompok sifatnya, jika sinkron dengan pemuliaan martabat manusia, tentu sinkron juga dengan kemuliaan Allah.

Tuhan, mohon rahmat kerendahan hati dan tekad kuat untuk senantiasa mewujudkan pengabdian kami kepada-Mu melalui pengabdian kami kepada negeri tercinta. Amin.


KAMIS BIASA XXIII C/1
12 September 2019

Kol 3,12-17
Luk 6,27-38

Kamis Biasa XXIII B/2 2018: Main Data
Kamis Biasa XXIII B/1 2015: Hati-Mu dan Hatiku
Kamis Biasa XXIII C/2 2014:
Did You Love Enough?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s