Pizza di Carne

Anda tahu maksud pizza di carne (pitza di karne) mestilah berhubungan dengan daging. Kata kuncinya adalah carne. Dari kata ini juga berasal kata inkarnasi. Dalam KBBI daring dituliskan artinya: (1) penjelmaan roh dalam wujud makhluk lain (terutama manusia); titisan, dan (2) perwujudan makhluk halus dalam bentuk yang nyata. Dalam kedua arti itu terkandung maksud bahwa yang tak kelihatan jadi kelihatan, yang tak berwujud jadi maujud, bisa ditangkap dengan indra. Padanan katanya ialah penjelmaan.

Berbeda dari reinkarnasi, kata inkarnasi adalah istilah teknis kekristenan untuk merujuk pribadi Allah yang connect dengan dunia dengan wujud manusia. Ini skandal bagi yang tak percaya. Begitu pula, bagi mereka yang tak percaya, adalah skandal besar bahwa Allah yang mahabesar itu membatasi Diri pada teks suci tertentu. Saya termasuk orang yang tak punya masalah dengan keduanya. Hidup sekali aja kok cari-cari masalah. Saya percaya, bahwa jika Allah bisa menjelma jadi manusia, Sabda-Nya pun bisa menjelma jadi teks suci tertentu. Ini perkara misteri, yang menuntut keterlibatan sikap seseorang terhadapnya.

Poin saya bukan bahwa semua agama sama saja, melainkan bahwa Allah sungguh mampu berinkarnasi dalam aneka wujud, yang tak bisa dicencang atau diikat dalam ideologi religius tertentu. Ini juga bukan untuk mengatakan bahwa ideologi religius tidak relevan, melainkan untuk menunjukkan bahwa inkarnasi Allah itu menyentuh aneka ideologi religius. Alhasil, alih-alih mempertentangkan ideologi religius yang satu dengan yang lainnya, lebih baik orang beragama belajar dari ideologi religius lainnya untuk semakin lebih baik memahami ideologi religiusnya sendiri.

Teks bacaan hari ini merujuk kata kunci inkarnasi: “Hatiku tergerak oleh belas kasih.” Inkarnasi Allah terjadi karena belas kasih-Nya kepada manusia: yang tak jelas juntrungannya, ke sana kemari mengejar ini itu yang jebulnya tak pernah klop dengan apa yang sesungguhnya hendak dicarinya. Inkarnasi itu ‘mendagingkan’ belas kasih sedemikian rupa sehingga orang tergerak dari kedalaman dirinya untuk mengambil peran dalam mewujudkan dunia yang juntrungannya lebih jelas dan orang dapat mengalami kebahagiaan yang sesungguhnya.

Inkarnasi, dengan demikian, adalah perkara bahwa orang beragama mewujudkan sifat-sifat Allah yang berbelas kasih itu dalam pikiran, kata, dan tindakannya. Masa Adven, dengan demikian, bisa jadi masa untuk berhenti sejenak melihat bagaimana inkarnasi bisa terwujud dalam hidup orang beriman. Tak bisa lagi orang menyalahkan situasi, mencela pihak lain, tetapi mawas diri, melihat peluangnya untuk membangun dunia dengan juntrungan yang lebih baik bagi sebanyak mungkin makhluk.

Tuhan, mohon rahmat supaya belas kasih-Mu sungguh nyata dalam hidup kami. Amin.


RABU ADVEN I
Pw S. Edmund Campion dkk (SJ)
2 Desember 2020

Yes 25,6-10a
Mat 15,29-37

Posting 2019: Join Kenapa?
Posting 2018: Jangan Busuk di Penjara

Posting 2017: DIY God

Posting 2015: Auto Recovery

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s