Sarana Receh

Drastic measures are not always good. Langkah-langkah drastis bin ekstrem tak selalu baik. Ini kritik Paus terhadap tafsiran salah seorang pemimpin Gereja lokal di Italia yang mengikuti lockdown Italia dengan menutup seluruh gerejanya. Bisa jadi ada momen ketika orang perlu mengambil langkah drastis, tetapi dalam kasus ini Paus rupanya tidak melihat momen ini sebagai momen yang tepat dan lockdown yang diputuskan pemerintah tak perlu ditafsirkan sebagai penutupan seluruh gereja.

Sementara itu di sini, Presiden RI menyatakan sekarang saatnya orang kerja dari rumah, belajar dari rumah, dan ibadah di rumah untuk mencegah penyebaran coronavirus. Saya sepakat, tetapi dengan alasan yang berbeda, soalnya memang sejak lama saya kerja dari rumah, belajar dari rumah, dan ibadah pun di rumah.😁 Imbauan Presiden ini tampaknya sêpélé, tetapi justru dalam hal yang sêpélé itu orang beragama malah perlu belajar menggali kedalaman hidup keagamaannya.

Tragedi, bencana, entah itu alam atau bukan, senantiasa mengundang orang untuk terus mencari juga apa yang terpenting dari agamanya; dan kalau orang beragama secara waras, ia sebetulnya bisa menemukan bahwa yang terpenting dari agamanya adalah juga yang terpenting dari agama lainnya (yang dihayati dengan kewarasan juga). Yang membedakan ialah letak keterbatasan perspektif atau paradigmanya. Maklum, lain ladang lain belalang. 

Akan tetapi, apa daya. Yang namanya orang jahat itu juga tak peduli agamanya apa karena mereka toh beragama sebagai kendaraan gelojoh kekuasaan. Kalau agama saja, yang semestinya baik, dipakai demi mengejar kekuasaan, apalagi bencana, bukan? Jujur kacang ijo aja deh. Ini bukan untuk menuduh Anda jahat, cuma untuk mawas diri: bukankah ketika seorang gabener gak bener mengelola banjir di wilayahnya njuk itu bisa jadi momen Anda untuk mengatakan “Nah gak becus kan dia menata kota? Turunkan gabener!”? Begitu pula ketika penanganan penyebaran coronavirus di negara dengan ribuan pulau ini terkesan tak seheboh penanganan di Wuhan, bukankah ini juga bisa dipakai oleh gerombolan jahat untuk menyinyirkan lokdan-lokdon?

Saya bukannya anti lockdown, tetapi ini bukan China, Amerika, Spanyol, Perancis, Italia, atau Jerman coy, yang wilayahnya sebagian besar ialah daratan dan pulaunya paling banter hanyalah beberapa ratus. Indonesia ini belasan ribu pulau, atau biar gak keliatan lebay, ribuan pulau. Bangsa mana sudah memberi contoh lockdown ribuan pulau?
Saya bukan pembela Presiden RI, tetapi sebagai warga negara yang beliau pimpin, saya percaya beliau mempertimbangkan opsi terbaik untuk konteks Indonesia, bukan asal meniru produk luar negeri.

Teks bacaan pertama hari ini mengingatkan saya bahwa true power lies not in the means, but in God. Naaman yang panas hati karena diminta melakukan hal receh untuk kesembuhannya ditegur stafnya: kalau yang sulit saja Anda tempuh demi kebaikan, mengapa tidak yang sederhana? Siapa tahu Allah memakai sarana receh?
Naaman mendengarkan nasihat stafnya, dan terjadilah: ia sembuh bukan karena lockdown, melainkan karena mengikuti perkataan nabi.

Celakanya, bisa jadi orang berlagak seperti nabi dan susah menerima pesan kenabian tanpa sarana heboh seperti di luar negeri, sebagaimana diinsinuasikan bacaan kedua.

Ya Allah, lindungilah (Presiden) kami dari yang jahat. Amin.


HARI SENIN PRAPASKA III
16 Maret 2020

2Raj 5,1-15a
Luk 4,24-30

Posting 2018: I’m Faded
Posting 2016: Gak Butuh Nabi

Posting 2015: Logika Kuasa Gak Jalan

Posting 2014: Change The Way of Thinking

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s