Spiritual Disruption

Poin ini sudah saya singgung pada posting Bencilah Cinta, tetapi saya sodorkan lagi sebagai koreksi kekeliruan tafsir saya pada posting itu karena rupanya saat membaca teks tafsirnya itu saya terpengaruh oleh prasangka budaya saya sendiri. Maafkan kekhilafan saya, meskipun di situ saya ungkapkan juga keraguan saya. Dalam kultur semitik, ajakan atau nasihat untuk membenci sesuatu yang secara common sense pantas dicintai adalah anjuran supaya orang lebih mencintai sesuatu yang lainnya, yang lebih besar, yang lebih luas, yang lebih bernilai. Dalam hal ini, yang lebih besar itu adalah Kerajaan Allah. Akan tetapi, nasihat itu kiranya tetap bisa dipandang sebagai suatu disrupsi juga. Kata ini sudah ada dalam KBBI, artinya ‘tercabut dari akarnya’.

Jadi, katakanlah Anda orang Jawa yang sudah sangat terbiasa menghargai orang yang lebih tua dengan wujud sapaan ‘mas’ atau ‘mbak’ dengan segala variasinya. Lalu pergilah Anda ke luar negeri dan mengerti bahwa semua orang itu sederajat. Sepulang dari luar negeri itu Anda menyapa kerabat Anda yang lebih tua tanpa atribut ‘mas’ atau ‘mbak’ dengan segala variasinya tadi, langsung panggil nama. Itu adalah contoh disrupsi kultural. Saya tidak menganggapnya negatif atau positif karena kesederajatan tidak identik dengan menghilangkan sapaan hormat atau langsung panggil nama dan, sebaliknya, orang bisa menerapkan power relation terhadap mereka yang tak kenal sapaan hormat.

Entah sebutan apa yang cocok pada wejangan Guru dari Nazareth. Sebut saja disrupsi religius atau disrupsi spiritual. Ini langsung melayangkan asosiasi saya pada ajaran Buddha, yang tak pernah concern pada agama seseorang. Maksud saya, mengikuti ajaran Buddha ini tak mewajibkan atau mengharuskan pengikutnya untuk menanggalkan agama yang dipeluknya. Yang dijanjikannya ialah bahwa orang yang menerapkan ajaran Buddha ini memeluk agamanya sendiri dengan cara yang berbeda dari sebelumnya: lebih sadar, lebih bebas, lebih detach, lebih fokus, dan seterusnya. Ia menjalankan kewajiban agamanya juga dengan gembira, tanpa beban dan tidak menjadi beban bagi yang lainnya.

Tentu saja, janji itu tak akan terwujud kalau orang ‘tidak membenci ayah-ibunya’ dan seterusnya itu. Penghayatan agama mana pun akan jadi dangkal jika orang-orangnya tak mau mengalami disrupsi dan menganggap negatif disrupsi kerohanian seperti contoh disrupsi kultural yang tadi saya sodorkan. Orang beriman, seperti diumpamakan dalam teks bacaan hari ini, mestilah mengadakan perhitungan mengenai diri idealnya dan diri aktualnya. Perhitungan ini bisa dilakukan kalau orang mengenali skala nilai kerohanian dan mengerti betul mana yang sungguh membahagiakan jiwa dan mana yang hanya menyukakan indra (anaknya siapa ini?). Orang beriman berani mengalami disrupsi untuk menanggalkan detachment dan menyongsong kebahagiaan jiwa sejatinya.

Tuhan, berilah kami hati yang lapang untuk mengalami disrupsi iman 4.0 (atau 5.0 dst) sehingga semakin cintalah kami pada-Mu dalam segala medan. Amin.


RABU BIASA XXXI C/1
6 November 2019

Rm 13,8-10
Luk 14,25-33

Rabu Biasa XXXI B/2 2018: Master atau Admin
Rabu Biasa XXXI A/1 2017: Bencilah Cinta
Rabu Biasa XXXI B/1 2015: Agama Bebek
 

Rabu Biasa XXXI A/2 2014: Mengikuti Jejak Susi

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s