Easy Come Easy Go

Hari ini saya tidak bertele-tele seperti biasanya. Cuma mau cerita cerita yang diceritakan pencerita yang dapat cerita dari orang yang tinggal di tempat cerita ini terjadi [malah luwih bertele-tele, Rom]. Teks bacaan silakan dibaca sendiri ya; mau dibaca berdua juga boleh.

Cuma dua pokok yang mau saya bagikan. Yang pertama, easy come easy go. Makin kokoh pondasi (yang berarti juga barangkali makin lama, makin sulit, makin mahal prosesnya), makin kuat juga bangunan yang ditumpukan padanya. Tentu, penumpuannya menggunakan kaidah-kaidah teknik sipil. Yang kedua, kebijaksanaan tidak bertumpu pada yang easy come easy go itu.

Ceritanya ialah masyarakat pula di negeri tercinta ini yang hidup masyarakatnya disebut primitif. Memang tanpa listrik, tanpa komputer, tanpa internet, dan kelihatannya hidup mereka serba menderita. Akan tetapi, ternyata mereka sangat gembira dalam kebersamaan hidup mereka; ada sistem moral yang membuat warganya tidak mencuri milik orang lain bahkan meskipun peluangnya besar sekali. Yang menarik saya, mereka begitu dekat dengan alam dan untuk keperluan hidup mereka, sungguh-sungguh mereka menjaga kelestarian alam dan lebih mengherankan lagi, mereka punya model berembug bersama, sangat demokratis meskipun tunduk pada ketua masyarakat mereka.

Rupanya kebijaksanaan hidup tidak tertambat pada modernitas yang mencari kemudahan, tetapi pada wawasan luas yang menunjukkan keugaharian. Hanya orang-orang ugaharilah yang tidak akan berkoar-koar bahkan mengenai agamanya sendiri karena mereka sungguh sadar bahwa hidup mereka ditopang oleh keserasian dengan semesta. Dalam arti tertentu, mereka juga menghayati easy come easy go; apa yang secara cuma-cuma mereka peroleh dari alam, tidak mereka persulit untuk dibagikan kepada sesama.

Modernitas yang memberi kemudahan hidup, mengubah semangat hidup seperti itu. Yang secara cuma-cuma diperoleh, dipakai untuk mengeruk untung; apalagi yang diperoleh dengan susah payah, dicengkeramnya sedemikian rupa sehingga membuat orang lain buntung. 

Tuhan, ajarilah kami untuk menghargai kerja keras dan hormat pada aneka ciptaan-Mu. Amin.


KAMIS ADVEN I
5 Desember 2019

Yes 26,1-6
Mat 7,21.24-27

Posting 2018: Sebelas Juta
Posting 2017: Agama Porno

Posting 2016: Super Damai

Posting 2014: Menanti Timpukan Batu

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s