Tidak Harus Harus

Hari-hari ini saya ketambahan pekerjaan memeriksa rencana pembelajaran yang dibuat oleh beberapa mahasiswa calon guru agama [kalau diperlukan label: Katolik] bagi anak-anak SMP. Materinya berat, tentang pribadi yang (dulu) saya beri label “Orang Gila dari Nazareth”. Salah satu keberatan saya terhadap rencana pembelajaran itu, meskipun memakai sarana kekinian yang sangat menarik, ialah beban kognisinya yang begitu besar. Dengan begitu, pelajaran agama hanya akan jadi transfer ilmu, alih-alih jadi pedagogi orang beriman.

Seorang anak genius mungkin bisa menghafal seluruh isi Kitab Suci, ajaran pemuka agama, dokumen resmi agama, tetapi tanpa pedagogi iman itu, seluruh hafalannya tiada guna. Yang membuat hafalan itu berguna adalah internalisasi nilai dari apa yang dihafalkannya. Yang dihafalkan biasanya ialah ‘apa kata orang’ atau ‘apa kata institusi’, sedangkan internalisasi nilai lebih berkenaan dengan ‘apa kataku’. Maka dari itu, bahkan ketika orang belajar teologi atau ilmu kalam atau bagaimana itu mau disebut, ia bisa saja menguasai aneka macam pandangan dan gagasan orang lain tanpa mengambil sikap tertentu ‘apa kataku’ tadi. Ia bisa mati-matian mempertahankan “What is God” atau “Who is God”, tetapi sama sekali tak menghidupi “Who is God to me”.

Saya sama sekali tidak bermaksud menafikan pengetahuan kognitif. Itu penting juga supaya ‘apa kataku’ tadi tidak jadi sekadar selera, [kalau jadi selera, gimana orang mau berkembang, wong kriterianya cuma like-dislike?] tetapi jika pengetahuan kognitif tak disertai internalisasi nilai, bagaimana pun baiknya pengetahuan kognitif itu, hanya mencetak pribadi-pribadi yang jadi korban indoktrinasi. Dua hari lalu sudah saya singgung dengan judul Napi Merdeka. Paradoks, bukan? Sekali lagi, untuk memetik buah paradoks, orang butuh menggeser atau mengganti sudut pandangnya.

Teks bacaan hari ini menyodorkan paradoks lagi: “Kuk yang kupasang itu uenak, dan bebanku pun ringan.” Ebuset, ringan gimana, wong yang memberi kuk saja hidupnya berakhir tragis gitu?🤣 Lha ya justru itu yang perlu dipelajari: menghadapi tragedi kehidupan tanpa beban, sehingga bahkan kalau jadi napi pun, orang jadi napi yang merdeka. Salah satu indikator orang jadi napi merdeka ialah ketika ia menafikan hidup sebagai takdir, seakan-akan semuanya harus begitu, dan bergumul dengan pertanyaan sejenis “Apa yang kucari, apa yang sungguh-sungguh kuinginkan?”

Orang beriman di hadapan Tuhannya tidak terbebani dengan apa yang seharusnya, tetapi apa yang diinginkannya untuk mengalami cinta Tuhan itu dalam hidupnya. Momen kairos dalam hidup orang beriman adalah kesempatan untuk mengubah modalitas “seharusnya” menjadi “sebaiknya”, mengganti kalimat tersembunyi “aku harus” menjadi “aku ingin”. Receh sih, tetapi pada kenyataannya receh yang bejibun membuat orang stres, depresi, berhalusinasi. Apalagi kalau modalitas itu diletakkan pada orang lain: seharusnya dia begini, seharusnya mereka begitu, dan seterusnya. Runyam, kan? Lha wong Tuhan aja tak pernah memaksa setan untuk berbuat baik.

Tuhan bisa melarang orang supaya tidak bikin ini atau itu, tetapi larangan-Nya tetaplah bernuansa panggilan untuk menemukan kesejatian hidup orang, untuk berpartisipasi dalam merawat ciptaan, dan seterusnya.
Ya Allah, mohon rahmat kebebasan batin supaya kami mampu memikul beban hidup dengan hati gembira dan merdeka
. Amin.


KAMIS BIASA XV A/2
16 Juli 2020

Yes 26,7-9.12.16-19
Mat 11,28-30

Kamis Biasa XV B/2 2018: Beban Cinta 
Kamis Biasa XV C/2 2016: Yesus Tukang Pijat
Kamis Biasa XV A/2 2014: The Art of the Midwife

1 reply

  1. Romo Guru, saya ini hanya orang bodoh🤭 makanya mau bertanya,

    bla 1 apakah ini juga termasuk yang disebut self consciousness
    misalnya kita berfikir orang lain memikirkan kita, sebenarnya kita yang memikirkan kita sendiri
    (semacam halusinasi atau sumber kegelisahan)

    bila demikian bagaimana menemukan kebebasan batin atas hal hal tersebut, karena terbentur pada bla 2

    bla 2 kemampuan mengasah nurani (tentang baik buruk) dan kesadaran (diri dan sekitar) yang berbeda

    apakah bisa ber-efek pada sikap pro-sosial atau sebaliknya a-sosial

    bla 3 mengapa Guru Dari Nazareth disebut orang gila, apakah karena manusia sendiri memang tanpa kesadaran/tidak sanggup mencapai kesadaran setara Guru dari Nazareth?

    terimakasih, Romo Guru

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s