Call for Bapers

Mata saya sudah jenuh dengan poster Call for Papers, padahal belum pernah sekali pun saya menulis karangan untuk konferensi, atau justru karena belum pernah menulis paper untuk konferensi ya saya jadi jenuh melihatnya?😂 Entahlah, tetapi istilah itu saya pakai untuk memahami teks bacaan hari ini. Ceritanya sederhana. Seorang perwira Romawi mendatangi Guru dari Nazareth dan memohon kepadanya, tetapi, anehnya, kalimat yang diucapkannya hanyalah kalimat berita,”Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.”

Saya coba cari-cari di mana letak permohonannya, ternyata ada pada kata παρακαλῶν (parakaleó, Yunani) yang memang bisa diterjemahkan dengan call for something dan ini masih bersinggungan dengan parakletos yang sudah saya singgung pada catatan Citra Cinta bulan lalu. Akan tetapi, pun jika mesti diterjemahkan dengan kata ‘memohon’, nuansa permohonannya seperti Call for Papers tadi: take it or leave it. Dalam diri saya, Call for Papers itu tidak menggerakkan saya untuk menulis paper. Mungkin ada orang lain yang tertarik untuk menulis, tetapi bukan saya, dan panitia konferensi itu berlaku seperti perwira Romawi tadi: meskipun judulnya Call for Papers, mereka hanya mengomunikasikan apa yang (akan) terjadi, bukan merengek-rengek supaya saya menulis paper. 

Orang beriman berdoa seperti perwira Romawi dan panitia konferensi. Tidak mudah, karena menuntut kemerdekaan batin alias kebebasan bin detachment dari pihak pendoanya. Itu mengapa Guru dari Nazareth terpucow oleh jawaban perwira Romawi itu ketika ia menyatakan akan datang menyembuhkan. Cobalah bayangkan ketika situasi Anda seperti yang digambarkan dalam teks bacaan pertama: suatu kehancuran yang mengerikan, yang membuat orang tidak bisa tidak berseru atau berteriak-teriak meratap. Dalam keadaan itu, orang bisa saja sementara berseru-seru, kepalanya penuh dengan aneka macam pikiran kalut dan hatinya hanyut oleh perasaan kacau: maunya begini begitu, segera sembuh, segera kaya, segera selesai, dan sebagainya. 

Kontemplasi saya mengenai perwira Romawi ini tidak menggambarkan orang yang kalut. Ia menaruh kepercayaan kepada Guru dari Nazareth dan menurutnya, cukuplah ia beritahukan bahwa asistennya sakit dan begitu menderita. Titik. Tak ada embel-embel “Tolong dong jenguk asisten saya dan sembuhkanlah dia.” Bukan begitu. Perwira Romawi ini seperti sudah mengenal iklan: selebihnya, terserah Anda.

Ternyata, yang dilakukan Guru dari Nazareth berbeda dengan gambaran yang ditunjukkan dalam bacaan pertama: tanpa belas kasihan membiarkan kehancuran Yerusalem. Guru dari Nazareth mengolah informasi dan rupanya belas kasihannya muncul dan berniat pergi menyembuhkan asisten perwira Romawi itu. Akan tetapi, perwira itu bahkan masih dapat mengungkapkan keyakinannya, alih-alih baper dan galfok atas tanggapan Guru dari Nazareth yang ingin datang ke rumahnya. Menariknya, yang diungkapkan perwira ini dilandasi oleh kerendahhatian di hadapan sosok yang diyakininya punya kuasa: ia mengidentifikasikan dirinya sebagai hamba, yang tak pantas menerima tuannya.

Dari kerendahhatian perwira Romawi itu terkuaklah iman yang membingkai kesembuhan sebagai rahmat, dan bukannya sebagai kelayakan dirinya untuk memperoleh mukjizat. Dari kebebasan batin perwira Romawi itu terungkap iman dewasa yang meletakkan setiap jengkal hidupnya sebagai berkat Dia yang lebih berkuasa. Doa menjadi jalan komunikasi diri kepada-Nya, bukan cara manipulasi Allah.
Semoga orang beragama belajar dari perwira Romawi ini
. Amin.


SABTU BIASA XII A/2
27 Juni 2020

Rat 2,2.10-13.18-19
Mat 8,5-17

Sabtu Biasa XII B/2 2018: Dukun Quick Count
Sabtu Biasa XII C/2 2016: Long Distance Faith
Sabtu Biasa XII B/1 2015: Iman Customer Service

2 replies

  1. Parakaleo, A Comfort to My Soul
    (In Memoriam Mgr JS, SJ)

    We would ask now of death, and he said
    You would not know the secret of death,
    unless you seek it in the heart of life

    Light the candles and burn the incense around my bed
    Scatter leaves of jasmine and roses over my body
    Let me rest in the arms of slumber, for my open eyes are tired

    Sing of the past as you behold the dawn of hope in my eyes,
    For it’s magic meaning is a soft bed upon which my heart rests

    Dry your tears, my friends, and raise your heads as the flowers
    Come close and bid me farewell
    And hear the echo of His Will racing with my breath

    Let me sleep, for my soul is intoxicated with love
    Let me rest, for my spirit has had its bounty of days and nights

    Leave me then, friends,
    Leave me to God and disperse yourselves slowly,
    Go back to the joy of your dwellings

    I am in comfort; I am in peace

    Requiescat In Pace: Mgr Sunarko

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s