Drama Suci

Pada saat saya masih setinggi pohon teh-tehan (lha yang berapa meter?), drama serial TV yang senantiasa dinanti-nanti adalah Oshin, sedangkan drama radionya adalah Saur Sepuh [kalau Anda tahu judul Běndé Pusaka, Anda termasuk generasi perintis serial Saur Sepuh]. Setelah itu, ada telenovela dari Amerika Latin. Sekarang ini barangkali drama Korea dengan begitu banyak judul merupakan tontonan terpopuler. Saya belum pernah menyaksikan satu judul drakor pun dan saya bahkan tak mengerti mesti bagaimana ketika mahasiswi saya menyerukan ‘oppa saranghaeyo’. Mau bagi-bagi duit, gak punya; mau tertawa sampai berguling-guling kasihan lantainya.

Kisah dalam teks bacaan hari ini sebetulnya tak berbeda dengan kisah drama serial TV dan radio tadi. Protagonisnya mesti mengalami aneka macam konflik dan kesulitan sebelum akhirnya mencapai tujuan yang dikejarnya. Paulus selama dua tahun menjalani masa tahanan rumah karena ia mengajukan banding supaya kasusnya bisa langsung mendapat review dari pimpinan tertinggi bangsa Romawi. Guru dari Nazareth mesti menghandle murid-muridnya yang keragaman karakternya memerlukan perlakuan unik bagi setiap pribadinya. Dari Petrus diminta kesiapan dirinya untuk mengikuti Guru dari Nazareth. Dari Yohanes diminta kemampuan untuk mempersaksikan sepak terjang Guru dari Nazareth.

Lha kalau tak berbeda dengan kisah drama serial TV dan radio, kenapa cerita tentang Paulus, Petrus, dan Guru dari Nazareth itu digolongkan sebagai kisah suci? Apakah mereka itu tokoh suci alias stand up comedy Indonesia atau gimana? Apakah Oshin, Marimar, atau Kim Tak Gu itu bukan tokoh suci juga? Bukan, mereka adalah tokoh fiksi dan kesucian tidaklah fiktif. Kesucian yang tak terhubung dengan historisitas atau materialitas adalah mbèlgèdhès sak amoh-amohé gombal. Paulus dan Guru dari Nazareth bukan tokoh fiksi seperti para dewa dalam mitologi Yunani. Mereka adalah tokoh historis. 

Lha, tokoh-tokoh historis ini menghubungkan sejarah konkret dengan sesuatu yang memberdayakan mereka dalam sepak terjanganya. Sesuatu yang memberdayakan itulah yang sebetulnya jadi protagonis kehidupan sedemikian rupa sehingga entah Guru dari Nazareth, Petrus, Paulus, atau orang beriman lainnya menjalani hidup ini bukan dengan pretensi sebagai pusat dunia. Pusat dunia orang beriman adalah Allah sendiri dan karenanya protagonis kehidupan yang sesungguhnya memang Allah semata. Aktor atau aktris seperti saya dan Anda hanya bisa jadi protagonis dengan mendompleng Allah, Sang Artis dari segala artis.

Nah, gimana bisa mendompleng Allah untuk jadi protagonis kehidupan? Tentunya ada banyak cara, tetapi baiklah dilihat apa yang disampaikan Guru dari Nazareth dalam dialognya dengan Petrus. Dia bilang bahwa Petrus tak usah ribet dengan apa yang akan menimpa orang lain dalam upayanya mendompleng Allah. Mind your own business, tetapi kamu, “Ikutlah aku.”
Konon kata Søren Kierkegaard, tindakan mengikuti Guru dari Nazareth itu muncul tidak dengan modal keharusan. “The true following is born not when you say ‘you must’ follow him, but when you proclaim what he has done for you”.

Singkat cerita, drama suci orang beriman tidak pertama-tama berkenaan dengan kesalehan ritual (yang banyak harusnya), tetapi dengan buah relasi intimnya dengan Allah. Hanya orang munafiklah yang mengklaim diri beriman atau beragama tetapi tak mengerti apa yang dibuat Allah dalam dirinya. Tentu, hanya kafir yang tak mensyukuri apa yang dibuat Allah dalam hidupnya.

Tuhan, mohon rahmat Roh Kudus-Mu supaya kami semakin mampu mengerti dan mensyukuri bagaimana Engkau mendidik kami. Amin.


SABTU PASKA VII
30 Mei 2020

Kis 28,16-20.30-31
Yoh 21,20-25

Posting 2019: Mau Jadi Dokter?
Posting 2018: Naif Tiada Henti

Posting 2017: Real Juve: Jerman

Posting 2015: Keterbukaan Kreatif, Keyakinan Naif

Posting 2014: Mind your own business

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s